Singgalang, Aku Menulismu di NotesKu
Waktu itu kami masih 19 tahun, pada tanggal 16 agustus kami berencana ingin mendaki gunung singgalang dan merayakan 17 agustus dipuncaknya. Singgalang adalah gunung yang sangat indah disumatera barat dengan ketinggian sekitar 1700 m dari permukaan laut, dipuncaknya ada sebuah telaga yang besarnya sebesar lapangan bola kaki, konon kabarnya dalam telaga itu ada seekor ular naga putih yang berenang ketika matahari akan sejajar dengan bayangan tepatnya jam 12.00 siang.
Aku dan Seorang temanku yang bernama idham, kalau tidak salah namanya memang idham. ia adalah teman karibku, Dia bisa kukatakan orang yang cukup tangguh, begitu banyak terpaan dan cobaan yang datang tapi selalu ditepisnya dengan senyuman, ia juga orang yang berjiwa sosial dan bertanggung jawab, pernah kami mengadakan acara berbuka bersama yang diketuai olehnya, waktu itu hari hujan dengan lebatnya salah seorang teman alumni kami masih terkurung dirumahnya, ketika ada sms masuk ke hpnya minta dijemput tanpa basa-basa lagi idham langsung menyambar mantel yang masih basah dan menstater sepeda motornya, petir menyambar bagai irama saja baginya, kilat mengukir langit baginya bagai lampu diskotik. Setelah waktu berbuka tiba idham tak juga datang, kami pun tak bisa menunggunya karena haram juga kalau telat berbuka. Ketika takaran terakhir ke mulutku idham datang basah kuyub kedinginan, ehh...idham, baru nyampe? Yuk...langsung berbuka''sapaku berbasa-basi seadanya.
Tak kulìhat ia sewot pada waktu itu, malahan ia menjawab''aku tadi sudah berbuka dijalan dengan membacakan niat(kadang-kadang lo relìgius juga...he).
ini Aku, aku memang mengenal diriku sebagai manusia yang penuh dengan seribu rencana, sok tau dengan ramalan bintang, sering berguru sama kodok(terkejut langsung melompat), tak pernah kumenganggap segala sesuatu itu sebagai keseriusan, raut wajahku tidak akan pernah sama dengan suasana hatiku, akupun menghadapinya selalu dengan guyonan, sehingga aku selalu tampil fress seolah-olah tak ada satu masalah pun yang membuat rusuh hatiku. Kadang-kadang orang-orang disekelilingku menjadikanku tempat curhatnya...mereka pikir aku psikiater yang bisa memberikan solusi, padahal aku pecinta benda tak bergerak(bangunan gedung, jembatan, irigasi dan jalan raya)..pernah suatu malam kumenyesali nasib, oh....betapa malang nasibku, dijadikan mereka tempat curhatnya...''tersedu tanpa air mata, karena aku sudah bertekad dari kecil tak akan pernah mengalirkan air mata lagi.
Seperti yang kami rencanakan dan sepakati berdua, bahwa besok pagi tanggal 16 agustus kami akan mendaki gunung singgalang. Ahh...seperti apakah telaga dewi itu''bisikku sendiri, aku yang sudah dua kali mendaki ke singgalang itu belum pernah sampai ke puncaknya, karena cuaca yang selalu memburuk sehingga jalur pendakian jadi licin dan becek.
Keesokkan harinya aku mulai bergegas dan mempersiapkan bekal makanan karena itu memang kesepakatan kami semalam, sedangkan idham bagian perlengkapan peralatan. Sebenarnya pada waktu itu aku adalah panitia panjat pinang dikampung, tapi karena ilmu kodok semalam, terpaksa itu kutinggalkan dan menyerahkannya kepada seorang teman.
Jam sudah pukul 08:00 pagi.
Ketika kupergi kerumah idham kulihat ia sudah siap-siap juga, tapi yang jadi pertanyaanku kenapa tas kamu kok kecil?tendanya mana?....aman, aman...si'Yan sudah mendaki duluan dan ia membawa tenda nanti kita bisa berteduh ditempatnya''jawabnya lepas tanpa beban, lagian pendy juga akan menyusul kita nanti, barusan dia sms aku''ulasnya lagi.
Tak banyak tanyaku pada waktu itu, tapi aku mengambil inisiatif untuk membeli sebuah terpal hitam yang berbentuk karung biasa dipakai oleh orang jualan kaki lima, aku pun memotong terpal itu menjadi dua bagian masing-masingnya 1 meter.
Kami pun menaiki bus disimpang jagung menuju kotobaru untuk memulai pendakian, sampai dikoto baru jam 1 siang, kami pun langsung makan siang disitu.
Setelah selesai makan, kami pun segera bergegas.
Tapi pada waktu itu, idham agak sedikit tertegun. Ada apa id?sapaku, aku belum yakin kalau si'Yan mendaki ke singgalang, karena seminggu yang lewat dia bercerita mau mendaki merapi''terang idham.
Dadaku hampir saja sesak mendengarnya, karena kami tak bisa menghubunginya dipuncak gunung yang tak ada sinyalnya. Merapi adalah sebuah gunung yang masih aktif letaknya berdampingan dengan gunung singgalang, sedangkan posisi kami berada diantara kaki kedua gunung ini atau dipasar koto baru tempat kami akan memulai pendakian. Sebaiknya kita ke singgalang saja karena aku sudah pernah menakhlukan merapi, lagian sipendy kan mau menyusul kita juga''aku mencoba mengambil keputusan.
yach...Okelah. Kita langsung berangkat''ucapnya bersemangat. Waktu itu pukul 2 siang, kami pun mulai berjalan sekitar 8 km(menurutku) untuk menuju ke kaki gunung singgalang karena harus menempuh sebuah perkampungan dulu, pada waku itu panas matahari membuat ubun-ubunku minta ampun, akhirnya kami sampai dikaki gunung jam 4 sore.
id, sebaiknya telpon dulu pendy, katakan kalau kita sudah sampai ditower, karena sebentar lagi kita tidak akan mendapatkan sinyal''saranku pada waktu itu, sambil menunggu magrib ditower.
Apa..!, ''kataku terkejut setengah berteriak,
iya..sipendy diajak pacarnya mendaki ke merapi''jawab idham singkat.
Waktu ìtu cuaca masih panas tapi aku sudah merasakan dingin 14°C diatas puncak singgalang tanpa tenda. Tapi ada satu motto yang tak memudarkan semangatku 'sekali layar terkembang, biduk pantang tersurutkan'
Aku tak mau gagal untuk yang ketiga kalinya mencapai telaga dewi, selepas magrib kami pun langsung memulai pendakian, cuaca pun merinai. Aku pun menanyakan senter kepada idham, ia pun merogoh kantongnya dan mengeluarkan sebuah mancis(pemantik api) yang dibawahnya ada terdapat senter kecil. Aku yang dari tadi sudah tensin makin tensin saja, lu gimana sich?kita mendaki gunung, bukan mendaki bukit. Masak hanya dengan mancisan itu kita menerangi jalan..'ucapku setengah membentak.
Ya tadinya aku kira kamu bawa senter''jawabnya gampang.
Semalam kita kan sudah sepakat, kalau aku itu seksi konsumsinya dan kamu seksi perlengkapan''terangku tegas.
Ya...sudahlah, mari kita teruskan saja soalnya sudah nanggung, lagian kita bisa melihat petunjuk jalan dari tiang-tiang listrik yang terpasang per100 meter"tambahku, tiang itu sengaja dipasang untuk mengaliri listrik ke pemancar yang terletak dipuncak singgalang milik salah satu stasiun tv swasta.
Kami pun mulai menapaki semak, menyigi jalan dalam kesamaran. Ditengah perjalanan hujan pun semakin deras, petir menyambar begitu kerasnya, sungguh merontokkan nyali. Kami mencari tempat berteduh, ada sekelompok pendaki juga yang sedang berteduh, mereka berteduh dekat tiang listrik. Kami pun mulai memasang terpal hitam yang sudah kami ikat mirip karung, lalu kami pun masuk kedalam karung itu, benar-benar mirip karung-karung kain seken dipasar tanah abang.
Tidak terlalu lama aku mendengar ..'Ttarr...!, petir kembali menyambar dengan kerasnya, tapi disambung oleh pekikkan''auuww..., sekolompok pendaki yang berteduh didekat tiang listrik kena sengat petir, hingga membuat mereka mengaduh, astagfirullah!'aku berucap.
Kejadian itu benar-benar membuat nyaliku ciutt...
beberapa dari mereka terpaksa tidak bisa meneruskan pendakian. karena, meskipun hanya rembesan tapi membuat mereka gemetaran, karena rasanya tidak jauh beda dengan kesetrum listrik tegangan tinggi.
Bagaimana''kata idham.
Membuyarkan lamunanku.
Kita terus saja''balasku mantap.
Setelah hujan agak teduh sedikit gerimis kami mulai melangkah lagi, kali ini kami kehabisan air, idham pun mencari sumber air dikegelapan malam.
Waktu itu aku tidak menghayal, aku benar-benar melihat lelaki bujang yang bertelanjang badan duduk diatas kayu yang tak jauh dariku, aku pun heran dalam gerimis kenapa ada sinar rembulan, sehingga makin memperjelas lelaki yang telanjang itu dimataku...
Aku mencoba mengalihkan pandangan sambil berdo'a seadanya..''ya allah ya rabb..inikah yang kau katakan ghaib, tapi kenapa aku harus melihatnya...ya allah, hamba mendaki ini hanya untuk menganggumi karya-karyamu dan ingin merasakan perjuangan sebagaimana yang telah dilakukan oleh pahlawan kami dalam merebut kemerdekaan pada tanggal 17 agustus...' bunyi ranting kering yang patah membuatku
Kaget juga. Ternyata idham datang dari tempat mengambil air, sumber mata air disitu adalah semacam lobang kecil yang dikali, mengambilnya cukup dìjangkau pakai tangan.
Kok kamu pucat?mau pulang ya?''idham meledekku.
Gak' ah, aku cuma mengingat anak-anak yang terkena seringai petir''jawabku asal, karena aku tak mau menceritakan kejadian tadi padanya, kalau aku ceritakan dia sudah pasti lari duluan.
Tapak demi tapak, langkah demi langkah yang kami ayunkan. Tepatnya jam 11 malam, kami telah sampai dicadas, cadas adalah bebatuan terjal yang harus kami lewati untuk mencapai telaga dewi. Kami pun menapaki cadas menggapai bebatuan diterangi sinar bulan, terpeleset dicadas adalah nyawa tantangannya. Karena pendakiannya hanya bisa dilewati dengan merayap, karena pendakiannya tidak landai, mungkin bìsa dikatakan kita memanjat tebing.
Kami benar-benar nekad, mendaki cadas itu hanya dengan sandal jepit, dikampung kami disebut sandal jepang, sandal murah ini mungkin karya orang jepang makanya disebut sandal jepang.
Setelah melewati cadas tidak begitu lama terdengarlah riuh suara terompet panjang dan tepuk tangan diiringi nyanyi 17 agustus..
Kami memilih untuk beristrahat dulu mengilangkan penat-penat melewati cadas..
Untuk menuju puncak itu kami harus melewati jalan yang mirip lorong panjang.
Lagi asyiknya menikmati sepotong roti, kami melihat seekor babi hutan yang cukup besar, aku merasa aneh melihat babi hutan itu. Karena badannya dipenuhi bulu yang cukup tebal, lalu bagaimana ia bisa bertahan hidup dìsini?ia tak mungkin bisa menuruni cadas atau menaikinya, apakah ini babi jadi-jadian?
Sedang memikirkan itu, idham setengah berbìsik padaku''itu anduang awak mah(nenek moyang kita)''katanya meyakinkanku..
Ahh,..''desisku, nenek moyang kita itu nabi adam dan hawa''gumamku dalam hati, tak mau berdebat waktu itu. Aku juga tak habis pikir idham yang mahasiswa Tekhnik komputer ini, yang biasa bergelut dengan program,rumus-rumus dan antivirus percaya juga dengan hal begituan.
Tapi aku merinding juga, karena jam sudah menunjukkan pukul 1 malam.
Kami pun bergegas dari istrahat segera menuju lorong ke telaga dewi.
Sampainya ditelaga dewi, kami mulai memeriksa tenda satu-persatu yang mengelilingi telaga itu.
Betapa mujurnya nasib kami, dari kejauhan kami sudah melihat Yan sedang bermain gitar dekat tendanya, akhirnya ada juga tempat melepaskan lelah''ucapku besyukur.
Yannn..!,'idham setengah berteriak memanggilnya.
Yan adalah teman kami satu kampung juga, ia telah berangkat mendaki duluan dengan Ajo Wan.
Oii,.!, idham''yan membalasnya.
Kami langsung merebahkan badan dekat perapian sambil menikmati kopi panas yang disuguhkan yan. Ditelaga dewi itu, sebaiknya kita tidak tidur, karena dinginnya cuacå akan membuat kaku tubuh kita.
Sambil tidur-tiduran dan bernyanyi mengiringi irama gitar yang dimainkan oleh
Yan, apalagi nyanyinya grup band dewa'separuh nafasku' aku benar-benar hafal diluar kepalaku lirik dan pemahamannya, mungkin Once lewat olehku pada malam itu. Sewaktu asyik nyanyi - nyanyi tiba-tiba...aaii..hh'aku setengah bersilat, tanganku yang memegang roti yang
Baru satu kunyah itu dirampas oleh seekor tikus, yang membuatku
Kaget bukan dengan tikus, tapi ukurannya lebih besar dari kucing jantan yang sudah dipelihara emak bertahun-tahun..., yang selalu dipuji emak, kalo siSambok(kucing) hampir tiap malamnya menangkap tikus yang sering membuat gaduh diatas loteng.
Tapi kalau siSambok dibawa kesini, takutnya dia yang lari terbirit-birit melihat tikus-tikus gunung ini.
Kami melewati malam yang dingin itu dengan bermain gitar ditemani kopi dan makanan kecil lainnya.
Pada jam 5 pagi(waktu shubuh) baru aku tahu kalau daerah pegunungan lebìh cepat terangnya, pagi itu kulihat tenda-tenda kemah tersusun disekeliling telaga dewi. Kali ini tak kudengar lagi jreng...jreng...jreng..jreng suara gitar, tapi sudah berganti dengan musik R n B dan Hip-Hop dari tape compo, musik ini benar-benar ampuh mengusir gigitan hawa dingin dipuncak singgalang.
Aku yang masih menahan kantuk menghambat kantuk itu dengan segelas kopi, benar-benar kurasakan nikotin bekerja disyaraf-syarafku membangunkan syaraf-syaraf yang sudah pada mengendor, tapi efeknya membuat badanku sedikit oyong hingga aku bisa duduk mengamati telaga sambil menganggukkan kepala menikmati dan menghayati musik-musik yang dinyanyikan oleh orang-orang berkulit hitam itu, padahal kalo dikaji betul atau diterjemahkan lagu dari mereka itu hanyalah berupa sumpah serapah, carut-marut dan saling menghina diantara mereka, tapi karena pendengar disini tidak begitu mendengarkan apalah teks dilagu itu, yang penting musiknya asyik dan bisa menghangatkan badan.
Tak terasa penguasa terang telah menampakkan badan, tak seorang pun yang akan bisa menghambat perjalanannya, ia adalah sang waktu.
Oii..,!.ayo foto-foto''suara ajakan dari idham menyudahi lamunanku, ini adalah agenda yang kutunggu-tunggu, mengabadikan diri ditelaga dewi sekaligus menambah koleksi foto-fotoku.
Akupun segera berlari kecil ke arah mereka...wahh.!, tubuhku benar-benar sempoyongan, lebih mirip orang yang baru keluar dari diskotik dan menghajar puluhan gelas wisky...
Akupun segera mencari posisi berfoto ria, bermacam gaya yang kupakai agar hasilnya nanti menarik.
Jam 10 pagi, kami mulai memasak untuk makan siang nanti, kami mengambil air telaga yang cukup dingin itu untuk memasak, airnya memang serba guna, buat cuci muka juga disitu, untuk mencuci kaki juga disitu, mencuci pakaian yang sudah basah oleh keringat-keringat pendaki juga disitu. Baru aku sadari kenapa tadi pagi waktu cuci muka, air yang sedikit singgah dibibirku terasa asin?..iih..''aku jadi mules mengingatnya.
Woiii..,! Woiii..woiii...!!!,...kudengar orang-orang berteriak dan meneriaki, ngapain kalian, cari mati yaaa, air telaga itu dalam, kalian mau diisok ula mayang(dihisap ular naga)...cepat keluar..., dan masih banyak kudengar teriakan lainnya, sebenarnya mereka-mereka itu berteriak karena perhatian dan kwatir terhadap 2 orang temanku yang mencebur sambil berenang ketengah telaga yang dingin dan dalam itu, mereka benar-benar mencari sensasi dipagi ini. Tapi aku bangga juga melihatnya, mungkin Yan dan idham pendaki pertama yang berenang ketengah telaga dewi itu, yang konon kabarnya tempat tidur naga putih penghunyi telaga. Tapi aku takut juga, seandainya itu benar-benar ada, lalu mereka disantap naga putih, bagaimana pula caranya aku membawa kabar kepada keluarga mereka, kalau mereka telah disantap oleh naga penghunyi telaga''hehehe.,pikranku ngawur..
Oiii,. Cepat ambil kameranya''teriak idham ditengah telaga sambil melambai-lambaikan bendera merah putih kepadaku, aku sudah kedinginan nih''tambahnya.
Langsung aku bergegas mengambil kamera dan memfoto mereka yang sedang berenang bebek ditengah telaga melambaikan bendera merah putih, benar-benar foto dengan latar yang indah. Aku ngiri juga, tapi aku sungguh takut melihat telaga itu, karena aku berpikir dibawah telaga itu dalam yang dalam, mungkin saja lumpur itu dalamnya sampai menembus kedasar laut''pikirku waktu itu.
Mereka berdua kembali berenang ketepi telaga, kudengar riuh tepuk tangan dan ucapan-ucapan salut dari para pendaki lain atas keberanian 2 orang temanku, benar juga, mereka itu tadi hanya karena perhatian dan mencemaskan keselamatan 2 orang temanku.
Sepertinya air telaga itu benar-benar dingin, kulihat mereka berdua menggigil sambil mengeluarkan asap disela-sela giginya.
Sementara waktu aku duduk-duduk sambil memetik gitar, datang seorang lelaki yang cukup tua dariku menghampiri, sambil menikmati petikan-petikan melodi yang selalu aku mainkan, karena aku hanya menghafal satu melodi dari Cranberrys hingga aku betul-betul menguasainya. Sudah berapa kali ke Singgalang dek"sapa lelaki itu, membuka pembicaraan.
yang sampai ke puncak baru kali ini Bang"jawabku
ohh..berarti dugaanku tadi gak salah, kamu sepertinya termasuk wajah-wajah baru pecinta singgalang ini"balasnya menerkaku.
Aku hampir tiap tahunnya mendaki ke singgalang ini, karena aku memang menikmati pemandangan dan keindahan dari singgalang ini"tambahnya lagi
Jadi abang benar-benar pendaki sejati ni karena hampir tiap tahunnya tanpa terlewati singgalang ini"balasku sambil bercanda, karena sesama pendaki itu sangat cepat akrab dengan sendirinya sehingga ia pun bercerita lebar denganku tentang pengalaman-pengalamannya mendaki gunung ini.
Tanpa sengaja aku bercerita tentang penglihatanku, yang melihat sesorang pemuda telanjang diatas pohon sewaktu mendaki kemaren.
hah..."ia setengah terkejut.
Jadi kamu melihatnya"tanyanya padaku, setengah beteriak.
iya"jawabku mengangguk
Sebenarnya kamu lihat itu mungkin qhorin(bayangan arwah), aku kadang-kadang melihatnya juga, itulah yang menyebabkan nuraniku untuk terus terpanggil mendatangi gunung ini"Terangnya.
sungguh aku benar-benar setengah terperanjat mendengar ceritanya yang cukup gaib, hingga ia tekan kontrak untuk mengunjungi gunung ini tiap tahunnya.
Awal aku melihat pemuda telanjang itu, aku benar-benar ketakutan dan ingin lari sekencang-kencangnya, tapi teman-temanku menenangkan aku pada waktu itu, menurut cerita" pemuda itu adalah anak dari pejabat didaerah ini, ia menghilang dari pendakian setelah frustasi diputuskan oleh pujaannya yang tiap tahunnya selalu ia hadiah edelwis dan setangkai bunga padi, hingga orang tuanya pun melakukan pencarian keseluruh daerah jelajah, tapi tak juga ditemukan. Akhirnya orang tuanya memanggil orang pintar(dukun) untuk melakukan pencarian melalui jalur gaib, orang pintar itu pun melakukan ritual di gunung ini dan ia pun mendapatkan wangsit kalau sipemuda telah raib dibawa oleh orang sibunian(sejenis makhluk halus, tapi ia selalu menampakkan wujudnya kepada manusia dan mereka hidup berkelompok dengan alam mereka sendiri). orang tua sipemuda itu pun hanya bisa menitikkan air mata setelah mendengarkan penjelasan dari orang pintar itu, tak lama setelah itu, banyak cerita dari para pendaki-pendaki yang melihat pemuda itu masih hidup dan berpakaian telanjang. Salah satunya kamu"tunjuk lelaki itu padaku, setelah bercerita, hingga jantungku hampir copot.
aku hanya termangu-mangu dalam kengerian, lelaki itu hanya tersenyum setelah membuat pucat wajahku dan ia pun berlalu kedalam tendanya.
Seketika itu hanya berpikir untuk segera turun gunung sebelum sore, karena aku tak mau bermalam disini lagi, nyaliku benar-benar ciut setelah mendengar cerita lelaki itu.
Id"tegurku.
apaan"jawabnya sambil melilitkan sarung kelehernya, karena cuaca masih dingin.
id, aku ingin siang nanti kita turun, sebab uang hadiah panjat pinang ada padaku"ucapku membuat alasan.
oke gak apa kok, aku juga besok mau ke kampus"ucapnya.
kami pun mulai bersiap untuk turun, padahal waktu itu hujan gerimis, tapi aku dengan selamat turun dari gunung bermodalkan sandal jepit, sambil mematri dalam jiwa"Aku Tak Akan Pergi Mendaki Lagi".
Namun setelah sampai dikaki gunung itu, Aku berbalik ke belakang dan menatap puncak Gunung singgalang".Oh...singgalang memang indah nian dan elok mempesona rupamu, Suatu saat aku pasti akan mengunjungimu lagi"Aku berbisik diluar sadarku sendiri, mungkin sipemuda telanjang itu melambaikan tangan dan aku pun membalasnya.
Sudutkota, 090410
hahaha...si id dicaritoan nyo...
BalasHapushehehehe, pengalaman mah..
BalasHapus