Setetes Air Yang Ingin Pulang
oleh Senja Sebatang Lilin pada 17 Agustus 2010 jam 17:11
Pukul 10:01 wib 16082010 Hari senin.
Setetes Air Yang Ingin Pulang
Jreng...jreng..jrenggg...jreng.
''aku anak tak mampu
bagai mereka itu
tapi soal bercinta....
kupunya cara tersendiri
yang lebih ternikmati
coba anda merenungi....
Sepotong lagu penyanyi legendaris indonesia D'loyd 'sepanjang lorong yang gelap' melantun akrab dari bibir dua pengamen jalanan di atas bus antar kota antar provinsi yang mulai berpenumpang sepi itu, akibat dari makin maraknya travel liar serta mudahnya cara mendapatkan kendaraan pribadi kredit oleh showroom otomotif, hingga penumpang yang biasanya menjadi langganan sudah mulai pergi keluar kota dengan kendaraan sendiri dan demikian juga dengan waktu, karena berharganya waktu pada zaman sekarang penumpang lebih memilih naik travel karena lebih cepat ketimbang bus walaupun ongkosnya lebih mahal serta resiko kecelakaanya lebih tinggi.
'demikianlah hiburan dari kami pengamen jalanan, salah dan janggal mohon dimaafkan, semoga bapak ibu selamat sampai tujuan dan hati-hati dengan barang bawaan, apapun bentuk kepedulian serta solidaritasisasi dari para penumpang akan kami terima dengan dada yang sangat lapang, semoga menjadi berkah bagi kami pengamen jalanan', kalimat ini sudah sangat lumrah didengar oleh penumpang karena hampir semua pengamen di kota ini berucap kalimat yang sama sehabis ngamen, mungkin saja mereka semua satu perguruan dan entah beberapa hari waktu yang dibutuhkan mereka untuk menghafal teks tersebut.
Setelah itu mereka pun mengeluarkan kresekan-kresekan kantong plastik yang telah usang.
Namun Sepertinya para penumpang tak begitu menghiraukan kresekan-kresekan kantong plastik dari bekas permen yang disodorkan ke para penumpang tersebut, mereka berjalan dari lorong bangku ke bangku sambil berkata 'tolonglah buk, pak, terimakasih.
Setelah selesai menyodorkan kresekan dari depan bus hingga ke belakang, mereka akhirnya duduk tersandar lemas dibangku kosong tak berpenumpang itu.
Mungkin saja ini karena dipengaruhi paceklik ekonomi, persaingan hidup hingga jiwa sosial menjadi berkurang.
Sedikit perasaan menggerutu dan kesal terlihat sudah di air wajah mereka, setelah merogoh kresekan kantong plastik itu mereka hanya menemukan beberapa koin logam.
Huuhh..., buat beli rokok aja gak dapet nih, apalagi beli nasi''keluh ijo, sambil menatap ujung-ujung jarinyo yang memanas kemerahan seusai bermain gitar tadi.
sudahlah Jo mungkin pagi ini memang segini manatauan nanti siang kita kebanjiran''hibur Ragil sambil tersenyum optimis menatap sobatnya yang satu kolong itu.
Kebanjiran apa?oli Kali Ciliwung mungkin, balas ijo sambil menatapi kaca depan bus yang menyisiri kali ciliwung....
hahahaha.., sontak gelak tawa Ragil ketika melihat sobatnya kecewa dengan pendapatan ngamen dipagi itu.
Dan para penumpang yang mendengarkan percakapan dua bocah pengamen belasan tahun Di bangku pojok belakang itu tak begitu peduli dengan ucapan-ucapannya, mungkin dihati mereka berbisik 'emang gue pikirin, itu sich DL (Derita Loe).
Duhh..., sepertinya kalo kita terus ngamen di kota ini bisa-bisa kita gak hidup Gil,''keluh ijo seperti sudah menyadari keadaan.
Jadi menurutmu Jo, apakah profesi yang harus kita lakoni biar kita terus bertahan hidup,''kata Ragil penuh semangat.
Entahlah aku masih bingung, karena kita masih lima belas tahun dan orang-orang masih memanggil kita bocah. Kalau ingin bekerja jadi karyawan ijazah gak ada, kalo mau jualan modal gak punya. Gimana kalo kita jual tampang aja Gil ke tante girang....?
Huahahahaha....''mereka tertawa serempak, membenamkan kesedihan dipagi itu.
Jo...Jo..., tante girang yang mana sih mau sama gembel kayak kita, kalo mandi aja badan merasa gak nyaman, tapi kalo gak mandi-mandi kita merasa aman,..hehehe''tawa Ragil seolah mencomoohkan idenya si'ijo.
Gil, asal kamu tahu kita berdua ini adalah keturunan blesteran. Lihatlah dan bandingkan diantara pengamen yang mangkal disini, kita ini punya body and face yang beda. mungkin juga dulunya ada pria bule yang menjadi TTM nyak kite, makanya kita ganteng - ganteng kini.,.wkwkwkwk''ijo pun menjelaskan seraya tertawa ala Facebook.
Lu yang bener-bener aja Jo, gue jadi kaget ni, tapi kalo diperhatiin-diperhatiin bener juga ya...., huahahahaha.., untuk kesekian kalinya tawa mereka meledak di bus berpenumpang sepi itu.
Seorang lelaki tua yang duduk dibangku depan tak jauh dari mereka hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala setelah menyimak apa yang menjadi perbincangan hangat mereka, cuma satu kata dalam pikiran lelaki tua itu 'kasihan' sungguh kasihan kecil-kecil udah gila, aku masih bersyukur walau sudah tua gini masih normal secara pikiran,'pikir lelaki tua itu membandingkan diri.
Sementara bus terus bergerak ke terminal terakhir untuk menurunkan penumpang di sana dan menginap satu malam lalu berangkat lagi ke kota semula menjalankan tugasnya sebagai angkutan umum.
Hoaam..., aku sebenarnya sudah lama Jo ingin berhenti dari posisi jadi pengamen yang gak punya masa depan ini, tapi setiap ku berpikir pikiranku selalu buntu Jo ''ungkap Ragil sambil melepaskan rasa kantuk dari mulutnya yang menguap beraromakan pecel lele semalam.
Husszt..! Jangan arahin kesini donk, polusi tau...! 'keluh ijo yang merasa terganggu dengan aroma yang keluar dari mulut Ragil.
Yang penting Gil habis ini kita ke pasar pagi dulu, habis itu aku mau tiduran dulu diparkiran, semalam tidur di emperan kita benar-benar jadi tumbal nyamuk, dasar nyamuk...! Gak ada teganya mencari mangsa, kalo kita terkena DBD mau diobat kemana siapa yang mau bayarin, aku tak mau berakhir seperti syukri yang terkena DBD mati gak jelas mau di anterin entah dimana kampungnya, sebenarnya syukri itu sebagian kecil dari kita orang - orang yang tak punya bumi kelahiran di negri ini,'cetus ijo sambil menghitung recehan dikantongnya untuk sarapan pagi nanti.
Akhirnya bus berhenti juga di terminal tua tak terawat yang di tungguin manusia - manusia bermental kawat, siapa yang lemah disini bisa lewat.
Ragil dan ijo pun turun bersamaan dengan penumpang lainnya, tak lupa gitar berlapis triplek itu dijinjingnya.
Mereka pun menuju sebuah warteg, Dengan sisa kekayaan ngamen kemaren mereka dapat memesan makanan di warteg mpok'inah, langganannya. Tak jarang mereka makan disini hanya membayarnya dengan tanda tangan, mpok'inah pun tak pernah keberatan kepada bocah-bocah itu ngutang, asalkan saja mereka menulis hutangnya disebuah buku bon hutang yang telah beliau sediakan, dan satu hal lagi mpok'inah sudah mengenal baik akan kejujuran mereka dalam membayar hutang semenjak ingusan.
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Mungkin sudah tak pantas lagi itu dikatakan dengan sarapan, karena waktunya sudah mendekati jam makan siang.
Sehabis makan di warteg mereka langsung menuju parkiran untuk tidur siang, parkiran adalah tempat parkirnya mobil-mobil angkutan barang sejenis truck, biasanya parkiran berlokasi di tepi-tepi kali atau dibawah-bawah jalan tol. Tak jarang tempat ini kadang-kadang menjadi lokalisasi sesaat pada malam harinya, makanya Ragil dan ijo hanya bisa tidur ditempat ini ketika siang hari saja, sebab ketika malam tiba tempat ini sudah mempunyai aktifitas yang berbeda, kadang-kadang bisa jadi di discoutik, tapi itu tergantung kebutuhan komunitas yang menunggui setiap tiang di lorong jalan tol ini.
Ragil pun mencari karton bekas buat alas tidur mereka, di sekitar itu memang banyak sisa-sisa karton bekas aktifitas semalam, ragil mencoba memilih dan membalik-balikkan karton itu sambil mengibas-ngibaskannya dan sesekali menciumnya..., huaak..! Perut ragil jadi mulas dan warteg tadi ingin bergerak lagi ke atas, tapi ragil mencoba menelannya lagi karena masih sayang menurutnya. Bekas apaan nih, .! ? ''ragil menggerutu sambil melemparkan karton itu sejauh mungkin.
Gil, kenapa kamu buang..? Karton itu masih bisa dihargai per-kilonya di tempat penampungan barang bekas, lagian karton-karton bekas itu sengaja dikumpulin oleh bocah-bocah ingusan product sini buat mengisi perut mereka juga,''terang ijto mencegah perbuatan sobatnya itu.
****
Ragil pun menghentikan perbuatannya dan menyadari akan benarnya apa yang disampaikan oleh ijo.
akhirnya ia kembali memilih beberapa helai karton bekas yang cukup bagus untuk alas tempat tidur mereka.
Setelah itu Ragil mendekati ijo yang sudah menahan rasa kantuknya semenjak tadi sambil membawa karton bekas pilihannya, lalu meletakkannya diatas aspal di bawah jalan tol itu. Bising dan hiruk pikuknya dari rutinitas kendaraan yang memanfaatkan jasa sarana jalan tol itu diatas kepala mereka yang mengakibatkan suara bisingnya berubah menjadi suara yang menderu-deru dan getaran-getaran terdengar sangat jelas dari bawah kolong, seolah-olah suara-suara bising itu telah lama terpenjara dibawah kolong. Namun sepertinya semua kebisingan tak jadi penghalang bagi ijo dan Ragil untuk menghilangkan penat dan kantuknya yang telah lama ia tahan.
Mereka pun sama-sama merebahkan diri diatas karton bekas sebagai ganti tikarnya.
Tak lama berselang mereka berdua sama-sama telah hanyut dibawa mìmpi siang bolong, mimpi yang sulit menjadi nyata.
Lagi-lagi Mereka berdua telah ditipu oleh matahari, matahari sudah berhias lembayung merah api, menandakan sore akan berganti kisah dengan senja dan malampun akan menunaikan tugasnya setelah senja yang sesaat.
Bangun...bangun,..bangun.....!, hai bujang..! ìni sudah malam, ayo pergi dari tempatku,..! ''teriak seorang wanita paruh baya sambil berkacak pinggang dan mengepulkan asap tembakau di sela-sela bibirnya yang sudah bergincu menor itu.
Apaan sih,''kata ijo kesal sambil bangun dari tempat tidurnya.
Apaan sih, apaan sih, ini sudah malam,..! Aku juga mau cari duit bujang..
Ayo segera berangkat dari tempatku, ''perintah wanita itu kepada ijo dan Ragil yang sepertinya dari tadi mereka berdua tak mengacuhkannya.
****
Dengan langkah berat dan kesal serta terkantuk-kantuk ijo dan Ragil menuruti perintah wanita bergincu menor itu, mereka langsung menuju kamar mandi sewaan. Kamar mandi ini dikelola oleh jagoan yang mangkal di parkiran ini, sekali masuk kedalam kamar mandi tersebut wajib bayar Rp.1000-, .Walaupun bayar tapi kamar mandi ini sangat membantu komunitas disini, karena ini adalah satu-satunya kamar mandi yang ada di parkiran dan dimanfaatkan oleh orang banyak yang bermukim di pemukiman transit ini. Arti pemukiman transit, komunitas disini bisa saja langsung mendadak kaya, cara mendapatkan kekayaannya berbeda-beda dan berbagai versi, lalu mereka yang sudah mapan pindah dan mencari tempat yang layak untuk melanjutkan kehidupannya.
Sesampainya dikamar mandi seperti biasanya mereka hanya memakai ilmu dua jari, mengusap kedua mata dengan kedua telunjuknya, lalu berkumur-kumur dan membasahi rambutnya. Mereka tak mau sering-sering mandi, alasannya mandi dapat membuat perut menjadi lapar, lagian kalo orang mandi itu harus bawa shampo dan sabun, sedangkan mereka tak pernah mempunyai persediaan seperti itu.
Langkahnya masih gontai keluar dari kamar mandi bagai singa yang kehilangan hutan, sambil merogoh recehan dikantong celana untuk membayar sewa kamar mandi. Uang recehan bernilai seribu rupiah itu dimasukkan kedalam kotak kaca yang telah disediakan dan disaksikan oleh penjaganya mantan preman pelabuhan Tanjung Priok, pak tua yang mulai keriput itu sedikit mengangguk menampakkan bahwa ia dulunya orang yang berwibawa, Ketika ijo dan Ragil memasukkan uang sewa kedalam kotak kaca. Lihat saja Tato-tato yang bersileweran dibadannya melambangkan kejayaan di masa mudanya, namun sekarang telah ikut mengeriput dikulit tua itu, seperti tato ular Cobra di dadanya yang sudah mengeriput sekarang sudah mirip dengan Cacing tanah, lalu tato Rajawali yang anggun dilengannya kini telah berangsur menjadi burung perkutut yang anggun, dan lihat juga di punggungnya tato Buaya hutan Amazon itu pun telah ikut mengeriput juga mirip Cicak didinding.
Didunia ini memang tidak ada yang abadi, tato dibadan manusia pun juga ikut tak abadi.
***
Jo, sekarang kita mau kemana? 'tegur Ragil yang dari kamar mandi tadi belum tahu kemana arah langkah mereka malam ini.
Aku juga tak tau,'jawab ijo linglung.
Jo, perutku dah lapar,'kata ragil sedikit berbisik dan mengeryitkan dahinya sambil memegang perutnya yang telah keroncongan.
Aku juga, perutku sudah mulai merasa kram karena gak mempan kayaknya di isi dengan warteg, tapi persediaan uang kita sudah menipis, bagaimana langkah kita selanjutnya Gil,'terang ijo yang juga merasakan hal yang sama dengan Ragil.
'Kadang aku selalu berpikir Jo setiap malamnya, tentang pekerjaan kita sebagai pengamen. Lihatlah sekarang penumpang mulai sepi dan pelit, belum lagi persaingan kita sesama pengamen yang sama-sama mencari hidup di kota ini. Sedangkan yang kita dapat hanyalah untuk pembeli sebatang rokok dan sebungkus nasi. Aku rasa kita tak akan mampu bertahan dengan kondisi seperti ini, bisa-bisa kita mati gak makan Jo,... Aku punya ide bagaimana kalo kita alih profesi nyupir aja.., 'ungkap Ragil menjelaskan keadaan yang sedang mereka hadapi dan ide barunya.
Nyupir...?ijo merasa terheran dengan ide kaget Ragil tersebut.
Ya nyupir, Ragil mencoba meyakinkan ijo.
Gak mungkin Gil, jangankan nyetir mobil, bawa sepeda motor pun kita belum bisa, 'ujar ijo sedikit membantah idenya Ragil.
Maksudku bukan nyupir membawa mobil Jo, tapi..
Lantas, 'ijo memotong pembicaraan Ragil yang mencoba menjelaskan idenya.
Ya maksudku NYUci PIRing di rumah makan padang...., oh itu toh pengertiannya...!. whahakhagkhakhagkhag..., mereka berdua tertawa terbahak-bahak, menertawakan diri masing-masing. Dan sekaligus membenamkan kram perut mereka sesaat yang dari tadi benar-benar meradang.
***
Tawa mereka sempat membuat tikus-tikus got yang berkeliaran tertegun sesaat, karena tak biasanya dua bocah itu tertawa sebahagia ini.
Tak terasa hari sudah larut malam, bulan yang menggantung kembali ditutup awan. Ragil dan ijo masih berdiskusi tentang lanjutan kehidupan.
Jadi gimana Jo, kamu setuju gak nyupir..?Ragil kembali bertanya kepada ijo meminta kepastian.
Aku setuju Gil, disamping sumatera tengah kita bakal terjamin, kita gak perlu lagi berpanas-panasan, berteriak-teriak diatas bus memetik-metik senar gitar mencari sesuap nasi. Tapi Gil, ''ijo merasa ada kerisauan yang harus ia sampaikan kepada ragil.
Tapi gimana Jo?Ragil langsung bertanya secara spontan dan berharap ijo tak menolak ide nyupir ini.
Tapi, kita kan gak punya ijazah Gil, dan identitas pun gak ada, hingga saat ini aku masih ragu Gil, apakah kita sudah terdaftar sebagai warga negara di negri ini atau belum. Kamu dan aku sama Gil, sama-sama mendapati diri sudah seperti ini saja, siapakah orang tua kita? dari mana asal kita? kampung halaman kita? hingga saat ini kita belum tahu. Dan kita pun rasanya tak akan pernah bisa mengetahui, karena sewaktu kecil kita hanya jadi oporan-oporan dari pengemis jalanan yang menfaatkan kita meminta-minta di lampu merah dangan cara menggendong pakai kain salempang di punggung dan kita pun diajak berpanas-panasan. Setelah kita baru pandai berlari, kita pun di didik untuk jadi pengemis. Syukurlah kita bisa melarikan diri dari setan cebol pengembala para gelandangan itu, kalo gak sampe sekarang kita pasti sudah menjadi pengemis senior..., atau jangan-jangan organ tubuh kita bisa di mutilasi oleh setan cebol itu. Seperti Film Anak yang memenangkan kuis Millioner dari perkampungan kumuh di india, mereka menangkapi anak-anak dan memaksanya jadi pengemis, lalu pada malam harinya anak-anak itu di mutilasi dan dibuat cacat seumur hidup, agar nantinya orang-orang semakin kasihan dan memberikan sedekah yang banyak kepada anak yang cacat, lalu pada sore harinya para pengembala gelandangan menjemput semua pengemis itu ditempat dimana mereka ia turunkan tadi pagi dan merekalah yang menikmati hasilnya. Yang sangat menyedihkan ketika seorang bocah dibangunkan pada malam hari, lalu sebelah matanya disirami dengan minyak panas, ada juga yang kakinya dipotong paksa sebelah, pokoknya anak-anak jalanan itu dibuat sangat menyedihkan, malahan ada yang dipotong lidahnya agar orang-orang yang melihat menjadi sangat kasihan mendengar suaranya. semuanya terasa sangat menyedihkan bila membayangkan film itu kepada kehidupan yang kita jalani. Syukurlah sekarang kita sudah bisa lepas dan bebas dari semua itu dan hidup mandiri walaupun hanya jadi pengamen jalanan. Kita pun sekarang sudah bisa membaca karena sering bernyanyi dan sudah bisa juga menulis serta menghitung, walaupun gara-gara keseringan membeli nomor togel dan meramal-meramal angka-angka yang bakal keluar sorenya dengan pencarian berbagai rumus, rumus yang sama-sama kita yakini bahwa rumus-rumus itu mampu menebak angka-angka yang akan dikeluarkan oleh bandar,''ijo menerangkan semuanya secara panjang lebar, hingga membuat Ragil terharu tanpa disadarinya air matanya berlinang juga, karena mendengar cerita ijo, kemudian mengingat masa lalu serta asal - usul dan masa lalu yang benar-benar Sangat suram.
***
Benar Jo, selama perjalanan hidup yang telah ditempuh belum pernah kita merasakan kebahagiaan yang selayaknya. Mungkinkah akan selalu begini Jo...., entahlah..,'Ragil mengeluh sendiri.
Malam yang awalnya hangat menjadi hening sendiri, cuma sesekali terdengar riuh sorak dari pengunjung pondok karaokean yang tak jauh dari situ, biasanya pengunjungnya terdiri dari buruh-buruh pelabuhan dan buruh kasar lainnya, tak jarang juga sopir - sopir angkutan melepaskan lelah dan menghibur diri disitu.
Gil, sepertinya sudah larut malam, sebaiknya kita mencari tempat makan, 'ucap ijo yang tiba-tiba saja memecah kesunyian.
Baiklah Jo, tapi sebaiknya kali ini kita makan dirumah makan padang aja, manatauan mereka membutuhkan karyawan buat nyuci piring,'balas Ragil sambil berdiri dari tempat duduknya dan melangkah bersama ijo mencari rumah makan.
Menurutmu Gil, kalo kita memohon saja kepada bos rumah makan meminta pekerjaan, kira-kira mereka mau menerima gak, 'tanya ijo kepada Ragil.
Tergantung, kalo kita meminta pekerjaan sebagai tukang nyuci piring biasanya mereka terima aja, karena pekerjaan nyuci piring banyak membuat karyawan tak betah, sebab tangan dan kaki yang lama-lama basah terkena air memudahkan kita terserang penyakit kulit seperti kutu air.
****
ìya juga ya, kecuali kita meminta sebagai menejernya mungkin pihak rumah makan akan langsung menggeleng, hehehe'ijo mencoba membuka tawanya.
Kalo menejer sih bukan kayak kita pendidikannya, tapi kalo tampangnya yach...., mirip-mirip kitalah......,hehehe'ragil pun tertawa kecil dan melarutkan sedihnya pada malam yang mulai dingin itu.
Tak lama mereka berjalan, akhirnya sampai juga di sebuah rumah makan padang. Sesampai disana mereka langsung memesan nasi dua piring.
Dengan penuh lahap dan sesuap dua suap nasi itu hancur didalam mulut mereka yang seperti gergaji dipabrik kayu wood forest, tak ada sepah yang tersisa. Tanpa basa-basi dan menunggu suap terakhir ijo, ragil sudah memanggil pelayan dan setengah bersorak 'uda, tambuah ciek...! Setìap kali makan di rumah makan padang, kata-kata 'tambuah ciek' sudah sangat lumrah dan bersahabat, yang mempunyai pengertian : tambah satu lagi.
Dengan tergesa-gesa pelayanan rumah mengambilkan tambuah satu lagi, tak lama berselang, tambuah itu pun ikut hanyut juga ke dalam muara perut bocah-bocah itu.
Setelah selesai makan, lalu mereka membayar pada kasirnya. Tak lupa mereka bertanya kepada kasir, siapakah pengelola rumah makan itu.
Kasir pun menunjuk seorang pria yang duduk disudut meja, yang lagi asyik dengan buku laporan keuangan rumah makan, ia terus membalik halaman perhalaman dan sesekali memencet kalkulator.
Tanpa membuang waktu lagi Ragil dan ijo langsung menemui pengelola rumah makan yang sedang asyik menghitung laporan keuangan rumah makan itu.
Bolehkah kami duduk pak,'ijo meminta izin kepada pengelola itu.
Silahkan.., ada yang bisa kami bantu,'kata pengelola itu ramah dengan tampilan wajah marketingnya.
Kami..., kami bermaksud memohon untuk bekerja disini, 'kata ijo menyampaikan maksud dengan tergagap-gagap.
Oh..., kami belum membutuhkan tambahan karyawan, tapi.., dalam satu bulan ke depan mungkin ada, karena kami akan melakukan pengembangan ke jantung kota,'pengelola itu menjawab mencoba memberikan keterangan dan masih tersenyum ramah menawan.
Tapi pak, kami hanya ingin melamar sebagai tukang cuci piring, itu pun kami sanggup tidak digaji asalkan dikasih makan,'ijo memohon seperti orang putus asa.
Ha..ha..ha.., kalian ini ada-ada saja, mana ada karyawan yang bekerja tidak digaji, dalam agama pun kita diwajibkan membayar upah dari orang-orang yang telah mengeluarkan keringat setelah bekerja,.. Baiklah, kalian diterima bekerja disini, dengan persyaratan training atau masa percobaan satu bulan, dan dalam satu bulan itu kalian hanya mendapatkan hak satu kali sarapan dan dua kali makan, dan jika pengembangan rumah makan ini tak ada halangan kalian harus bersedia untuk dipindahkan kesana, kemudian setelah bekerja disana kalian akan berhak menerima gaji, kalau sekarang kami tidak menyediakan gaji untuk tambahan karyawan, bagaimana apakah kalian setuju,..?pengelola rumah makan itu menjawab sambil memberikan keterangan panjang lebar, dan sepertinya mulai memberikan kontrak kerja pada Ragil dan ijo.
****
Ya kami bersedia pak,..! 'Jawab ijo sedikit kaget karena tak menyangka akan semudah itu diterima bekerja pada rumah makan itu.
Ragil pun sedikit terheran, kenapa kok langsung diterima aja..., atau mungkin karena wajah mereka yang ala blesteran dari pinggiran kali Ciliwung ya,'Ragil hanya bisa terkekeh dalam hati karena bahagia.
Jadi kapan kami bisa mulai bekerja pak,'tanya ijo penuh harap.
Besok boleh kalau kalian sudah siap, dan kalian boleh menginap disini dengan syarat menjunjung tinggi kejujuran.
Kami siap pak, besok pagi kami akan kembali kesini dan seterusnya menginap disini,'jawab ragil memberikan kepastian.
Baiklah kalo begitu, besok pagi kalian datang kesini. Jangan sampai kesiangan, kalo kesiangan kalian akan langsung dipecat tanpa pesangon,'pesan pengelola rumah makan itu dengan sedikit ancaman.
***
Mereka pun keluar dari rumah makan tersebut dengan membawa harapan baru, harapan yang sangat mereka rindukan, hidup dengan aturan dan hidup dengan tujuan.
Langkahnya makin melambat dan melirik kiri-kanan diantara emperan-emperan toko yang akan bisa mereka singgahi barang semalam, untuk melemparkan kantuk yang betul-betul telah menggayut dipelupuk matanya.
Akhirnya tatapan mereka terhenti disebuah toko pakaian, lantainya yang keramik berkilau dipandang rembulan.
Gil, disitu aja Gil,'kata ijo sambil menunjuk emperan toko berlantai keramik itu, yang akan menjadi tempat pelepas lelah mereka untuk semalam.
Ya,'Ucap Ragil seraya mengangguk tanda menyetujui.
Mereka pun menghampiri emperan toko itu, sedikit meniup-niup mengusir debu dilantai.
Jo, esok pagi kita jangan sampai ketiduran Jo,'ucap Ragil mengingatkan ijo yang langsung telentang dengan tangan mengembang seperti orang tak sadar diri itu.
Ya semoga saja tuhan akan mengasihani kita dan membangunkan kita pada esok harinya,'jawab ijo yang sudah mulai terkantuk dengan mata berat sambil berharap pada tuhan untuk yang pertama kalinya, tapi entah kepada tuhan yang mana.
Rasa kantuk dan capek, serta rasa bahagia dalam hati karena mereka akan meninggalkan pekerjaan sebagai pengamen yang menurut mereka semakin susah dan tak ada jaminan, telah menghantarkan mereka ke alam mimpi masing-masing.
***
Suara adzan subhuh menggema dikala menyambut fajar, memecah kebekuan akibat udara dingin semalam, suara bilal yang mengumandangkan adzan tanda panggilan shalat menyentakkan umat disekitarnya dari tidur lelap. Mesjid itu berdiri Tak berapa jauh dari emperan toko pakaian tempat kedua bocah itu melepaskan penat.
Huaaaoom...., 'ijo terbangun dan menguap membuang kantuknya.
Syukurlah aku terbangun dipagi ini, sudah sekian lama aku tak pernah bangun sepagi ini, tuhan manakah yang mendengar harapanku semalam,'bisik ijo dalam hati dan mencoba mengembalikan kestabilan badannya akibat dinginnya lantai keramik emperan toko.
Gil.., Gil..., bangun Gil, sudah pagi, nanti kita terlambat,'kata ijo sambil menggoyangkan badan Ragil yang memang tertidur pulas.
Dengan sedikit menggeliat dan meregangkan sekujur tubuhnya, Ragil langsung bangun dan duduk sejenak menenangkan kepalanya yang terasa masih puyeng.
Ayo Gil, kita cuci muka dulu di mesjid itu, lalu langsung berangkat ke Rumah makan padang itu,'ajak ijo yang memang sudah mulai semangat.
Ragil mengikuti langkah ijo dengan kondisi mata yang masih 5 watt dan jarak pandang 1 meter itu.
Tak lama berjalan mereka memasuki gerbang mesjid dan langsung menuju tempat berwudhu'. Baru saja Ragil mau memutar kran air, seorang lelaki muda menepuk pundaknya. Eh.., kalian, shalat disini ya,'sapa silelaki muda.
Gak, kami..., kami cuma mau numpang cuci muka pak,'jawab Ragil tergagap karena grogi.
Lho..., kenapa gak shalat, kan sudah sampai di mesjid,'ia kembali bertanya.
Kami belum pernah melakukannya pak,'jawab Ragil jujur.
Hmmn.., nanti bagaimana mungkin kalian bekerja dengan saya kalo tidak shalat, karena salah satu ciri-ciri orang yang jujur itu melakukan shalat,'tambah lelaki kelahiran padang itu, ia adalah tamatan Master ekonomi di negri Jiran, semenjak kecil ia sudah diasuh oleh pamannya yang pengusaha rumah makan itu. Lelaki padang itu bernama Sabri.
Tapi kami berjanji pak dalam hati alan menjunjung tinggi kejujuran,'Jawab Ragil mencoba memberi ketegasan.
Tunggu saya disini ya, Sabri langsung bergegas ke dalam mesjid karena suara Qomat tanda panggilan segera shalat telah terdengar.
Sementara ijo dan Ragil masih terpaku heran, karena tak menyangka akan bertemu pengelola rumah makan yang akan memberikan mereka pekerjaan di mesjid ini.
***
Setelah menunggu beberapa menit terdengarlah ucapan salam dari jamaah dalam mesjid tanda shalat telah selesai.
Kemudian keluarlah Sabri lelaki muda pengelola rumah makan padang dari pintu mesjid, ia hanya tersenyum melihat kedua bocah dekil yang sudah sampai dimesjid tapi tak ikut shalat. Ijo dan Ragil benar-benar belum mengerti cara menunaikan shalat, bahkan mereka belum memutuskan untuk memeluk agama manapun satu juga.
Ternyata Kalian masih menungguku, ayo ikut aku,'Sabri menyapa Ragil dan ijo yang memang menunggu sejak tadi, Lalu mereka mengikuti langkah Sabri yang menuju sebuah sedan mewah yang berwarna hitam mengkilat.
Naiklah, 'ucap Sabri membukakan pintu belakang.
Bocah itu mereka merasa sangat minder karena seumur-umurnya baru kali ini ia menaiki mobil semewah itu, biasanya ia hanya naik turun dari bis kota ke bis kota.
Mobil itupun keluar dari gerbang mesjid dan meluncur menuju rumah makan miliknya.
Kalian tahu kenapa saya langsung mau menerima kalian bekerja ditempat saya, 'ucap Sabri membuka percakapan.
Tidak tahu pak,'jawab ijo menggelengkan kepala.
Aku mau menerima kalian bekerja karena aku bisa meyakini bahwa kalian akan mampu bekerja secara disiplin dan jujur, ku harap kalian tidak mengecewakan penilainku,'ucap Sabri dan menyampaikan pengamatannya, sekaligus memberikan semangat dan kepercayaan kepada Ijo dan Ragil.
Kami merasa akan mampu pak, dan kami akan menghargai semua itu,'terang Ragil mencoba meyakinkan lagi.
Tak begitu lama dalam perjalanan karena jarak antara mesjid dan rumah makannya tak begitu jauh, akhirnya mereka sampai juga.
Nanti kalian langsung masuk dan mandi setelah itu ganti pakaian, dalam kamar karyawan ada lemari pakaian khusus karyawan, kalian boleh memilihnya yang mana suka, karena kalian hanya dibagian belakang jadi tidak perlu mengikuti jadwal baju seragam karyawan,'Sabri memberikan intruksi kepada mereka berdua.
Oh ya..., kalian wajib menginap disini, disini ada fasilitas kamar untuk karyawan,'tambah Sabri.
Dengan sedikit malu dan gugup mereka berdua mencoba memperkenalkan diri kepada karyawan lainnya, sebenarnya mereka tak perlu lagi memperkenalkan diri lagi, karena semalam sang bos sudah memeberitahu kepada karyawan yang lainnya, bahwa pada hari ini akan ada tambahan karyawan untuk mencuci piring.
Ketika air mandi pagi itu menyentuh ubun-ubun ijo, ia merasakan hal yang sangat berbeda sekali. Telah sekian lama ia tak melakukan mandi pagi, ijo merasa sangat segar dan serasa kembali hidup dari dunianya yang mati. Dahulunya ijo bertemu dengan Ragil pada saat sama-sama menjadi pemulung sampah disebuah TPA, karena mempunyai nasib dan latar belakang yang sama akhirnya mereka menjadi sahabat yang akrab. Pada waktu itu mereka masih 8 tahun, jauh lebih dekil dari sekarang, kulit mereka pun banyak dihinggapi jamur kulit, tapi lama-kelamaan jamur kulit itu gerah juga karena ijo dan Ragil selalu berpanas-panasan mencari sesuap nasi dengan mengamen.
Sambil menikmati kesegaran pagi didalam kamar mandi, ijo mencoba mengingat dirinya yang seperti orang terbuang ternyata masih berharga. Walaupun jadi tukang piring, ia merasakan akan mendapat penghidupan layak, dengan mempunyai tempat tinggal serta makanan yang layak.
Ragil keluar lebih dulu dari kamar mandi, ia pun merasa tak sabar lagi mengganti bajunya yang sudah berbulan-bulan melekat dibadannya itu. Biasanya dulu dijalanan, para Punker sejati itu akan lebih dihormati bila jarang mandi dan tak pernah ganti baju, walaupun orang disekeliling telah risih.
Kalau disini mereka tak perlu cemas lagi gonta-ganti baju, karena pemilik rumah makan telah menyiapkan pembantu khusus mencuci pakaian dan beres-beres kamar.
Bagaimana perasaanmu Jo,'sapa ragil dengan senyum cerah setelah keluar dari kamar mengenakan baju karyawan.
Aku merasa sangat berbeda hari ini,'jawab ijo tersenyum karena merasakan semangat hidup itu lagi.
***
Pagi itu mereka belum bekerja, karena belum ada pelanggan yang datang untuk makan.
Ragil dan ijo menggunakan waktu itu untuk berbasa-basi membantu karyawan yang lain bekerja menyelesaikan tugasnya. Dan mereka pun berniat untuk segera menjalin keakraban dengan semua karyawan.
Waktu sudah menunjukkan pukul 10:00 siang, satu persatu-persatu pelanggan sudah mulai berdatangan.
Mereka berdua langsung ke belakang menyuci piring, membantu 2 orang karyawan tetap rumah makan yang telah lama bekerja disitu.
Hari ini adalah hari yang benar-benar melelahkan bagi ijo dan ragil, karena sebelumnya mereka belum pernah bekerja yang begitu meneteskan keringat, kalo ngamen lebih banyak waktu luang untuk istrahatnya, tapi kalo dirumahmakan ini waktu istrahatnya cuma pada malam hari. Tapi kalau bekerja disini mereka tak perlu cemas mati tak makan.
Bagaimana, apakah kalian masih kuat untuk seterusnya,'sapa Sabri kepada mereka berdua yang tersandar di kursi menonton tv karena kelelahan.
Masih pak,'jawab Ragil sedikit agak dipaksakan, walau tadi ijo sudah mengeluh tak kuat, namun Ragil meyakinkannya bahwa ini adalah tantangan hidup yang harus dilewati.
Oh..,baguslah,'balas Sabri tersenyum puas melihat mereka berdua masih semangat, tapi Sabri yakin mereka berdua yang meminta pekerjaan kepadanya itu tak akan mengecewakannya.
***Tak terasa 3 bulan telah berlalu, ijo dan Ragil ternyata masih mampu bertahan, apalagi 2 bulan terakhir ini mereka telah mendapatkan gaji dari pekerjaan nyupirnya dirumah makan.
Sekarang pun mereka kelihatan jauh lebih bersih dan mempunyai penampilan, dibandingkan sewaktu mereka menjadi pengamen dulu. 3 bulan mereka hanya terkurung di rumah makan itu, dengan mentari pun mereka sudah jarang bertemu, mereka lebih akrab dengan malam. Sebab mereka lebih sibuk bekerja pada siang hari ketimbang pada malamnya.
Mereka pun sangat disenangi oleh karyawan lainnya, selain ramah, mereka pun rajin dan mudah bergaul.
Malam itu seperti janji Sang bos, Sabri. Akan ada pertemuan dengan semua karyawan, tentang pembagian karyawan yang akan ditempatkan pada rumah makan barunya di jantung kota. Dan ia pun sangat berharap semua keputusannya dapat diterima dengan baik oleh semua karyawannya. Sabri sebenarnya adalah orang yang demokrasi, ia sangat suka berdialog dan mendengarkan masukan-masukan dari karyawannya. ìa selalu menghargai setiap masukkan serta ide dari karyawannya mengenai usaha rumah makan itu, walaupun rata-rata karyawannya mempunyai latar belakang pendidikan yang jauh dengannya. Namun kadang-kadang ia bersifat diktator juga pada keputusannya, ketika menurut pertimbangannya itu adalah benar.
Kedatangannya telah ditunggu oleh para karyawannya semenjak jam 10 malam tadi, namun entah mengapa Sabri terlambat dari jadwal yang telah ia tentukan sendiri.
***Mobil Sabri memasuki halaman parkir rumah makan, para karyawan melongokkan kepala melihat sang bos keluar dari mobilnya.
Diantara mereka ada yang berharap pindah ke jantung kota dengan tujuan mengganti suasana dan menikmati keramaian, tapi ada juga yang ingin bertahan disini karena sudah akrab dengan pelanggan dan lingkungannya. Namun kabarnya kali ini sang bos tak mau melakukan diskusi, ia sudah punya penilaian sendiri terhadap para karyawan, sesuai dengan ucapannya beberapa hari yang lalu.
Maaf, terlalu lama menungguku,'ucap Sabri meminta maaf, karena keterlambatannya, ia memang selalu menerapkan nilai-nilai kesopanan dan etika dirumah makan itu.
Ayo mari kita kumpul, 'ajak Sabri sambil membawa sebuah map warna biru yang isinya tentang penempatan karyawannya di rumah makan baru.
Para karyawan pun berkumpul ke ruang makan yang dari tadi telah mereka siapkan dengan menyusun meja dan kursi, layaknya seperti susunan sidang pleno.
Seperti yang saya sampaikan kemaren, kali ini saya langsung menetapkan siapa saja yang akan ditempatkan pada rumah makan baru sesuai dengan penilain yang telah saya lakukan,'ucap sabri membuka pertemuan itu.
Dan saya harapkan nantinya, bagi yang tersebut namanya jangan menolak dengan alasan apapun, juga bagi yang masih tinggal disini nanti masih ada kesempatan untuk pindah kesana,'sambung Sabri lagi.
Sabri mulai menyebutkan 7 nama yang akan ia tempatkan dirumah makan barunya, diantara 7 nama itu termasuk Ragil dan ijo. Sebenarnya Ragil dan ijo tak terlalu berharap dengan pemindahan karyawan ke tempat baru, karena mereka baru merasa betah ditempat sekarang, tapi sang bos sudah memindahkannya.
Sabri pun menutupi pertemuan dengan pesan agar para karyawan yang terpanggil namanya untuk segera bersiap-siap dan berangkat besok pagi.
****
Pagi itu masih dingin, mereka telah bersiap-siap sejak tadi menunggu kedatangan sang bos, yang akan mengantarkan mereka ke rumah makan baru. Mereka berdua memang sudah sangat semangat semenjak pengumuman sang bos tadi malam, mereka juga berharap semoga ditempat baru memberikan perubahan yang baru juga bagi mereka. Ragil dan ijo sekarang benar - benar telah merasa aman dalam masalah keuangan dan ketakutan mati tak makan. Sedangkan uang gajian yang 2 bulan itu hampir utuh dalam kantongnya, sebab sebagai tukang cuci piring mereka tak punya waktu banyak untuk bermain-main. Dan kebiasaan merokok pun sudah jauh mereka kurangi, karena mencuci piring pekerjaan yang tiada hentinya, namun faktor selanjutnya karena adanya larangan merokok sewaktu bekerja dari sang bos.
Tin..,tin...tin.., klakson mobil sang bos mengaggetkan lamunan mereka masing-masing.
Dengan bergegas mereka bersama karyawan lainnya menuju mobil membawa semua persiapannya.
setelah mobil hidup dan berjalan, tinggalah rumah makan lama yang cantik dengan profil kayu itu. Dimana mereka semua memulai mencari penghidupan disitu.
***
Sang bos hanya tersenyum melihat mimik-mimik wajah karyawannya diatas mobil, ada yang merasa bahagia dengan ekspresinya tersenyum sepanjang jalan, ada yang merasa sedikit kecewa karena berat hati meninggalkan rumah makan yang lama dan kawan-kawan seperjuangan.
Tapi Sabri sang bos sudah mengerti dan paham akan kondisi awal itu.
Gimana kamu ngantuk Jo,'tegur sabri sambil bergurau dan menyindir yang lainnya mengangguk pura-pura mengantuk. padahal waktu itu ijo sangat menikmati perjalanan karena baru yang kedua kalinya naik mobil mewah, malahan lehernya mau patah melihat bangunan megah yang mereka lewati.
Dalam perjalanan Sabri mengajak anggotanya berbincang yang relaks saja dan bersenda gurau, serta meyakinkan mereka bahwa tempat baru yang akan ditempati dapat memberikan penghidupan yang lebih baik lagi.
Sang bos pun memang sangat ahli berkomunikasi, jarang sekali ia berkomunikasi itu tidak mencair dan membuat orang mendengarnya terbawa suasana.
###
Tidak ada komentar:
Posting Komentar