IBUKU RINDU PEREMPUAN
“ Sebut saja namaku Panji !”. Begitulah caraku berkenalan dengan teman-teman yang baru kukenal. Aku adalah anak kedua dari lima bersaudara, kakakku umurnya dua tahun lebih tua dariku dan aku dua tahun lebih tua dari adikku. Kata orang: “ Ibuku beranak terlalu rapat, jarak umurku dengan kakakku hanya dua tahun.’’ Diusia kakakku yang baru sembilan tahun, dia sudah mempunyai empat orang adik, tetapi semua itu hal yang wajar, karena ibu selalu punya impian mempunyai anak perempuan. Namun kenyataan berkata lain, sudah lima kali ibuku melahirkan anaknya selalu laki-laki. Sepertinya ibu tetap bahagia saja, walaupun belum dianugrahi anak perempuan.
Sebenarnya ibuku hanya terpengaruh oleh adat suku Minangkabau. Dalam suku Minangkabau generasi penerus keluarga itu adalah anak perempuan (matrilineal). Hal inilah sedikit yang membebani dirinya, mungkin juga ada perasaan lain yang menghantui ibuku seperti : membantu pekerjaan rumah, tempat berkeluh kesah dan lain sebagainya. Kebiasaan adat di Minangkabau, laki-laki kalau sudah berumah tangga tinggal di tempat rumah istrinya. Hal inilah yang membuat ibuku mungkin takut ditinggal sendirian.
Kadang-kadang aku sering menyampaikan kepada ibu berulang-ulang dengan sambil berseloroh tentang slogan program KB ” cukup dua anak saja, lelaki dan perempuan sama saja. lantas ibuku langsung membalas” Bagaimana mungkin laki-laki itu sama dengan perempuan, laki-laki itu tidak bisa hamil dan melahirkan ! ” jawab ibuku simpul. Tapi kenapa ya ? “slogan KB mengatakan lelaki dan perempuan sama saja? ’’ Aku tak mau memikirkan itu, tetapi dalam hatiku telah berjanji akan berbuat yang terbaik untuk ibuku.
Dalam perjalanan, aku masih melamun diatas mobil angkutan pedesaan yang akan mengantarkanku menuju suasana baru.
Mobil pun berhenti di persimpangan, aku dan ibu serta kakakku harus berjalan kaki sejauh 1 kilometer menuju lokasi SDN 16. Maklum lokasi SD ini masih IDT yang jauh dari pusat kota. Aku terpaksa sekolah disini, karena ibuku bertugas sebagai pengajar dan ditempatkan pada sekolah ini. Padahal ibuku waktu dulu telah ditempatkan di SDN yang dekat dengan rumah kami, tetapi ibuku menolaknya dengan alasan terlalu dekat. ”Guru yang mengajar disitu sudah terlalu banyak dan juga sudah berpengalaman” begitu kata ibuku. Rasanya dengan kehadiran ibuku di SDN dekat rumahku tidak akan ada arti dan nilai tambahnya. Ibu lebih mau mengabdi di SDN 16 ini, karena SDN ini sangat membutuhkan dan kekurangan guru.
Panas mentari pagi sepertinya tak bersahabat lagi denganku, sudah 1 jam membakar ubun-ubunku. ”Menyesal rasanya tidak membawa topi” kataku dalam hati. Padahal tadi aku sudah diingatkan oleh ibuku untuk membawa topi. Upacara pada hari Senin pagi adalah hari pertamaku menginjakkan kaki di SDN 16 ini.
Badanku jadi lemas, setelah mengikuti upacara bendera tadi pagi. Pemimpin upacara berpidato terlalu lama sekali dan aku pun sudah terbiasa mendengarkan ucapan pemimpin upacara tadi, karena kami hidup serumah dan telah menjalani hidup bersama lebih kurang 6 tahun.
Setelah sampai dikelas, aku memilih bangku barisan depan. Disampingku sudah duduk anak baru juga badannya besar, agak gemuk dan matanya sipit. Menurutku, anak ini hanya punya jarak pandang lima meter saja, karena matanya terlalu tertutup oleh kelopak matanya.
” Kenalkan Panji ” kataku padanya. Aku pun mengulurkan tangan kepada teman sebangku itu. ”Tyson” jawabnya pelan saja seakan penuh beban.
Ahh….aku mulai berpikir, temanku ini sepertinya tak satu ide denganku. Aku lebih suka punya teman yang ceria dan periang.
Sebenarnya aku mau mengobrol dengan Tyson, tetapi ia asyik saja dengan aktivitasnya mencoret-coret buku barunya.
” Mungkin barangkali tyson belum tahu kegunaan buku itu?” jawabku dalam hati saja.
” Selamat pagi anak-anak…!!! ” Sapa Bu’ guru kepada murid. ”Selamat pagi Bu’guru ! ” sahut murid-murid kelas satu menyambut salam dari Bu’Dahniar secara serentak.
Bu’dahniar memasuki kelas kami, dia adalah guru kelas satu. Dia pun mulai bertanya bertanya kepada murid-murid yang malu-malu dan lugu itu: ” bagaimana perasaan kamu di dalam kelas ini ’’Sapa beliau, tetapi tak seorang murid pun yang menjawabnya. Bu’Dahniar mungkin sudah berpengalaman melakukan penyesuaian dengan murid-murid baru. Dia lebih dulu memperkenalkan dirinya dan bercerita sedikit tentang dirinya, setelah itu ia meminta kepada kami untuk memperkenalkan diri dan bercerita tentang kami. Tetapi dari 32 orang murid baru itu hanya 4 orang murid saja yang berani tampil ke depan, salah satunya aku. Sebenarnya aku tidak berani, tetapi aku teringat pesan ibu ”jangan kecewakan ibu” kata ibuku sewaktu aku didaftarkannya masuk sekolah ini.
Sepertinya Bu’Dahniar maklum dengan hal itu, karena kami semua mempunyai latar belakang yang berbeda dan tidak semua orang itu sama. ” Murid-murid yang lain akan mendapat giliran untuk tampil di depan kelas” katanya Bu’Dahniar sambil mengingatkan. Untuk memecah kekakuan murid-murid baru, Bu’Dahniar bercerita tentang tokoh-tokoh yang berasal dari Sumatera Barat seperti M.Hatta, M. Natsir, Hamka, Mr.Amir Syafruddin Prawiranegara dan masih banyak tokoh-tokoh lain berasal dari Sumatara Barat. Mereka itu dikenal karena mempunyai keberanian dan selalu menjadi yang terdepan.
Bu’Dahniar melanjutkan kata-kata imajinasinya : ”Jadi kita sebagai generasi muda tidak boleh mengecewakan mereka, kita harus membuat mereka bangga dengan cara belajar yang baik, agar bisa menjadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsa” terang Bu’Dahniar.
” Teng…teng….teng…!!!” lonceng berbunyi tanda pelajaran telah usai. Bu’ Dahniar mengakhiri pembicaraannya, Dia menyuruh kami berdo’a dulu sebelum pulang. Kelas kami lebih dulu keluar, aku duduk dekat pagar sekolah yang separohnya sudah mulai roboh, sambil menunggu kakakku yang masih belajar dikelas tiga. ”Ibuku sepertinya belum selesai mengajar dikelas enam” kataku dalam hati.
Tak lama aku menunggu, mereka pun sudah keluar dari kelasnya. Kami pun kembali berjalan kaki menelusuri jalan-jalan yang masih berbatu, berkerikil, dan berdebu dikala musim panas. Kadang kala ketika dimusim hujan datang jalan sering becek. Setelah sampai dipersimpangan jalan, kami langsung naik mobil angkutan pedesaan yang akan mengantarkan kami pulang.
Ingin rasanya aku cepat-cepat sampai dirumah, rasa haus dan lapar sudah menggelitik perutku. Setelah itu aku ingin tidur siang, tetapi pekerjaan rumah lebih dulu menungguku,mencuci piring dan menyapu rumah. Hal itu adalah tugas wajibku, sepertinya aku sudah tekan kontrak saja dengan ibuku untuk pekerjaan ini. Tetapi aku tak tahu batas akhir dari kontrak ini, kakakku juga punya tugas yang telah menunggunya, yaitu pergi berbelanja ke pasar untuk membeli persiapan dapur. Maklum kami tidak punya saudari perempuan untuk melakukan pekerjaan itu.
Bulan baru telah tiba, seperti biasanya ibu selalu membelikan kami sesuatu buat anaknya setiap bulan baru. Kali ini ibu membelikan kami pakaian, tetapi anehnya pakaian yang dibelikan lebih cocoknya dipakai oleh anak perempuan. Kami pun protes dan tak mau memakainya, karena apabila kami pakai sudah pasti kami akan ditertawakan oleh teman-teman. Sepertinya ibuku tak mau peduli dengan keluhan kami. Dia pun sepertinya tak ada niat untuk menukar kembali pakaian itu ke toko busana. Ternyata ibuku betul-betul merindukan seorang perempuan sampai-sampai pakaian yang ia beli adalah pakaian untuk perempuan.Walaupun kami mampu untuk membantu ibu menyelesaikan pekerjaan rumah, tetapi ternyata belum mampu menutupi kerinduannya pada seorang anak perempuan.
##
Empat tahun telah berlalu dengan cepatnya. Aku sudah duduk dikelas empat SD, rasanya tidak ada yang berubah pada diriku, kecuali pakaianku yang diganti tiap tahunnya. Dan Ibuku pun kembali melahirkan anak laki-laki, hingga telah bertambah anggota keluarga kami satu orang lagi. dan genap menjadi enam. ”Aah….sungguh aneh ” menurutku. padahal ibuku telah mengikuti dan menuruti berbagai masukan, ide-ide kreatif serta saran dari sesepuh atau para orang pintar dikampung, seperti menukar celana bayi kita dengan orang yang banyak anak perempuannya. yang anehnya lagi ada juga metode melakukan pencurian, kita harus mencuri salah satu perkakas alat dapur orang lain tanpa sepengetahuan yang empunya...sungguh berat perjuangan ibu untuk mendapatkan sesosok perempuan pengganti ragam dirumah kami.Tetapi ibu selalu tersenyum, walaupun keinginannya belum terkabulkan.
Pagi ini aku berangkat sekolah hanya berdua dengan kakakku, ibu baru saja mengambil cuti, karena baru saja melahirkan. Teman-temanku dikelas empat masih cukup 32 orang. Lokal kami tetap penuh, hal itu dikarenakan kami selalu belajar bersama dan saling mengisi kekurangan. Teman-temanku sehabis pulang sekolah membantu orang tuanya dirumah untuk menambah nafkah keluarganya, Seperti Harun teman sebangkuku dikelas empat ini, ia menggembala ternak, kesawah atau keladang membantu orangtuanya. Lihat juga ijah, perempuan lincah dan ramah ini yang selalu menjadi bintang juara dikelas kami. Setiap paginya ia harus mengantarkan kue dan goreng-gorengan buatan ibunya kewarung-warung, ijah selalu terlambat pergi kesekolah. Tetapi mereka selalu memanfaatkan waktu luang untuk belajar pada malam harinya. Setelah selesai mengaji mereka pun berkumpul untuk belajar, sepertinya semangat mereka telah mengalahkan semua kesulitan-kesulitan ekonomi yang membelenggunya. Dalam pikiran mereka hanya menggapai cita-citanya untuk merubah kehidupannya, mereka merasakan seolah cita-cita itu sudah ada didepan matanya. Memang banyak diantara teman-temanku pakaian dan sepatunya masih awet dari kelas satu sampai kelas empat, sepertinya pakaian dan sepatu mereka sangat setia. Seakan-akan sepatunya tak mau berpisah, tetapi semua itu bukan karena pakaian dan sepatunya awet atau setia, melainkan kehidupan mereka belum terlepas dari belenggu ekonomi, yang memaksa mereka untuk menerima keadaan seadanya. Aku sangat bersyukur nasibku lebih baik dari teman-temanku.
Besok adalah hari Pendidikan Nasional, untuk pengembangan bakat siswa kepala sekolah dan guru-guru mengadakan lomba membaca puisi dan melukis yang boleh diikuti oleh murid kelas empat,lima dan enam. Adapun hadiahnya adalah tabanas dan trophy.
Aku pun ikut mendaftar dalam lomba membaca puisi, ternyata lomba membaca puisi cukup banyak diminati murid-murid. Jumlah peserta 47 orang murid, salah satunya adalah aku. Dihari yang telah ditunggu-tunggu, akupun mendapat giliran untuk tampil kedepan. Aku sudah siap untuk membacakan puisi yang sudah aku karang sendiri yang berjudul ” Semangat Jiwaku.”
“Semangat Jiwaku”
Kutatap sepatuku
Seolah selalu tertawakanku
Kutatap celanaku
Seolah mengerdipkan matanya padaku
Kutatap bajuku
Lusuh, kuyu tapi tetap setia denganku
Kutatap langkahku, pilu…..
Tapi semua itu tak kuhiraukan
Semangat jiwaku, akan mengalahkan semua itu
Aku hanya ingin ilmu dan cita-citaku………….
Setelah mendengarkan puisiku, tepuk tangan dan sorak-sorai terdengar keras dari kawan-kawan dan hadirin yang hadir. Semua hadirin menghadiahkan tepuk tangannya kepadaku. Aku jadi gugup, karena aku belum pernah tampil penuh dengan gaya-gaya, yang seolah-olah dalam cerita puisi tadi adalah aku.
Teman-temanku banyak yang suka dengan gaya dan puisiku. Menurut mereka lebih punya keberanian untuk tampil di depan umum. Diantara peserta yang lain sewaktu membacakan puisi, ”mereka membacakan puisi seperti membaca teks proklamasi” kata temanku. Diko memang senang mengejek teman-teman yang lain, padahal dia sendiri tidak punya kemampuan dan keberanian, tetapi dia suka menolong teman-teman dalam kesusahan, karena Diko mempunyai gaya hidup yang berkecukupan. Orangtuanya salah satu pemilik toko emas terlaris di pasar dekat tempat tinggalku.
Dan hari yang kutunggu-tunggu akhirnya datang juga, pengumuman pemenang puisi adalah pada upacara bendera hari ini.
Dalam upacara bendera senin pagi ini, kepala sekolah mengumumkan pemenang lomba puisi dan melukis, ” PANJI….” kata kepala sekolah menyebut namaku. Dia mengatakan bahwa aku sebagai pemenang dalam lomba puisi, jantungku rasanya seperti berhenti, wajahku memerah karena sebelumnya aku tidak pernah ikut dalam lomba acara apapun, ternyata yang jadi penentu dalam penilaian juri adalah gaya dan isi puisi. dan kemenanganku tak ada unsur nepotismenya, itu memang hasil murni dewan juri.
Kakiku terasa amat berat untuk maju kedepan untuk menerima hadiah. Kepala sekolah menyalamiku dan mengucapkan ” selamat atas keberhasilanku sebagai pemenang pembacaan puisi”. Teman-temanku pun bertepuk tangan sambil berulang-ulang menyebut namaku,aku menjadi terharu, sayangnya ibuku tidak bisa menyaksikan karena masih dalam masa cuti.
Dalam penyampaian kepala sekolah, ia mengatakan ”Saya dan guru-guru yang lain telah sepakat untuk menyisihkan sedikit gaji kami untuk membantu murid-murid yang memang harus diperhatikan.” Tetapi kami mungkin tidak bisa langsung membantu semuanya, karena keterbatasan dana. Ternyata kepala sekolah menanggapi puisiku.
Aku sangat senang dan gembira mendengarkan rencana dari pihak sekolah, untuk ikut membantu teman-temanku, walaupun gaji guru itu belum memadai untuk dirinya sendiri. Tetapi karena semangat murid-muridnya untuk menuntut ilmu telah membuat mereka merasa wajib untuk membantu.
Dan kembali empat tahun berlalu, aku pun sudah duduk dibangku kelas dua sekolah menengah pertama (SMP). Ibuku kembali melahirkan,!!!! hahahahhaha......, Seperti biasanya ibuku melahirkan kembali anak laki-laki lagi. Tetapi tak sedikitpun rasa kecewa diwajah ibuku, karena alasan ibuku itu adalah anugerah dari yang kuasa. Malahan ibuku merasa bangga, karena dari sembilan anggota rumah tangga, ibuku adalah makhluk paling istimewa. Dia perempuan satu-satunya dirumah kami, tak ada diantara kami yang akan mampu menyainginya,
”Dalam hidup ini kita sebagai manusia hanya berusaha dan menjalaninya, sedangkan keputusan itu ada pada Allah SWT, kita tak perlu menyesali sesuatu jika tidak akan merubah keadaan” kata ibuku sambil tersenyum manis.
Aku dan kakakku hanya mengangguk-angguk sedih, karena kontrak perpanjangan pekerjaan rumah akan ditambah lagi. lebih-lebih ibuku ada rencana untuk melanjutkan kuliahnya. tentu saja tugas kami akan semakin banyak.....heheheehe..., i love u mom"gumamku dalam hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar