Sabtu, 20 Februari 2010

Coretan untuk 'Astri

Coretan Untuk 'Astri


Tak perlu Kumenyesali lagi dan meratapi nasibKu, mungkin ini garis yang harus Kulalui dengan secuil harapan yang tak akan pernah ada lagi.

Masih kuingat 'Astri, gadis cantik nan manja itu. Adik kelasku, mengingatnya mungkin akan menambah kesedihanku. Betapa mudahnya Aku menjanjikan cinta dan berbisik kecil kepadanya 'Astri, Aku akan merantau ke jakarta menelusuri nasibku, Karena orangtuaku tak akan mampu lagi membiayai dan meneruskan pendidikanku, seandainya Aku berhasil diperantauan nanti, Aku berjanji akan membantu biaya kuliahmu.''bisikku sambil membelai rambut hitamnya yang lurus dan menatapi bola mata beningnya yang polos, ia hanya bisa menitikkan air mata sambil bersandar didadaku. Aku masih terkenang saat itu ditaman belakang gedung sekolah, sewaktu Aku diumumkan telah lulus ujian nasional.

Pada hari keberangkatanku keJakarta, tak lupa Astri menyelipkan kaset 'Ernie dJohan''Teluk Bayur''. Kaset ini supaya kakanda nantinya cepat kembali''ulasnya sambil tersenyum diatas keakraban kedua bibir tipisnya. Sebenarnya lagu itu cocoknya untuk orang yang berangkat dengan kapal melalui pelabuhan teluk bayur, tapi Aku berangkat hanya dengan bus kejakarta''gumamku dalam hati, meledek Astri.

Akhirnya aku sampai juga dijakarta, setelah beberapa dua hari melintasi perjalanan darat, Sesampainya dijakarta, aku langsung menemui keluargaku yang telah duluan merantau dijakarta. Dan aku pun langsung meminta untuk diajarkan cara berdagang dijakarta. Setelah lama kujalani bergabung dengan kawan-kawanku yang berasal dari perantau padang, menjual pakaian mulai dari kaki lima hingga keliling pasar malam bermodalkan nekat dan surat rindu dari Astri semakin membakar semangatku untuk lebih bergiat lagi. aku memang sangat menekuninya, hingga ak ada waktu untuk beristrahat atau bersenang-senang bagiku. kekuatan untuk menapaki masa depan semakin membakarku.

Akhirnya berkat kerja keras dan keberuntungan mempertemukanku dengan dunia konveksi. Aku pun mulai belajar mengenai usaha konveksi, setelah berkenalan dengan beberapa orang bos konveksi, Aku mulai mencoba memasarkan barang-barang konveksi dengan mengunjungi toko, counter, pasar, dan plaza. Berkat kegigihan dan semangat dari Astri, sekarang Aku sudah mempunyai langganan tetap. Akhirnya Aku membuka usaha konveksi sendiri dan telah mempunyai karyawan sebanyak 12 orang. Usaha konveksi memang cukup menjanjikan karena mempunyai pasar dan permintaan yang jelas. Tak lama usaha itu berjalanan, aku telah mampu membeli rumah dan memiliki tempat usaha sendiri.

Hingga teman-teman senasibku mengatakan kalau aku sudah bisa digolongkan mapan,"mereka memang senang memujiku, tapi aku kadang-kadang terjerumus juga oleh pujiannya.
pergaulanku pun telah naik kelas. Dulunya aku tak mengenal minuman, kini aku telah disibukkan dengan kehidupan malam, yang menurutku hal baru yang harus dinikmati. Sesuai juga dengan kata kawan-kawanku''apagunanya berduit banyak kalau tidak bisa dinikmati, hidup ini hanya satu kali dan singkat''kata mereka sambil tertawa menuangkan segelas wisky tiap malamnya.



Pada suatu Pagi itu, kuterima surat dari Astri.
''Kakanda tercinta yang diperantauan, uangnya sudah adinda terima dan sudah dibayarkan untuk pendaftaran wisuda. Minggu depan adindamu ini akan diwisuda, dan berhak menyandang gelas ST(sarjana tekhnik) yang dulunya ini disebut 'insinyur' kakanda...
Adinda sudah sangat mengharapkan kehadiran kakanda, sudah hampir 5 tahun adinda menanti. Adinda sudah sangat merindukanmu, dan adinda berharap juga, agar kakanda segera meminang adinda....''
Aku terharu dan tergetar membaca surat singkat dari Astri, yang tak seperti surat-surat sebelumnya. Aku merasa bagai tersambar petir disiang bolong, seandainya memang tersambar petir mungkin itu lebih baik, untuk membunuh kerinduan Astri kepadaku.


Hal yang sangat kutakutkan sekarang, bertemu dengan Astri.....
Aku yang sekarang dilanda banyak masalah pribadi membuatku sedikit panik menerima surat Astri ini,
Sudah hampir satu bulan ini Aku sibuk mengunjung rumah sakit dan dokter-dokter specialis untuk memeriksa penyakitku ini.

Dan akhirnya Aku pun memutuskan pulang kampung untuk menemui astri menghadiri acara wisudanya.

Sesampainya dikampung halaman, Aku langsung mampir kerumah Astri dan sambutan hangat dari keluarganya membuatku terenyuh. Mungkin keluarga Astri merasa sangat berterima kasih kepadaku, karena mereka secara ekonomi tidak akan mampu untuk mengulìahkan Astri dan dengan kirimanku Astri bisa menyelesaikan kuliahnya dengan lancar. Satu hal lagi yang membuatku terenyuh, kedua orangtua Astri telah memanggilku dengan sebutan'nak mantu'.
Benar-benar berat bagiku atas panggilan yang diberikan oleh kedua orang astri itu.

Esoknya.
Pada waktu acara wisuda dimulai, Aku dan keluarga Astri berkumpul diaula kampus, betapa bangganya aku ketika diumumkan bahwa Astri lulus dengan nilai 'sangat memuaskan'. kami pun terharu melihat tetesan air mata kebahagian dari sudut matanya yang bening tempat teduhku berkeluhy kesah dulu.

Keesokan harinya, Astri mengajakku pergi jalan-jalan ke tempat wisata sebuah danau dikotaku, mungkin untuk melepaskan kerinduannya. Kami pun berangkat dengan menggunakan sepeda motor, karena tempatnya cukup jauh kami sampai didanau itu menjelang sore. Disepanjang jalan tadi, Astri tidak melepaskan lingkaran tangannya dipìnggangku dan menyandarkan kepalanya dipunggungku. Sepertinya ia memang merindukan kehadiranku.

Astri dan Aku tak putus-putusnya bercerita membahas masa lalu kami yang penuh dengan asmara. Hingga menjelang senja, kami pun masih menikmati pemandangan danau dan cerita asmara tiada hentinya.
Ketika senja telah berganti malam Astri menyarankan agar kami menginap dihotel saja, karena hari sudah terlanjur malam dan tidak memungkinkan lagi untuk pulang. Kamì pun mencari hotel disekitar danau, sesampainya dihotel, Astri hanya memesan satu kamar saja untuk kami berdua. Setelah sampai dikamar, Aneh benar menurutku, pada cuaca yang kurasa begitu dingin Astri malahan ingin mandi, dan langsung mengambil handuk untuk mandi.
Sebelum menuju ke kamar mandi Astri menyapaku''Kakanda tidak ikut mandi juga., tidak Astri''jawabku tergagap. Kakanda tak perlu risau bukan hanya hati ini saja buat kakanda, tapi semuanya adinda akan berikhlas diri''tambah Astri.
Aku masih merasa dingin karena tiupan angin danau tadi, mungkin Aku tidak mandi Astri''jawabku tergagap.

Aku melihat keluguan cinta, keikhlasan hati, ketulusan niat, betapa gadis yang tumbuh bagai sekuntum ini telah merekah, harumnya telah semerbak, hingga mempesona semua kumbang-kumbang dan telah menjaga cintanya hanya untukku.
Setelah selesai mandi, ia menghampiriku dan meremas tanganku dengan tangannya yang masih dingin, seraya berkata''kakanda, adinda ingin mengikuti takdir digaris tanganmu, adinda ingin mengabdi dibawah titahmu, adinda ingin ini kekal hingga liang yang akan memisahkan kita''ia menyandarkan kepalanya didadaku.
Aku hanya bisa menitikkan air mata, lidahku terasa kelu, tanganku mulai membeku, pikiranku tak menentu, hingga air mata tak terbendung lagi dan mengalir deras dipipiku. Astri pun juga merasakan kebahagianku, tapi ia mungkin tak merasakan kesedihanku.

Lalu aku mencoba berlalu, dan berbisik kepadanya''Astri tidurlah, perjalanan kita besok masih jauh. Aku pun melangkah mendekati jendela, membiarkan Astri sendiri dipembaringan. Kubuka jendela dan kulihat bulan disana menghiasi langit diatas danau, sinarnya membuat air dipermukaan danau menjadi menguning keemasan, sehingga memantulkan cahaya, sungguh indah malam ini''renungku. Tapi hatiku masih sedih mengingat ucapan Astri tadi....'

Aku hanya berpikir bagaimana secepatnya kembali ke jakarta, untuk mengubur semua sedihku dan menenggelamkannya diselat sunda.

Malam itu kucoba mencoret-coret diatas kertas menumpahkan semua penyesalan dalam benakku, semua kenistaan dan pengkhianatanku, yang akhirnya membuatku terlelap diujung malam...'



Suara gadis menangis membuatku merasa masih dialam mimpi, tapi sinar mentari pagi menembus lubang-lubang udara pada jendela dan memanah mataku, hingga membuatku tersentak....
Tapi, alangkah terkejutnya aku, melihat Astri menangis tersedu-sedu sambil memegang 'kertas coretan untuk Astri yang kutulis semalam, sebenarnya surat itu hanya ingin kukirimkan melalui pos nantinya, setelah sampai dijakarta.
Kakanda....! ''Pekiknya pilu...
Seandainya aku harus sakit dan sengsara bersamamu, aku ikhlas menjalaninya''ia berlari sambil memelukku diatas tempat tidur..., air mataku yang sudah tercurah semalam, pagi ini tercurah lagi.

Begitu tulusnya Astri kepadaku, walaupun ia telah membaca coretanku semalam yang berbunyi :''Adinda Astri, sebenarnya kakanda ingin menjaga perasaanmu, tapi ini demi kebaikan dan masa depanmu. Kakanda memberanikan diri untuk menulis surat ini. Ketahuilah adinda, mungkin ini sangat menyakitkan, mungkin juga adinda akan membenci seorang pengkhianat yang laknat. Tega menodai janji, memutus sumpah yang telah erat demi kenikmatan sesaat. ''sebenarnya kakanda sudah tidak normal lagi, Jakarta dan dunia malamnya telah memperdaya dan mencuci otak kakanda, hingga setan-setan menghanyutkan kakanda dilimbahnya yang nista, yang penuh dengan para mereka pecinta neraka....
Baru beberapa minggu lalu kakanda menyadari setelah merasakan kelainan pada kelamin dan segera memeriksakan diri ke rumah sakit, juga ke beberapa orang dokter specialis, yang hasil pemeriksaan mereka, kakanda dinyatakan positif mengidap penyakit HIV AIDS....yang tak mungkin disembuhkan lagi, mungkin kalender tahun ini akan menutup perjalanan hidup kakanda, karena penyakit ini sudah menyerang secara fisik, hingga daya tahan tubuh ini sudah mulai berkurang. Kakanda harap, adinda tegar menerima kepahitan ini....''

Raungan tangis Astri dalam pelukan, membuatku tersentak dari lamunanku yang masih mengingat isi coretan semalam.
Astri''bisikku.
Mungkin aku pernah menjadi orang yang sangat kau sayangi, tapi kuingin sekarang menjadi orang yang paling kau benci dalam hidupmu''sambil mengelus rambutnya yang sudah basah oleh keringat dan air mataku.
Astri, mari kita berkemas dan kembali pulang''bisikku, walaupun masih merasakan perasaan perih Astri yang seperti ditusuk dengan 27 jahitan, memang sungguh menyedihkan dan menyakitkan baginya.
Melihat mata Astri yang sudah memerah, kantong matanya sudah mulai membengkak, karena air matanya terus mengalir dalam kekosongan kata dan kebisuan dirinya.

Dalam perjalanan pulang Astri tetap memelukku dan menyandarkan kepalanya dipunggungku, tapi kami tak bicara sepatah kata pun, karena air mata tadi pagi itu telah menjawab semua kekecewaannya.
Aku mengantarkan astri kembali kerumahnya, dan keesokan harinya aku pun membereskan semua pakaianku dan memasukkannya kembali kedalam tas dan mencium tangan kedua orang tuaku, yang terkejut melihatku akan kembali lagi ke jakarta, tapi aku sudah mengatakan padanya kalau aku ada janji dengan beberapa orang langganan yang tak bisa diabaikan, sepertinya mereka mengerti akan keadaan usahaku. Lalu aku meminta pamit pada mereka, mungkin sekaligus minta pamit untuk selamanya, tapi entahlah maut itu tuhan punya kuasa.
Tak lupa juga aku mampir kerumah Astri dan menemuinya.
Aku hanya bisa berbisik kepadanya''sekali lagi Astri, jadikanlah Aku orang yang paling kau benci, karena telah menghianati hatimu yang telah kau jaga utuh untukku. Dan janganlah hanya karena penghianat ini akan mengganggu masa depanmu, ingat Astri kamu masih bertanggungjawab terhadap empat adikmu yang masih membutuhkan biaya dan juga meneruskan harapan kedua orangtuamu....'' Astri hanya membisu dan mengalirkan air mata kekecewaannya.
Aku pun meminta pamit kepadanya dan juga kepada orangtuanya.

Aku membawa kegagalan dan penyesalan sendiri atas pengkhianatanku yang mudah terbawa arus hitam sehingga mengantarkanku ke dunia kelam. Sambil berharap dalam perjalananku bumi segera menelanku hingga aku akan lebih damai diliangku.....



dikampoengku pariaman, 21022010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar