SAHABATKU,HANYA PELANGI
koeraitadji,7april09
Udara pagi merasuk jantungku, aku terus berharap angin akan bertiup menjelang fajar ini untuk merontokan dedaunan yang sudah tua. Seperti biasanya aku berdiri dipersimpangan menunggu bus antar kota yang akan membawaku dan sapu-sapu lidiku kekota padang.
“ Tumben,,!!masih sepi, mak’inah kok belum datang?” kataku dalam hati. Wanita tua itu biasanya selalu bersama-sama denganku ke kota padang setiap paginya membawa telur-telur ayam kampung dengan keranjang usangnya. Aku masih berdiri sendiri dipersimpangan, hanya ditemani kokok ayam yang saling bersahutan. “masih jam 4 pagi.” Gumamku dalam hati.
Dari jauh aku sudah melihat wanita tua itu dengan keranjang usangnya, ia meletakkan keranjang telurnya disamping sapu lidiku. “Sudah lama menunggu busnya,jang?” Kata mak’inah menyapaku. “Belum terlalu lama mak” jawabku. “ Mungkin busnya masih dalam perjalanan”tambahku lagi.
Sebenarnya namaku bukan bujang, tetapi dikampungku anak lelaki yang masih kecil biasa dipanggil bujang atau buyung. Itu adalah nama panggilan kesayangan kata beberapa sesepuh dikampungku. Aku diberi nama oleh orangtuaku, “Surya Permana “. Mereka berharap aku dapat menjadi penerang dalam keluargaku. “ Layaknya mentari menyinari bumi”ungkap mereka.
Diujung jalan sudah terlihat lampu bus tua yang sudah redup itu, aku hafal betul dengan lampu bus tua itu. Bus itu pun berhenti dipersimpangan dan kami pun menaikinya, biasanya perjalanan menuju kota padang memakan waktu kurang dari satu jam.
Bus tua pun melaju dengan tenaganya yang masih tersisa dan tertatih-tatih , sesekali berhenti untuk menaikan penumpang yang sudah biasa menjadi langganan paginya
Kami pun sampai dipasar pagi kota padang, mak’inah dan aku berpisah dipasar pagi. Mak’inah menjual telur-telurnya ke warung-warung, sedangkan aku menjajakan sapu-sapu lidiku disekitar pasar pagi dan melanjutkan perjalananku membawa sapu-sapu itu menuju perkantoran pemerintah atau komplek perumahan. Aku menjual dengan cara meletakan sapu-sapu itu diatas kepalaku. Kepalaku sanggup mengangkat sapu itu sekitar 10-12 buah sapu dan aku harus melakukan ini setiap paginya sebelum berangkat kesekolah, karena kedua orangtuaku tidak mampu lagi menanggung biaya hidup keluarga kami dengan mata pencaharian mereka sekarang ini.
Ayahku bekerja sebagai tukang panjat kelapa dengan menggunakan monyet. Dikampung monyet itu disebut “beruk”, sedangkan ibuku bekerja sebagai pengrajin sapu lidi. Kedua orangtuaku mempunyai penghasilan jauh dibawah upah minimum regional (UMR). Tentu saja penghasilan seperti itu tidak akan mampu memenuhi kebutuhan hidup keluarga kami yang beranggotakan enam orang.
Aku adalah anak yang paling tua, masih kelas empat sekolah dasar. Kedua orangtuaku sudah mengharapkanku agar aku dapat membantu mereka dalam mencari nafkah. Sebenarnya mereka tidak menginginkannya, aku sangat merasakan betapa pahitnya kenyataan ekonomi dalam keluarga kami. Karena tekanan dan kenyataan ekonomi yang pahit itu telah memaksa mereka menyuruhku untuk bekerja.
Langkahku terhenti disebuah perkantoran pemerintah, masih setengah enam pagi, sapu-sapu lidiku masih banyak yang tersisa.
Aku berharap penjaga kantor pemerintah ini memborong sapu-sapuku. Kantor ini adalah langgananku setiap awal bulan.
”Jang…jang,!!!” panggil penjaga kantor pemerintahan itu. ”Alhamdulillah…! ” ternyata penjaga kantor itu memanggilku.
” Masih tersisa berapa jang sapu lidinya? ” tanya penjaga kantor pemerintahan itu.
“ Enam, pak” jawabku penuh gairah.
”Saya ambil saja semuanya jang, mungkin enam ini masih kurang” kata penjaga kantor itu lagi.
Taman–taman dilingkungan kantor itu dikelilingi oleh pohon-pohon mahoni yang sudah tua. Lapangan parkirnya terbuat dari semen, tentu saja membuat sapu lidi itu tidak tahan lami
”Mungkin besok bisa saya tambah lagi sapunya Pak”jawabku.
Betapa senangnya hatiku dipagi ini, ditambah lagi besok sudah ada pesanan.
Aku harus segera kembali kepasar pagi untuk menunggu mobil yang akan kutumpangi pulang. Waktu sudah menunjukkan pukul enam lewat lima belas menit. Sampainya dipasar pagi bus tua itu sudah menungguku lagi, tetapi diantara penumpangnya tidak kutemukan lagi penumpang yang bersama denganku dipagi hari tadi. Kali ini penumpang bus tua itu banyak dari karyawan dan pegawai-pegawai yang bekerja dikotaku. Mereka selalu berjumpa denganku ketika aku akan pulang setelah selesai menjual sapu-sapuku. Kadang-kadang aku merasa iri melihat mereka berpakaian rapi dan berseragam, sedangkan aku masih kumal,lusuh dan berdebu.
Jam tujuh lewat lima belas menit, aku telah sampai dirumah dan langsung saja mandi bersiap-siap pergi kesekolah. Hari ini khabarnya bu’endang akan mengumumkan tentang kurikulum baru kepada kami murid kelas empat.
“Makan dulu jang, nanti kamu masuk angin” kata ibu sambil merangkai lidi-lidi dari daun kelapa yang akan dijadikan sapu.
“ Iya, bu” jawabku, sambil menyiapkan buku-buku pelajaran yang akan dibawa kesekolah nanti.
Aku memang tidak tahan lagi, rasa lapar ini sudah kurasakan semenjak dikota padang tadi. Lambungku rasanya sudah membeku, suara-suara kecil telah berceloteh diperutku. Tetapi aku harus menjual sapu-sapu itu dulu, untuk kebutuhan keluargaku.
Aku langsung saja ke dapur sambil mengambil piring dipanci yang sudah tersedia nasinya. Nasi itu baru saja dimasak ibuku tadi pagi. Kulihat dilemari makanan sudah tersedia sayur daun singkong dan ikan teri yang dicampur dengan cabe hijau goreng kesukaanku. Aku makan dengan lahapnya tanpa menghiraukan yang disekelilingku, karena aku harus bergegas dan waktu sudah menunjukkan pukul setengah delapan. ” Lonceng tanda masuk kelas pasti sudah berbunyi” gumanku dalam hati. Bu’endang sudah sering menegurku, karena sering terlambat. Sebenarnya bu’endang maklum dengan kenyataan yang aku hadapi, tetapi ia harus menegakkan disiplin sekolah, karena itu adalah tugasnya.
“ Bu aku berangkat dulu” kataku sambil menyambar tas kulit hitam, pemberian bu’endang sewaktu aku mendapat nilai terbaik dikelas kemarin.
“Jang..!!”, panggil Ibu. ” Nanti mampir dulu ditempat mak’inah, katakan padanya kalau telur itik kita sudah banyak yamg terkumpul ”kata ibu. Dengan logatnya yang sudah terbiasa bicara lantang. Ibu seolah-olah bicara kepadaku seperti komandan memberikan perintah kepada prajuritnya.
”Iya, bu” jawabku, sambil berlari menuju ke sekolah yang tak jauh dari rumahku.
Bu’endang kembali tersenyum tipis melihat kebiasaanku yang sering terlambat.
”Kenapa terlambat lagi surya?” katanya dengan senyuman yang seolah menyindirku.
Aku tak mau menjawab, karena sudah banyak alasan yang aku sampaikan setiap terlambat masuk kelas. Malahan seringkali alasanku itu-itu saja, lucunya pertanyaan bu’endang itu-itu juga, menanyakan kenapa aku terlambat.
“Sudahlah surya,silahkan kamu duduk dibangkumu” kata bu’ Endang. sambil mempersilahkan aku duduk.
Ibu mau menyampaikan sesuatu kepada kalian semua. ” Sebenarnya kami dipihak sekolah tidak mau menerima perintah dari dinas ini. Tetapi untuk materi pelajaran pada kenaikan kelas besok berpedoman kepada kurikulum baru, jadi buku-buku kurikulum yang lama harus diganti dengan buku-buku kurikulum yang baru supaya kita dapat menyesuaikannya dengan perkembangan-perkembangan ilmu pengetahuan pada saat ini” tegas bu’endang menyampaikan dengan suara yang agak berat.
Karena dia tahu bahwa sebagian dari kami itu tidak sanggup untuk membeli buku-buku itu. Buku-buku yang kami pakai ini diperoleh secara turun-temurun. Aku mendapatkan buku-buku pelajaran ini setelah meminjam kepada tetanggaku. Dia berpesan kepadaku untuk menjaga buku-bukunya dengan baik, karena nanti setelah aku naik kekelas lima buku-buku itu harus diserahkan kepada adiknya yang sekarang duduk dikelas tiga. Begitulah kami memperoleh buku-buku pelajaran ini dengan cara estafet, bu’endang tahu betul dengan hal ini.
Aku melihat diantara wajah teman-temanku, sepertinya mereka mau protes saja. ”Kenapa harus ada kurikulum baru dan kenapa kami tidak digratiskan saja buku-buku barunya?” protesku pada teman. Toh.!!! kami-kami ini nantinya juga akan mengabdi kepada negara? tapi semua itu tidak mungkin disampaikan kepada bu’endang. Karena bu’endang hanya menjalankan kebijaksanaan dari program Dinas Pendidikan.
Langkahku berjalan gontai, bagaikan singa yang tak dapat mangsa pulang kerumah. Sepanjang jalan tadi aku terus memikirkan uang untuk membeli buku-buku baru itu. Aku mungkin tidak sanggup meminta uang pada ayah untuk membeli buku. Kemaren beliau baru membayar iuran sekolahku dan adikku yang sudah menunggak berbulan-bulan. Ditambah lagi biaya rumahtangga yang semakin hari semakin membengkak.
Sedangkan aku hanya bisa mendapatkan uang lebih ketika musim hujan, karena dimusim hujan daun-daun yang sudah tua berjatuhan dan berserakan mengotori perkarangan kantor atau rumah, sehingga pesanan sapu lidi menjadi meningkat. Namun ketika sepinya aku harus menjual sapu-sapuku kepada pedagang pengumpul dengan harga murah.
Sore itu, aku melamun ditepi sawah memandangi langit yang menjanjikan harapan kepada semua insan. Aku ingin menyoraki siapa saja yang ada dilangit itu. ”Pelangi….!!!, kenapa kau tidak tampakan dirimu?. Apakah hujan tidak mau lagi mendampingimu?” kataku sembari memandang langit. Seandainya kau tampakkan dirimu, mungkin dedaunan itu akan bertebaran dihari esoknya. Orang-orang pasti membutuhkan sapu-sapuku untuk membersihkan perkarangannya dan aku bisa menyisakan uangku untuk membeli buku-buku baru itu. Pelangi aku ingin jadi sahabatmu…! ” pintaku dalam hati.
Aku bergumam sendiri, mengharapkan hujan turun setiap malamnya!, agar sapu-sapuku nanti banyak laku terjual.
Tanpa diluar sadar, aku tertidur dengan pulasnya hujan menyiramiku dengan derasnya. Akupun terbangun dan mencari tempat untuk berteduh, tiupan angin menemani hujan disore itu. Setelah itu hujan pun reda, kulihat diujung sana membentang warna-warna yang indah menghubungkan langit dan bumi. Aku masih terpana dan kembali mengingat hasrat-hasratku.
Aku melihat pelangi diujung sana, “oh….! pelangi engkau memang sahabatku, aku ingin kau hadir disetiap sore ini membawakan angin untukku, rontokkan dedaunan itu”aku berbisik sendiri didalam hatiku.
Sesaat senja datang pelangi pun hilang menghiasi langit disore itu dan berganti dengan lembayung senja. Aku melangkah dengan semangatku,karena esok pagi akan banyak orang-orang yang membutuhkan sapu-sapuku.
Malam pun menyambut senja,aku telah sampai dirumah. Kodok-kodok sawah berdendang menyambut hujan disore tadi untuk memecahkan kesepian didesaku.
Aku tertidur sambil memikirkan kemanakah langkahku esok pagi, rasanya hampir seluruh komplek-komplek dan perkantoran dikota padang telah aku jelajahi. Kesunyian dirumahku mengantarkanku melewati malam.
Pukul setengah empat pagi, ibu membangunkanku untuk mengikat sapu-sapu lidi itu. Setelah selesai kuikat, aku membawanya kepersimpangan untuk dibawa lagi kekota padang. Sampainya dikota padang aku langsung menuju komplek perumahan, karena menurutku jika memasuki satu komplek dimusim hujan ini, aku tidak perlu lagi menjajakan sapu-sapu ini berkeliling.
Benar juga dugaanku, baru pukul enam pagi sapu-sapu itu sudah habis terjual. Seandainya penjualanku sebagus ini setiap harinya, mungkin aku tidak perlu merisaukan buku-buku kurikulum baru itu. Oh…tuhan ! aku berharap sampaikan cita-citaku, jangan jadikan sesuatu sebagai penghalang keberhasilanku, aku hanya ingin merubah nasib keluargaku.
Diatas bus tua,yang kutumpangi pulang, aku melamun sepanjang jalan itu.
“ Mengapa aku tidak dilahirkan dalam keadaan keluarga yang berkecukupan saja dan kenapa aku harus menjalani semuanya ini. Apakah ini hanya berlaku untukku, atau mereka yang engkau lebihkan itu hanya dimataku saja bahagianya” kataku sambil menyesal.
Begitu banyak pertanyaan berkumpul dibenakku, aku merasa hidup ini tidak adil bagiku. Tapi aku selalu teringat dengan kata-kata ibu. Dia mengatakan: “ sebenarnya kekurangan hidup kita tidak ternilai dengan kebahagiaan yang kita miliki, sedangkan orang-orang yang hidup mewah itu belum tentu merasakan kebahagian seperti yang kita rasakan.” kata ibu kepadaku. Ibu juga mencontohkan keluarga Pak Herman beliau adalah orang terkaya didesaku, tetapi setiap harinya ada-ada saja masalah yang menimpanya,kemaren anaknya tertangkap karena menghisap ganja,setelah itu istrinya meninggal karena jantungan. Menurut istrinya ia telah berhasil mendidik anaknya itu, tetapi kenyataannya anak itu memakai narkoba.pengadilan pun menjatuhkan hukuman tahanan. Sekarang Pak Herman sakit-sakitan karena ditinggal orang-orang yang ia sayangi.
Menurutku betul apa yang dikatakan ibu, ”hidup itu tidak perlu berlebihan, lebih baik kita menjalankan dengan seadanya.”
frdi2xan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar