Selasa, 23 Februari 2010

Lihat: Lengkap | Ringkas * Catatan Saya * Catatan tentang Saya * Draf Kadang kuingin menulis sesuatu yang LEBAY...'

Kadang kuingin menulis sesuatu yang lebay, tapi kenapa g'bisa ya? Mungkin ini karena cemooh beberapa orang temanku, hidup ini keras bung''kata mereka sambil bercanda. Mungkin aku hanya banyak berteman dengan para pejantan. Apalagi kul ditekhnik tak kutemukan nafas seorang wanita pun diangkatanku, ada sih 3 orang wanita, tapi rasanya mereka lebih jantan dariku...hehehe..
Apakah karena lingkungan yang penuh kritis juga, karena aku mengikuti ormas dan orpol...tapi, entahlah..

Pernah kumenulis :
1. kamu bagai seorang gadis yang menghiasi pepohonan(sepotong sajak'ku)..eh ada temanku yang bilang'kamu lihat sundel bolong mungkin''berderailah tawa mereka.

2. Kulihat seorang gadis duduk diatas batu, yang hampir membeku.. Eh, ada yang bilang''mungkin yang kau lihat istrinya malin kundang yang udah jadi batu...'katanya ketawa cekikan..

3. Kuintip dibalik daun, yang kulihat hanya dadamu keatas didalam sungai itu'. Lagi-lagi ada yang comment''mungkin kamu telah melihat putri duyung, mujur kamu fer..!.'katanya mencimeas.

4. Bagaimana kubisa terbang, sayapku hanya satu, satunya lagi ada padamu sayang..' kamu lebay banget sih, nonton tu teletubies'berpelukan'..'canda mereka,.

Tapi kuingin juga menulis yang lebay, sebenarnya lebay itu paling banyak penggemarnya. Tapi harus dimulai dari mana ya?

Minggu, 21 Februari 2010

Mak...! Aku nggak Bujang Lagi

Panggil aku Bujang'' kata siBujang memperkenalkan dirinya didepan kelas.

Sabtu, 20 Februari 2010

Coretan untuk 'Astri

Coretan Untuk 'Astri


Tak perlu Kumenyesali lagi dan meratapi nasibKu, mungkin ini garis yang harus Kulalui dengan secuil harapan yang tak akan pernah ada lagi.

Masih kuingat 'Astri, gadis cantik nan manja itu. Adik kelasku, mengingatnya mungkin akan menambah kesedihanku. Betapa mudahnya Aku menjanjikan cinta dan berbisik kecil kepadanya 'Astri, Aku akan merantau ke jakarta menelusuri nasibku, Karena orangtuaku tak akan mampu lagi membiayai dan meneruskan pendidikanku, seandainya Aku berhasil diperantauan nanti, Aku berjanji akan membantu biaya kuliahmu.''bisikku sambil membelai rambut hitamnya yang lurus dan menatapi bola mata beningnya yang polos, ia hanya bisa menitikkan air mata sambil bersandar didadaku. Aku masih terkenang saat itu ditaman belakang gedung sekolah, sewaktu Aku diumumkan telah lulus ujian nasional.

Pada hari keberangkatanku keJakarta, tak lupa Astri menyelipkan kaset 'Ernie dJohan''Teluk Bayur''. Kaset ini supaya kakanda nantinya cepat kembali''ulasnya sambil tersenyum diatas keakraban kedua bibir tipisnya. Sebenarnya lagu itu cocoknya untuk orang yang berangkat dengan kapal melalui pelabuhan teluk bayur, tapi Aku berangkat hanya dengan bus kejakarta''gumamku dalam hati, meledek Astri.

Akhirnya aku sampai juga dijakarta, setelah beberapa dua hari melintasi perjalanan darat, Sesampainya dijakarta, aku langsung menemui keluargaku yang telah duluan merantau dijakarta. Dan aku pun langsung meminta untuk diajarkan cara berdagang dijakarta. Setelah lama kujalani bergabung dengan kawan-kawanku yang berasal dari perantau padang, menjual pakaian mulai dari kaki lima hingga keliling pasar malam bermodalkan nekat dan surat rindu dari Astri semakin membakar semangatku untuk lebih bergiat lagi. aku memang sangat menekuninya, hingga ak ada waktu untuk beristrahat atau bersenang-senang bagiku. kekuatan untuk menapaki masa depan semakin membakarku.

Akhirnya berkat kerja keras dan keberuntungan mempertemukanku dengan dunia konveksi. Aku pun mulai belajar mengenai usaha konveksi, setelah berkenalan dengan beberapa orang bos konveksi, Aku mulai mencoba memasarkan barang-barang konveksi dengan mengunjungi toko, counter, pasar, dan plaza. Berkat kegigihan dan semangat dari Astri, sekarang Aku sudah mempunyai langganan tetap. Akhirnya Aku membuka usaha konveksi sendiri dan telah mempunyai karyawan sebanyak 12 orang. Usaha konveksi memang cukup menjanjikan karena mempunyai pasar dan permintaan yang jelas. Tak lama usaha itu berjalanan, aku telah mampu membeli rumah dan memiliki tempat usaha sendiri.

Hingga teman-teman senasibku mengatakan kalau aku sudah bisa digolongkan mapan,"mereka memang senang memujiku, tapi aku kadang-kadang terjerumus juga oleh pujiannya.
pergaulanku pun telah naik kelas. Dulunya aku tak mengenal minuman, kini aku telah disibukkan dengan kehidupan malam, yang menurutku hal baru yang harus dinikmati. Sesuai juga dengan kata kawan-kawanku''apagunanya berduit banyak kalau tidak bisa dinikmati, hidup ini hanya satu kali dan singkat''kata mereka sambil tertawa menuangkan segelas wisky tiap malamnya.



Pada suatu Pagi itu, kuterima surat dari Astri.
''Kakanda tercinta yang diperantauan, uangnya sudah adinda terima dan sudah dibayarkan untuk pendaftaran wisuda. Minggu depan adindamu ini akan diwisuda, dan berhak menyandang gelas ST(sarjana tekhnik) yang dulunya ini disebut 'insinyur' kakanda...
Adinda sudah sangat mengharapkan kehadiran kakanda, sudah hampir 5 tahun adinda menanti. Adinda sudah sangat merindukanmu, dan adinda berharap juga, agar kakanda segera meminang adinda....''
Aku terharu dan tergetar membaca surat singkat dari Astri, yang tak seperti surat-surat sebelumnya. Aku merasa bagai tersambar petir disiang bolong, seandainya memang tersambar petir mungkin itu lebih baik, untuk membunuh kerinduan Astri kepadaku.


Hal yang sangat kutakutkan sekarang, bertemu dengan Astri.....
Aku yang sekarang dilanda banyak masalah pribadi membuatku sedikit panik menerima surat Astri ini,
Sudah hampir satu bulan ini Aku sibuk mengunjung rumah sakit dan dokter-dokter specialis untuk memeriksa penyakitku ini.

Dan akhirnya Aku pun memutuskan pulang kampung untuk menemui astri menghadiri acara wisudanya.

Sesampainya dikampung halaman, Aku langsung mampir kerumah Astri dan sambutan hangat dari keluarganya membuatku terenyuh. Mungkin keluarga Astri merasa sangat berterima kasih kepadaku, karena mereka secara ekonomi tidak akan mampu untuk mengulìahkan Astri dan dengan kirimanku Astri bisa menyelesaikan kuliahnya dengan lancar. Satu hal lagi yang membuatku terenyuh, kedua orangtua Astri telah memanggilku dengan sebutan'nak mantu'.
Benar-benar berat bagiku atas panggilan yang diberikan oleh kedua orang astri itu.

Esoknya.
Pada waktu acara wisuda dimulai, Aku dan keluarga Astri berkumpul diaula kampus, betapa bangganya aku ketika diumumkan bahwa Astri lulus dengan nilai 'sangat memuaskan'. kami pun terharu melihat tetesan air mata kebahagian dari sudut matanya yang bening tempat teduhku berkeluhy kesah dulu.

Keesokan harinya, Astri mengajakku pergi jalan-jalan ke tempat wisata sebuah danau dikotaku, mungkin untuk melepaskan kerinduannya. Kami pun berangkat dengan menggunakan sepeda motor, karena tempatnya cukup jauh kami sampai didanau itu menjelang sore. Disepanjang jalan tadi, Astri tidak melepaskan lingkaran tangannya dipìnggangku dan menyandarkan kepalanya dipunggungku. Sepertinya ia memang merindukan kehadiranku.

Astri dan Aku tak putus-putusnya bercerita membahas masa lalu kami yang penuh dengan asmara. Hingga menjelang senja, kami pun masih menikmati pemandangan danau dan cerita asmara tiada hentinya.
Ketika senja telah berganti malam Astri menyarankan agar kami menginap dihotel saja, karena hari sudah terlanjur malam dan tidak memungkinkan lagi untuk pulang. Kamì pun mencari hotel disekitar danau, sesampainya dihotel, Astri hanya memesan satu kamar saja untuk kami berdua. Setelah sampai dikamar, Aneh benar menurutku, pada cuaca yang kurasa begitu dingin Astri malahan ingin mandi, dan langsung mengambil handuk untuk mandi.
Sebelum menuju ke kamar mandi Astri menyapaku''Kakanda tidak ikut mandi juga., tidak Astri''jawabku tergagap. Kakanda tak perlu risau bukan hanya hati ini saja buat kakanda, tapi semuanya adinda akan berikhlas diri''tambah Astri.
Aku masih merasa dingin karena tiupan angin danau tadi, mungkin Aku tidak mandi Astri''jawabku tergagap.

Aku melihat keluguan cinta, keikhlasan hati, ketulusan niat, betapa gadis yang tumbuh bagai sekuntum ini telah merekah, harumnya telah semerbak, hingga mempesona semua kumbang-kumbang dan telah menjaga cintanya hanya untukku.
Setelah selesai mandi, ia menghampiriku dan meremas tanganku dengan tangannya yang masih dingin, seraya berkata''kakanda, adinda ingin mengikuti takdir digaris tanganmu, adinda ingin mengabdi dibawah titahmu, adinda ingin ini kekal hingga liang yang akan memisahkan kita''ia menyandarkan kepalanya didadaku.
Aku hanya bisa menitikkan air mata, lidahku terasa kelu, tanganku mulai membeku, pikiranku tak menentu, hingga air mata tak terbendung lagi dan mengalir deras dipipiku. Astri pun juga merasakan kebahagianku, tapi ia mungkin tak merasakan kesedihanku.

Lalu aku mencoba berlalu, dan berbisik kepadanya''Astri tidurlah, perjalanan kita besok masih jauh. Aku pun melangkah mendekati jendela, membiarkan Astri sendiri dipembaringan. Kubuka jendela dan kulihat bulan disana menghiasi langit diatas danau, sinarnya membuat air dipermukaan danau menjadi menguning keemasan, sehingga memantulkan cahaya, sungguh indah malam ini''renungku. Tapi hatiku masih sedih mengingat ucapan Astri tadi....'

Aku hanya berpikir bagaimana secepatnya kembali ke jakarta, untuk mengubur semua sedihku dan menenggelamkannya diselat sunda.

Malam itu kucoba mencoret-coret diatas kertas menumpahkan semua penyesalan dalam benakku, semua kenistaan dan pengkhianatanku, yang akhirnya membuatku terlelap diujung malam...'



Suara gadis menangis membuatku merasa masih dialam mimpi, tapi sinar mentari pagi menembus lubang-lubang udara pada jendela dan memanah mataku, hingga membuatku tersentak....
Tapi, alangkah terkejutnya aku, melihat Astri menangis tersedu-sedu sambil memegang 'kertas coretan untuk Astri yang kutulis semalam, sebenarnya surat itu hanya ingin kukirimkan melalui pos nantinya, setelah sampai dijakarta.
Kakanda....! ''Pekiknya pilu...
Seandainya aku harus sakit dan sengsara bersamamu, aku ikhlas menjalaninya''ia berlari sambil memelukku diatas tempat tidur..., air mataku yang sudah tercurah semalam, pagi ini tercurah lagi.

Begitu tulusnya Astri kepadaku, walaupun ia telah membaca coretanku semalam yang berbunyi :''Adinda Astri, sebenarnya kakanda ingin menjaga perasaanmu, tapi ini demi kebaikan dan masa depanmu. Kakanda memberanikan diri untuk menulis surat ini. Ketahuilah adinda, mungkin ini sangat menyakitkan, mungkin juga adinda akan membenci seorang pengkhianat yang laknat. Tega menodai janji, memutus sumpah yang telah erat demi kenikmatan sesaat. ''sebenarnya kakanda sudah tidak normal lagi, Jakarta dan dunia malamnya telah memperdaya dan mencuci otak kakanda, hingga setan-setan menghanyutkan kakanda dilimbahnya yang nista, yang penuh dengan para mereka pecinta neraka....
Baru beberapa minggu lalu kakanda menyadari setelah merasakan kelainan pada kelamin dan segera memeriksakan diri ke rumah sakit, juga ke beberapa orang dokter specialis, yang hasil pemeriksaan mereka, kakanda dinyatakan positif mengidap penyakit HIV AIDS....yang tak mungkin disembuhkan lagi, mungkin kalender tahun ini akan menutup perjalanan hidup kakanda, karena penyakit ini sudah menyerang secara fisik, hingga daya tahan tubuh ini sudah mulai berkurang. Kakanda harap, adinda tegar menerima kepahitan ini....''

Raungan tangis Astri dalam pelukan, membuatku tersentak dari lamunanku yang masih mengingat isi coretan semalam.
Astri''bisikku.
Mungkin aku pernah menjadi orang yang sangat kau sayangi, tapi kuingin sekarang menjadi orang yang paling kau benci dalam hidupmu''sambil mengelus rambutnya yang sudah basah oleh keringat dan air mataku.
Astri, mari kita berkemas dan kembali pulang''bisikku, walaupun masih merasakan perasaan perih Astri yang seperti ditusuk dengan 27 jahitan, memang sungguh menyedihkan dan menyakitkan baginya.
Melihat mata Astri yang sudah memerah, kantong matanya sudah mulai membengkak, karena air matanya terus mengalir dalam kekosongan kata dan kebisuan dirinya.

Dalam perjalanan pulang Astri tetap memelukku dan menyandarkan kepalanya dipunggungku, tapi kami tak bicara sepatah kata pun, karena air mata tadi pagi itu telah menjawab semua kekecewaannya.
Aku mengantarkan astri kembali kerumahnya, dan keesokan harinya aku pun membereskan semua pakaianku dan memasukkannya kembali kedalam tas dan mencium tangan kedua orang tuaku, yang terkejut melihatku akan kembali lagi ke jakarta, tapi aku sudah mengatakan padanya kalau aku ada janji dengan beberapa orang langganan yang tak bisa diabaikan, sepertinya mereka mengerti akan keadaan usahaku. Lalu aku meminta pamit pada mereka, mungkin sekaligus minta pamit untuk selamanya, tapi entahlah maut itu tuhan punya kuasa.
Tak lupa juga aku mampir kerumah Astri dan menemuinya.
Aku hanya bisa berbisik kepadanya''sekali lagi Astri, jadikanlah Aku orang yang paling kau benci, karena telah menghianati hatimu yang telah kau jaga utuh untukku. Dan janganlah hanya karena penghianat ini akan mengganggu masa depanmu, ingat Astri kamu masih bertanggungjawab terhadap empat adikmu yang masih membutuhkan biaya dan juga meneruskan harapan kedua orangtuamu....'' Astri hanya membisu dan mengalirkan air mata kekecewaannya.
Aku pun meminta pamit kepadanya dan juga kepada orangtuanya.

Aku membawa kegagalan dan penyesalan sendiri atas pengkhianatanku yang mudah terbawa arus hitam sehingga mengantarkanku ke dunia kelam. Sambil berharap dalam perjalananku bumi segera menelanku hingga aku akan lebih damai diliangku.....



dikampoengku pariaman, 21022010

Selasa, 16 Februari 2010

Baliho SiCaleg____

disepanjang jalan dikotaku sudah dihiasi oleh foto2 artis yg baru aku kenal,malahan ada juga foto artis yang dipasang sambil ketawa,sambil senyum,,,ada juga yang memanjat pohon dan tiang listrik sambil ketawa cekikan,,,,,,(hay bung,,,,kamu ketawa melihat penderitaan rakyatmu,kata seorang pemulung dengan tegasnya)
memang budaya politik kita masih dibawah rata2(nilai disekolahan)
aneh memang????????
semua para caleg terlalu mendewakan BALIHO.............
ada suatu kejadian dikotaku,
disebuah pohon ada baliho caleg sambil ketawa,pada waktu itu terjadi kecelakaan tabrak lari,sipengendara motor terluka parah sambi l mengaduh-aduh meringis kesakitan dia menyandarkan diri didekat sebuah pohon,sambil mengeluarkan HP ia mengabari temannya bahwa ia mendapat kemalangan,
beberapa saat temannya datang dengan wajah sedih melihat penderitaan temannya yang tertimpa musibah,
tapi ketika melihat orang yang tersenyum dibelakangnya,
hatinya pun menjadi panas,dengan sekuat tenaga baliho pun ditendang sehingga terluka parah dan mengalami robek-robek,,,,,
semua orang yang lewat melihat kejadian itu hanya tersenyum tipis,
mungkin orang-orang itu berpendapat(,,,tersenyum diatas penderitaan orang lain,,,>


saya mungkin ada salutnya juga sama jefrie geofanie,kalo masang baliho g pernah mengganggu kenyamanan,karena baliho yang dipasang tempatnya sudah disediakan oleh pemerintah daerah,
emang sih,,,bayar pajak,,,he

sebenarnya baliho bukanlah alternatif untuk mencari suara,baliho itu hanyalah media untuk memberitahukan bahwa kita ini menjadi CALEG,,,,,,
belum menyuruh orang memilih kita,
,
,
sepetinya mencari suara itu hanyalah dengan cara bersilahturahmi,pendekatan dengan masyarakat,mempunyai aktifitas dengan masyarakat,kegiatan yang menyentuh masyarakat.
karena yang memilih kita itu bukan CAMAT,BUPATI,WALIKOTA.KEPALA-KEPALA ADAT,TOKOH-TOKOH DISEPANJANG JALAN yang ngakunya punya ribuan suara dibelakangnya(ngapain g'ikut caleg sekalian karena udah punya ribuan suara,,,he)

Ikut-ikutan____________

aneh memang,,,,rakyat dinegri ini memandang politik itu bagai kue tar,kalo g'kebagian rugi,

waktu MCU ada seorang caleg bertanya sama temannya,kalo kita duduk dilegislatif nanti kerja kita apaan ya?
dijawab sama temannya,saya juga g'tau sedangkan partai yang mencalonkan saya,nomor partainya saja G'ingat malahan kepanjangan partainya juga g'tau,
oh.........
berarti kamu jadi calon hanya IKUT-IKUTAN aja ya?????
iya.
berarti kita sama dong,,,,(he,,...keduanya pun tersenyum simpul)
kapan lagi kita menjadi anggota dewan yang konon kabarnya bisa hidup enak,
saya ini mencaleg karena kemaren g'lulus pns,kalo melihat peluangnya lebih besar peluang menjadi legislatif daripada pns,
pns kita bersaing dengan ribuan orang untuk mendapatkan peluang lulus yang sangat kecil,legislatif kita bersaing hanya dengan ratusan orang malahan hanya puluhan orang dengan kesempatan yang cukup besar,
jadi saya menganggap jadi caleg ini sama dengan mencari pekerjaan,,,(he,,emang jujur ni orang)
oh....(keduanya pun kembali tersenyum simpul,karena mempunyai maksud dan tujuan yang sama)

Begitulah sebagian besar calon legislatif kita yang akan mewakili aspirasi rakyat,sungguh menyedihkan tapi memang beginilah keadaannya.
berawal dari kesalahan partai-partai yang asal-asalan menempatkan calegnya tanpa pengkaderan lebih dulu,tanpa adanya pembekalan,SDM yang sangat minim,yang penting mau dan sanggup bayar.
sebenarnya caleg itu harus mengerti dengan UU,HUKUM dan POLITIK,setelah itu harus mempunyai mental,spritual dan financial.
calon anggota DPRD II itu harus merasa selevel dengan bupati/walikota spritualnya
calon anggota DPRD I itu harus merasa selevel dengan gubernur spritualnya
calon anggota DPR itu harus selevel dengan presiden spritualnya
tapi dan tapi lagi,,,,,,,,apa yang terjadi dinegri ini,,,,,
kita jangan bertanya pada rumput yang bergoyang,
karena rumput g'bisa bicara,yang bisa bicara itu kita,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,!!!!!!!!!
jangan jadikan pemilu ini acara bagi-bagi kue,,,,,!!!!!!!!!!!
pemilu ini menentukan nasib negri ini kedepannya,.........

IBUKU RINDU PEREMPUAN

IBUKU RINDU PEREMPUAN

“ Sebut saja namaku Panji !”. Begitulah caraku berkenalan dengan teman-teman yang baru kukenal. Aku adalah anak kedua dari lima bersaudara, kakakku umurnya dua tahun lebih tua dariku dan aku dua tahun lebih tua dari adikku. Kata orang: “ Ibuku beranak terlalu rapat, jarak umurku dengan kakakku hanya dua tahun.’’ Diusia kakakku yang baru sembilan tahun, dia sudah mempunyai empat orang adik, tetapi semua itu hal yang wajar, karena ibu selalu punya impian mempunyai anak perempuan. Namun kenyataan berkata lain, sudah lima kali ibuku melahirkan anaknya selalu laki-laki. Sepertinya ibu tetap bahagia saja, walaupun belum dianugrahi anak perempuan.

Sebenarnya ibuku hanya terpengaruh oleh adat suku Minangkabau. Dalam suku Minangkabau generasi penerus keluarga itu adalah anak perempuan (matrilineal). Hal inilah sedikit yang membebani dirinya, mungkin juga ada perasaan lain yang menghantui ibuku seperti : membantu pekerjaan rumah, tempat berkeluh kesah dan lain sebagainya. Kebiasaan adat di Minangkabau, laki-laki kalau sudah berumah tangga tinggal di tempat rumah istrinya. Hal inilah yang membuat ibuku mungkin takut ditinggal sendirian.

Kadang-kadang aku sering menyampaikan kepada ibu berulang-ulang dengan sambil berseloroh tentang slogan program KB ” cukup dua anak saja, lelaki dan perempuan sama saja. lantas ibuku langsung membalas” Bagaimana mungkin laki-laki itu sama dengan perempuan, laki-laki itu tidak bisa hamil dan melahirkan ! ” jawab ibuku simpul. Tapi kenapa ya ? “slogan KB mengatakan lelaki dan perempuan sama saja? ’’ Aku tak mau memikirkan itu, tetapi dalam hatiku telah berjanji akan berbuat yang terbaik untuk ibuku.
Dalam perjalanan, aku masih melamun diatas mobil angkutan pedesaan yang akan mengantarkanku menuju suasana baru.

Mobil pun berhenti di persimpangan, aku dan ibu serta kakakku harus berjalan kaki sejauh 1 kilometer menuju lokasi SDN 16. Maklum lokasi SD ini masih IDT yang jauh dari pusat kota. Aku terpaksa sekolah disini, karena ibuku bertugas sebagai pengajar dan ditempatkan pada sekolah ini. Padahal ibuku waktu dulu telah ditempatkan di SDN yang dekat dengan rumah kami, tetapi ibuku menolaknya dengan alasan terlalu dekat. ”Guru yang mengajar disitu sudah terlalu banyak dan juga sudah berpengalaman” begitu kata ibuku. Rasanya dengan kehadiran ibuku di SDN dekat rumahku tidak akan ada arti dan nilai tambahnya. Ibu lebih mau mengabdi di SDN 16 ini, karena SDN ini sangat membutuhkan dan kekurangan guru.

Panas mentari pagi sepertinya tak bersahabat lagi denganku, sudah 1 jam membakar ubun-ubunku. ”Menyesal rasanya tidak membawa topi” kataku dalam hati. Padahal tadi aku sudah diingatkan oleh ibuku untuk membawa topi. Upacara pada hari Senin pagi adalah hari pertamaku menginjakkan kaki di SDN 16 ini.
Badanku jadi lemas, setelah mengikuti upacara bendera tadi pagi. Pemimpin upacara berpidato terlalu lama sekali dan aku pun sudah terbiasa mendengarkan ucapan pemimpin upacara tadi, karena kami hidup serumah dan telah menjalani hidup bersama lebih kurang 6 tahun.
Setelah sampai dikelas, aku memilih bangku barisan depan. Disampingku sudah duduk anak baru juga badannya besar, agak gemuk dan matanya sipit. Menurutku, anak ini hanya punya jarak pandang lima meter saja, karena matanya terlalu tertutup oleh kelopak matanya.

” Kenalkan Panji ” kataku padanya. Aku pun mengulurkan tangan kepada teman sebangku itu. ”Tyson” jawabnya pelan saja seakan penuh beban.
Ahh….aku mulai berpikir, temanku ini sepertinya tak satu ide denganku. Aku lebih suka punya teman yang ceria dan periang.
Sebenarnya aku mau mengobrol dengan Tyson, tetapi ia asyik saja dengan aktivitasnya mencoret-coret buku barunya.

” Mungkin barangkali tyson belum tahu kegunaan buku itu?” jawabku dalam hati saja.

” Selamat pagi anak-anak…!!! ” Sapa Bu’ guru kepada murid. ”Selamat pagi Bu’guru ! ” sahut murid-murid kelas satu menyambut salam dari Bu’Dahniar secara serentak.

Bu’dahniar memasuki kelas kami, dia adalah guru kelas satu. Dia pun mulai bertanya bertanya kepada murid-murid yang malu-malu dan lugu itu: ” bagaimana perasaan kamu di dalam kelas ini ’’Sapa beliau, tetapi tak seorang murid pun yang menjawabnya. Bu’Dahniar mungkin sudah berpengalaman melakukan penyesuaian dengan murid-murid baru. Dia lebih dulu memperkenalkan dirinya dan bercerita sedikit tentang dirinya, setelah itu ia meminta kepada kami untuk memperkenalkan diri dan bercerita tentang kami. Tetapi dari 32 orang murid baru itu hanya 4 orang murid saja yang berani tampil ke depan, salah satunya aku. Sebenarnya aku tidak berani, tetapi aku teringat pesan ibu ”jangan kecewakan ibu” kata ibuku sewaktu aku didaftarkannya masuk sekolah ini.

Sepertinya Bu’Dahniar maklum dengan hal itu, karena kami semua mempunyai latar belakang yang berbeda dan tidak semua orang itu sama. ” Murid-murid yang lain akan mendapat giliran untuk tampil di depan kelas” katanya Bu’Dahniar sambil mengingatkan. Untuk memecah kekakuan murid-murid baru, Bu’Dahniar bercerita tentang tokoh-tokoh yang berasal dari Sumatera Barat seperti M.Hatta, M. Natsir, Hamka, Mr.Amir Syafruddin Prawiranegara dan masih banyak tokoh-tokoh lain berasal dari Sumatara Barat. Mereka itu dikenal karena mempunyai keberanian dan selalu menjadi yang terdepan.

Bu’Dahniar melanjutkan kata-kata imajinasinya : ”Jadi kita sebagai generasi muda tidak boleh mengecewakan mereka, kita harus membuat mereka bangga dengan cara belajar yang baik, agar bisa menjadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsa” terang Bu’Dahniar.

” Teng…teng….teng…!!!” lonceng berbunyi tanda pelajaran telah usai. Bu’ Dahniar mengakhiri pembicaraannya, Dia menyuruh kami berdo’a dulu sebelum pulang. Kelas kami lebih dulu keluar, aku duduk dekat pagar sekolah yang separohnya sudah mulai roboh, sambil menunggu kakakku yang masih belajar dikelas tiga. ”Ibuku sepertinya belum selesai mengajar dikelas enam” kataku dalam hati.

Tak lama aku menunggu, mereka pun sudah keluar dari kelasnya. Kami pun kembali berjalan kaki menelusuri jalan-jalan yang masih berbatu, berkerikil, dan berdebu dikala musim panas. Kadang kala ketika dimusim hujan datang jalan sering becek. Setelah sampai dipersimpangan jalan, kami langsung naik mobil angkutan pedesaan yang akan mengantarkan kami pulang.

Ingin rasanya aku cepat-cepat sampai dirumah, rasa haus dan lapar sudah menggelitik perutku. Setelah itu aku ingin tidur siang, tetapi pekerjaan rumah lebih dulu menungguku,mencuci piring dan menyapu rumah. Hal itu adalah tugas wajibku, sepertinya aku sudah tekan kontrak saja dengan ibuku untuk pekerjaan ini. Tetapi aku tak tahu batas akhir dari kontrak ini, kakakku juga punya tugas yang telah menunggunya, yaitu pergi berbelanja ke pasar untuk membeli persiapan dapur. Maklum kami tidak punya saudari perempuan untuk melakukan pekerjaan itu.

Bulan baru telah tiba, seperti biasanya ibu selalu membelikan kami sesuatu buat anaknya setiap bulan baru. Kali ini ibu membelikan kami pakaian, tetapi anehnya pakaian yang dibelikan lebih cocoknya dipakai oleh anak perempuan. Kami pun protes dan tak mau memakainya, karena apabila kami pakai sudah pasti kami akan ditertawakan oleh teman-teman. Sepertinya ibuku tak mau peduli dengan keluhan kami. Dia pun sepertinya tak ada niat untuk menukar kembali pakaian itu ke toko busana. Ternyata ibuku betul-betul merindukan seorang perempuan sampai-sampai pakaian yang ia beli adalah pakaian untuk perempuan.Walaupun kami mampu untuk membantu ibu menyelesaikan pekerjaan rumah, tetapi ternyata belum mampu menutupi kerinduannya pada seorang anak perempuan.

##

Empat tahun telah berlalu dengan cepatnya. Aku sudah duduk dikelas empat SD, rasanya tidak ada yang berubah pada diriku, kecuali pakaianku yang diganti tiap tahunnya. Dan Ibuku pun kembali melahirkan anak laki-laki, hingga telah bertambah anggota keluarga kami satu orang lagi. dan genap menjadi enam. ”Aah….sungguh aneh ” menurutku. padahal ibuku telah mengikuti dan menuruti berbagai masukan, ide-ide kreatif serta saran dari sesepuh atau para orang pintar dikampung, seperti menukar celana bayi kita dengan orang yang banyak anak perempuannya. yang anehnya lagi ada juga metode melakukan pencurian, kita harus mencuri salah satu perkakas alat dapur orang lain tanpa sepengetahuan yang empunya...sungguh berat perjuangan ibu untuk mendapatkan sesosok perempuan pengganti ragam dirumah kami.Tetapi ibu selalu tersenyum, walaupun keinginannya belum terkabulkan.

Pagi ini aku berangkat sekolah hanya berdua dengan kakakku, ibu baru saja mengambil cuti, karena baru saja melahirkan. Teman-temanku dikelas empat masih cukup 32 orang. Lokal kami tetap penuh, hal itu dikarenakan kami selalu belajar bersama dan saling mengisi kekurangan. Teman-temanku sehabis pulang sekolah membantu orang tuanya dirumah untuk menambah nafkah keluarganya, Seperti Harun teman sebangkuku dikelas empat ini, ia menggembala ternak, kesawah atau keladang membantu orangtuanya. Lihat juga ijah, perempuan lincah dan ramah ini yang selalu menjadi bintang juara dikelas kami. Setiap paginya ia harus mengantarkan kue dan goreng-gorengan buatan ibunya kewarung-warung, ijah selalu terlambat pergi kesekolah. Tetapi mereka selalu memanfaatkan waktu luang untuk belajar pada malam harinya. Setelah selesai mengaji mereka pun berkumpul untuk belajar, sepertinya semangat mereka telah mengalahkan semua kesulitan-kesulitan ekonomi yang membelenggunya. Dalam pikiran mereka hanya menggapai cita-citanya untuk merubah kehidupannya, mereka merasakan seolah cita-cita itu sudah ada didepan matanya. Memang banyak diantara teman-temanku pakaian dan sepatunya masih awet dari kelas satu sampai kelas empat, sepertinya pakaian dan sepatu mereka sangat setia. Seakan-akan sepatunya tak mau berpisah, tetapi semua itu bukan karena pakaian dan sepatunya awet atau setia, melainkan kehidupan mereka belum terlepas dari belenggu ekonomi, yang memaksa mereka untuk menerima keadaan seadanya. Aku sangat bersyukur nasibku lebih baik dari teman-temanku.

Besok adalah hari Pendidikan Nasional, untuk pengembangan bakat siswa kepala sekolah dan guru-guru mengadakan lomba membaca puisi dan melukis yang boleh diikuti oleh murid kelas empat,lima dan enam. Adapun hadiahnya adalah tabanas dan trophy.
Aku pun ikut mendaftar dalam lomba membaca puisi, ternyata lomba membaca puisi cukup banyak diminati murid-murid. Jumlah peserta 47 orang murid, salah satunya adalah aku. Dihari yang telah ditunggu-tunggu, akupun mendapat giliran untuk tampil kedepan. Aku sudah siap untuk membacakan puisi yang sudah aku karang sendiri yang berjudul ” Semangat Jiwaku.”



“Semangat Jiwaku”


Kutatap sepatuku
Seolah selalu tertawakanku
Kutatap celanaku
Seolah mengerdipkan matanya padaku
Kutatap bajuku
Lusuh, kuyu tapi tetap setia denganku
Kutatap langkahku, pilu…..
Tapi semua itu tak kuhiraukan
Semangat jiwaku, akan mengalahkan semua itu
Aku hanya ingin ilmu dan cita-citaku………….




Setelah mendengarkan puisiku, tepuk tangan dan sorak-sorai terdengar keras dari kawan-kawan dan hadirin yang hadir. Semua hadirin menghadiahkan tepuk tangannya kepadaku. Aku jadi gugup, karena aku belum pernah tampil penuh dengan gaya-gaya, yang seolah-olah dalam cerita puisi tadi adalah aku.

Teman-temanku banyak yang suka dengan gaya dan puisiku. Menurut mereka lebih punya keberanian untuk tampil di depan umum. Diantara peserta yang lain sewaktu membacakan puisi, ”mereka membacakan puisi seperti membaca teks proklamasi” kata temanku. Diko memang senang mengejek teman-teman yang lain, padahal dia sendiri tidak punya kemampuan dan keberanian, tetapi dia suka menolong teman-teman dalam kesusahan, karena Diko mempunyai gaya hidup yang berkecukupan. Orangtuanya salah satu pemilik toko emas terlaris di pasar dekat tempat tinggalku.

Dan hari yang kutunggu-tunggu akhirnya datang juga, pengumuman pemenang puisi adalah pada upacara bendera hari ini.

Dalam upacara bendera senin pagi ini, kepala sekolah mengumumkan pemenang lomba puisi dan melukis, ” PANJI….” kata kepala sekolah menyebut namaku. Dia mengatakan bahwa aku sebagai pemenang dalam lomba puisi, jantungku rasanya seperti berhenti, wajahku memerah karena sebelumnya aku tidak pernah ikut dalam lomba acara apapun, ternyata yang jadi penentu dalam penilaian juri adalah gaya dan isi puisi. dan kemenanganku tak ada unsur nepotismenya, itu memang hasil murni dewan juri.

Kakiku terasa amat berat untuk maju kedepan untuk menerima hadiah. Kepala sekolah menyalamiku dan mengucapkan ” selamat atas keberhasilanku sebagai pemenang pembacaan puisi”. Teman-temanku pun bertepuk tangan sambil berulang-ulang menyebut namaku,aku menjadi terharu, sayangnya ibuku tidak bisa menyaksikan karena masih dalam masa cuti.
Dalam penyampaian kepala sekolah, ia mengatakan ”Saya dan guru-guru yang lain telah sepakat untuk menyisihkan sedikit gaji kami untuk membantu murid-murid yang memang harus diperhatikan.” Tetapi kami mungkin tidak bisa langsung membantu semuanya, karena keterbatasan dana. Ternyata kepala sekolah menanggapi puisiku.
Aku sangat senang dan gembira mendengarkan rencana dari pihak sekolah, untuk ikut membantu teman-temanku, walaupun gaji guru itu belum memadai untuk dirinya sendiri. Tetapi karena semangat murid-muridnya untuk menuntut ilmu telah membuat mereka merasa wajib untuk membantu.

Dan kembali empat tahun berlalu, aku pun sudah duduk dibangku kelas dua sekolah menengah pertama (SMP). Ibuku kembali melahirkan,!!!! hahahahhaha......, Seperti biasanya ibuku melahirkan kembali anak laki-laki lagi. Tetapi tak sedikitpun rasa kecewa diwajah ibuku, karena alasan ibuku itu adalah anugerah dari yang kuasa. Malahan ibuku merasa bangga, karena dari sembilan anggota rumah tangga, ibuku adalah makhluk paling istimewa. Dia perempuan satu-satunya dirumah kami, tak ada diantara kami yang akan mampu menyainginya,
”Dalam hidup ini kita sebagai manusia hanya berusaha dan menjalaninya, sedangkan keputusan itu ada pada Allah SWT, kita tak perlu menyesali sesuatu jika tidak akan merubah keadaan” kata ibuku sambil tersenyum manis.


Aku dan kakakku hanya mengangguk-angguk sedih, karena kontrak perpanjangan pekerjaan rumah akan ditambah lagi. lebih-lebih ibuku ada rencana untuk melanjutkan kuliahnya. tentu saja tugas kami akan semakin banyak.....heheheehe..., i love u mom"gumamku dalam hati.

Sapu-Sapu LidiKu

SAHABATKU,HANYA PELANGI
koeraitadji,7april09

Udara pagi merasuk jantungku, aku terus berharap angin akan bertiup menjelang fajar ini untuk merontokan dedaunan yang sudah tua. Seperti biasanya aku berdiri dipersimpangan menunggu bus antar kota yang akan membawaku dan sapu-sapu lidiku kekota padang.
“ Tumben,,!!masih sepi, mak’inah kok belum datang?” kataku dalam hati. Wanita tua itu biasanya selalu bersama-sama denganku ke kota padang setiap paginya membawa telur-telur ayam kampung dengan keranjang usangnya. Aku masih berdiri sendiri dipersimpangan, hanya ditemani kokok ayam yang saling bersahutan. “masih jam 4 pagi.” Gumamku dalam hati.
Dari jauh aku sudah melihat wanita tua itu dengan keranjang usangnya, ia meletakkan keranjang telurnya disamping sapu lidiku. “Sudah lama menunggu busnya,jang?” Kata mak’inah menyapaku. “Belum terlalu lama mak” jawabku. “ Mungkin busnya masih dalam perjalanan”tambahku lagi.
Sebenarnya namaku bukan bujang, tetapi dikampungku anak lelaki yang masih kecil biasa dipanggil bujang atau buyung. Itu adalah nama panggilan kesayangan kata beberapa sesepuh dikampungku. Aku diberi nama oleh orangtuaku, “Surya Permana “. Mereka berharap aku dapat menjadi penerang dalam keluargaku. “ Layaknya mentari menyinari bumi”ungkap mereka.
Diujung jalan sudah terlihat lampu bus tua yang sudah redup itu, aku hafal betul dengan lampu bus tua itu. Bus itu pun berhenti dipersimpangan dan kami pun menaikinya, biasanya perjalanan menuju kota padang memakan waktu kurang dari satu jam.
Bus tua pun melaju dengan tenaganya yang masih tersisa dan tertatih-tatih , sesekali berhenti untuk menaikan penumpang yang sudah biasa menjadi langganan paginya
Kami pun sampai dipasar pagi kota padang, mak’inah dan aku berpisah dipasar pagi. Mak’inah menjual telur-telurnya ke warung-warung, sedangkan aku menjajakan sapu-sapu lidiku disekitar pasar pagi dan melanjutkan perjalananku membawa sapu-sapu itu menuju perkantoran pemerintah atau komplek perumahan. Aku menjual dengan cara meletakan sapu-sapu itu diatas kepalaku. Kepalaku sanggup mengangkat sapu itu sekitar 10-12 buah sapu dan aku harus melakukan ini setiap paginya sebelum berangkat kesekolah, karena kedua orangtuaku tidak mampu lagi menanggung biaya hidup keluarga kami dengan mata pencaharian mereka sekarang ini.
Ayahku bekerja sebagai tukang panjat kelapa dengan menggunakan monyet. Dikampung monyet itu disebut “beruk”, sedangkan ibuku bekerja sebagai pengrajin sapu lidi. Kedua orangtuaku mempunyai penghasilan jauh dibawah upah minimum regional (UMR). Tentu saja penghasilan seperti itu tidak akan mampu memenuhi kebutuhan hidup keluarga kami yang beranggotakan enam orang.
Aku adalah anak yang paling tua, masih kelas empat sekolah dasar. Kedua orangtuaku sudah mengharapkanku agar aku dapat membantu mereka dalam mencari nafkah. Sebenarnya mereka tidak menginginkannya, aku sangat merasakan betapa pahitnya kenyataan ekonomi dalam keluarga kami. Karena tekanan dan kenyataan ekonomi yang pahit itu telah memaksa mereka menyuruhku untuk bekerja.
Langkahku terhenti disebuah perkantoran pemerintah, masih setengah enam pagi, sapu-sapu lidiku masih banyak yang tersisa.
Aku berharap penjaga kantor pemerintah ini memborong sapu-sapuku. Kantor ini adalah langgananku setiap awal bulan.
”Jang…jang,!!!” panggil penjaga kantor pemerintahan itu. ”Alhamdulillah…! ” ternyata penjaga kantor itu memanggilku.
” Masih tersisa berapa jang sapu lidinya? ” tanya penjaga kantor pemerintahan itu.
“ Enam, pak” jawabku penuh gairah.
”Saya ambil saja semuanya jang, mungkin enam ini masih kurang” kata penjaga kantor itu lagi.
Taman–taman dilingkungan kantor itu dikelilingi oleh pohon-pohon mahoni yang sudah tua. Lapangan parkirnya terbuat dari semen, tentu saja membuat sapu lidi itu tidak tahan lami
”Mungkin besok bisa saya tambah lagi sapunya Pak”jawabku.
Betapa senangnya hatiku dipagi ini, ditambah lagi besok sudah ada pesanan.
Aku harus segera kembali kepasar pagi untuk menunggu mobil yang akan kutumpangi pulang. Waktu sudah menunjukkan pukul enam lewat lima belas menit. Sampainya dipasar pagi bus tua itu sudah menungguku lagi, tetapi diantara penumpangnya tidak kutemukan lagi penumpang yang bersama denganku dipagi hari tadi. Kali ini penumpang bus tua itu banyak dari karyawan dan pegawai-pegawai yang bekerja dikotaku. Mereka selalu berjumpa denganku ketika aku akan pulang setelah selesai menjual sapu-sapuku. Kadang-kadang aku merasa iri melihat mereka berpakaian rapi dan berseragam, sedangkan aku masih kumal,lusuh dan berdebu.
Jam tujuh lewat lima belas menit, aku telah sampai dirumah dan langsung saja mandi bersiap-siap pergi kesekolah. Hari ini khabarnya bu’endang akan mengumumkan tentang kurikulum baru kepada kami murid kelas empat.
“Makan dulu jang, nanti kamu masuk angin” kata ibu sambil merangkai lidi-lidi dari daun kelapa yang akan dijadikan sapu.
“ Iya, bu” jawabku, sambil menyiapkan buku-buku pelajaran yang akan dibawa kesekolah nanti.
Aku memang tidak tahan lagi, rasa lapar ini sudah kurasakan semenjak dikota padang tadi. Lambungku rasanya sudah membeku, suara-suara kecil telah berceloteh diperutku. Tetapi aku harus menjual sapu-sapu itu dulu, untuk kebutuhan keluargaku.
Aku langsung saja ke dapur sambil mengambil piring dipanci yang sudah tersedia nasinya. Nasi itu baru saja dimasak ibuku tadi pagi. Kulihat dilemari makanan sudah tersedia sayur daun singkong dan ikan teri yang dicampur dengan cabe hijau goreng kesukaanku. Aku makan dengan lahapnya tanpa menghiraukan yang disekelilingku, karena aku harus bergegas dan waktu sudah menunjukkan pukul setengah delapan. ” Lonceng tanda masuk kelas pasti sudah berbunyi” gumanku dalam hati. Bu’endang sudah sering menegurku, karena sering terlambat. Sebenarnya bu’endang maklum dengan kenyataan yang aku hadapi, tetapi ia harus menegakkan disiplin sekolah, karena itu adalah tugasnya.
“ Bu aku berangkat dulu” kataku sambil menyambar tas kulit hitam, pemberian bu’endang sewaktu aku mendapat nilai terbaik dikelas kemarin.
“Jang..!!”, panggil Ibu. ” Nanti mampir dulu ditempat mak’inah, katakan padanya kalau telur itik kita sudah banyak yamg terkumpul ”kata ibu. Dengan logatnya yang sudah terbiasa bicara lantang. Ibu seolah-olah bicara kepadaku seperti komandan memberikan perintah kepada prajuritnya.
”Iya, bu” jawabku, sambil berlari menuju ke sekolah yang tak jauh dari rumahku.
Bu’endang kembali tersenyum tipis melihat kebiasaanku yang sering terlambat.
”Kenapa terlambat lagi surya?” katanya dengan senyuman yang seolah menyindirku.
Aku tak mau menjawab, karena sudah banyak alasan yang aku sampaikan setiap terlambat masuk kelas. Malahan seringkali alasanku itu-itu saja, lucunya pertanyaan bu’endang itu-itu juga, menanyakan kenapa aku terlambat.
“Sudahlah surya,silahkan kamu duduk dibangkumu” kata bu’ Endang. sambil mempersilahkan aku duduk.
Ibu mau menyampaikan sesuatu kepada kalian semua. ” Sebenarnya kami dipihak sekolah tidak mau menerima perintah dari dinas ini. Tetapi untuk materi pelajaran pada kenaikan kelas besok berpedoman kepada kurikulum baru, jadi buku-buku kurikulum yang lama harus diganti dengan buku-buku kurikulum yang baru supaya kita dapat menyesuaikannya dengan perkembangan-perkembangan ilmu pengetahuan pada saat ini” tegas bu’endang menyampaikan dengan suara yang agak berat.
Karena dia tahu bahwa sebagian dari kami itu tidak sanggup untuk membeli buku-buku itu. Buku-buku yang kami pakai ini diperoleh secara turun-temurun. Aku mendapatkan buku-buku pelajaran ini setelah meminjam kepada tetanggaku. Dia berpesan kepadaku untuk menjaga buku-bukunya dengan baik, karena nanti setelah aku naik kekelas lima buku-buku itu harus diserahkan kepada adiknya yang sekarang duduk dikelas tiga. Begitulah kami memperoleh buku-buku pelajaran ini dengan cara estafet, bu’endang tahu betul dengan hal ini.
Aku melihat diantara wajah teman-temanku, sepertinya mereka mau protes saja. ”Kenapa harus ada kurikulum baru dan kenapa kami tidak digratiskan saja buku-buku barunya?” protesku pada teman. Toh.!!! kami-kami ini nantinya juga akan mengabdi kepada negara? tapi semua itu tidak mungkin disampaikan kepada bu’endang. Karena bu’endang hanya menjalankan kebijaksanaan dari program Dinas Pendidikan.
Langkahku berjalan gontai, bagaikan singa yang tak dapat mangsa pulang kerumah. Sepanjang jalan tadi aku terus memikirkan uang untuk membeli buku-buku baru itu. Aku mungkin tidak sanggup meminta uang pada ayah untuk membeli buku. Kemaren beliau baru membayar iuran sekolahku dan adikku yang sudah menunggak berbulan-bulan. Ditambah lagi biaya rumahtangga yang semakin hari semakin membengkak.
Sedangkan aku hanya bisa mendapatkan uang lebih ketika musim hujan, karena dimusim hujan daun-daun yang sudah tua berjatuhan dan berserakan mengotori perkarangan kantor atau rumah, sehingga pesanan sapu lidi menjadi meningkat. Namun ketika sepinya aku harus menjual sapu-sapuku kepada pedagang pengumpul dengan harga murah.
Sore itu, aku melamun ditepi sawah memandangi langit yang menjanjikan harapan kepada semua insan. Aku ingin menyoraki siapa saja yang ada dilangit itu. ”Pelangi….!!!, kenapa kau tidak tampakan dirimu?. Apakah hujan tidak mau lagi mendampingimu?” kataku sembari memandang langit. Seandainya kau tampakkan dirimu, mungkin dedaunan itu akan bertebaran dihari esoknya. Orang-orang pasti membutuhkan sapu-sapuku untuk membersihkan perkarangannya dan aku bisa menyisakan uangku untuk membeli buku-buku baru itu. Pelangi aku ingin jadi sahabatmu…! ” pintaku dalam hati.
Aku bergumam sendiri, mengharapkan hujan turun setiap malamnya!, agar sapu-sapuku nanti banyak laku terjual.
Tanpa diluar sadar, aku tertidur dengan pulasnya hujan menyiramiku dengan derasnya. Akupun terbangun dan mencari tempat untuk berteduh, tiupan angin menemani hujan disore itu. Setelah itu hujan pun reda, kulihat diujung sana membentang warna-warna yang indah menghubungkan langit dan bumi. Aku masih terpana dan kembali mengingat hasrat-hasratku.
Aku melihat pelangi diujung sana, “oh….! pelangi engkau memang sahabatku, aku ingin kau hadir disetiap sore ini membawakan angin untukku, rontokkan dedaunan itu”aku berbisik sendiri didalam hatiku.
Sesaat senja datang pelangi pun hilang menghiasi langit disore itu dan berganti dengan lembayung senja. Aku melangkah dengan semangatku,karena esok pagi akan banyak orang-orang yang membutuhkan sapu-sapuku.
Malam pun menyambut senja,aku telah sampai dirumah. Kodok-kodok sawah berdendang menyambut hujan disore tadi untuk memecahkan kesepian didesaku.
Aku tertidur sambil memikirkan kemanakah langkahku esok pagi, rasanya hampir seluruh komplek-komplek dan perkantoran dikota padang telah aku jelajahi. Kesunyian dirumahku mengantarkanku melewati malam.
Pukul setengah empat pagi, ibu membangunkanku untuk mengikat sapu-sapu lidi itu. Setelah selesai kuikat, aku membawanya kepersimpangan untuk dibawa lagi kekota padang. Sampainya dikota padang aku langsung menuju komplek perumahan, karena menurutku jika memasuki satu komplek dimusim hujan ini, aku tidak perlu lagi menjajakan sapu-sapu ini berkeliling.
Benar juga dugaanku, baru pukul enam pagi sapu-sapu itu sudah habis terjual. Seandainya penjualanku sebagus ini setiap harinya, mungkin aku tidak perlu merisaukan buku-buku kurikulum baru itu. Oh…tuhan ! aku berharap sampaikan cita-citaku, jangan jadikan sesuatu sebagai penghalang keberhasilanku, aku hanya ingin merubah nasib keluargaku.
Diatas bus tua,yang kutumpangi pulang, aku melamun sepanjang jalan itu.
“ Mengapa aku tidak dilahirkan dalam keadaan keluarga yang berkecukupan saja dan kenapa aku harus menjalani semuanya ini. Apakah ini hanya berlaku untukku, atau mereka yang engkau lebihkan itu hanya dimataku saja bahagianya” kataku sambil menyesal.
Begitu banyak pertanyaan berkumpul dibenakku, aku merasa hidup ini tidak adil bagiku. Tapi aku selalu teringat dengan kata-kata ibu. Dia mengatakan: “ sebenarnya kekurangan hidup kita tidak ternilai dengan kebahagiaan yang kita miliki, sedangkan orang-orang yang hidup mewah itu belum tentu merasakan kebahagian seperti yang kita rasakan.” kata ibu kepadaku. Ibu juga mencontohkan keluarga Pak Herman beliau adalah orang terkaya didesaku, tetapi setiap harinya ada-ada saja masalah yang menimpanya,kemaren anaknya tertangkap karena menghisap ganja,setelah itu istrinya meninggal karena jantungan. Menurut istrinya ia telah berhasil mendidik anaknya itu, tetapi kenyataannya anak itu memakai narkoba.pengadilan pun menjatuhkan hukuman tahanan. Sekarang Pak Herman sakit-sakitan karena ditinggal orang-orang yang ia sayangi.
Menurutku betul apa yang dikatakan ibu, ”hidup itu tidak perlu berlebihan, lebih baik kita menjalankan dengan seadanya.”


frdi2xan

Aku , Bocah Dan Pengamen

Huh..., matahari memang tak lagi bersahabat denganKu, pavlingblock yang menghiasi pelataran parkir dikampusKu meyimpan panasnya mentari hingga membuat panas wajahKu.PA yang sudah kangen denganKu karena sudah lama tidak bertemu semenjak 2 semester yang lalu, telah melampiaskan rindunya denganKu. Aku hanya merapatkan kaki meluruskan tangan, layaknya seorang tersangka kena sidang. "Anda itu sudah berjanji akan menyelesaikan tugas labor,"bentak PA sambil sedikit membesarkan matanya, tapi aku sudah cukup berpengalaman dalam hal ini, disamping aku berbakat dalam politik, aku juga belajar pemahaman karakter,seandainya saja Aku mengambil jurusan psikologi, mungkin aku sudah menjadi psikiater kondang dikotaKu, dan Aku juga berpengalaman bagaimana cara menghadapi harimau yang lagi sakit gigi, babi yang lagi masuk angin, ular yang lagi keseleo pingganngnya....ha.ha..ha....dalam hatiKu setelah akhirnya PA ku memaklumi alasan yang Aku rangkai begitu rupa.Maklum Aku memang punya profesi sebagai perangkai puisi, kalau gak', ya gak mungkinlah para geganteng di kampus ini bersimpuh di kakiku,,,"ha..ha...ha... sekali lagi Aku tertawa dalam hatiKu.

"Gimana Fer, bereskan,,"? Bob bertanya.,
beres "jawabKu.
"dari awal tadi aku sudah yakin sama kamu"...Bob tersenyum.
Bob adalah salah satu temanku dan juga sahabat dari mendiang suamiku, ia juga sama denganku belum menyelesaikan kuliahnya.
Muta-mutar yuk" ajaknya.
kemana"tanyaku
cari yang asyik"jawabnya singkat.
Kami pun melangkah menuju Feroza black shadow milik Bob.
Sampai disebuah tempat dikotaKu, Bob pun melangkah masuk menuju sebuah kafe didalam gedung tua itu, Aku masih bengong memperhatikan adegan-adegan dan aktifitas yang menurutKu sangat aneh, memang Aku bukan keturunan Kyai OR ustadz, tapi Aku ini adalah orang alim 100%.Sumpah ni gue......
Bob...."aku mau kabur aja dan cabut dari sini.
epp..eppp tunggu dulu Fer, kita cuma nongrong aja kok disini"jelasnya.
tapi aku mulai gak nyaman disini "keluhKu.

ruang gelap dengan tatapan wanita-wanita bermata liar, membuatku jadi merinding. Aku hanya mencoba mengalihkan pandangan dan menghisap pipet teh botol yang sudah kempes dari tadi karena airnya sudah habis.
Bocah kecil banyak yang berkeliaran disekitar gedung tua itu, salah satu bocah itu menghampiriKu sambil menampungkan tangannya, Ku ambil uang receh disaku yang masih tersisa kembalian kertas fotocopy dikampus tadi, bocah itu memandang sinis melihatKu, mungkin dalam pikirannya Aku ini pelit, mungkin juga biasanya pengunjung yang lain memberi uang kertas ribuan.Melihat tingkah bocah itu membuatKu merasa sedikit jengkel.
Bob pun menenangkanKu,ia mengatakan aku tak perlu marah melihat gelagat siBocah, Karena bocah-bocah itu tidak ada yang mendidiknya, maklum katanya ia anak-anak seribu ayah.
Jadi bob"....?desisKu...,
iya...anak-anak itu hasil dari kreatifitas pengunjung dan penanti tamu disini"jawab Bob memotong pertanyaanku.
Bisa jadi bocah yang tadi itu adalah anakKu, karena aku sudah berlangganan disini 6 tahun lebih, makanya aku tidak mau memarahi mereka"Tambah Bob tanpa beban, seolah-olah ia tidak takut dengan kutukan tuhan.
Astaga....Kamu gila Bob''ucapKu
yachh...begitulah Aku"jawabnya tersenyum geli.
Tak lama kami duduk datanglah seorang cewek menghampiri Bob.

"Sungguh Aku tiada menyangka kotaKu yang terkenal dengan budaya dan adat istiadat ternyata menyimpan kehidupan bawah tanah yang gelap gulita penuh dengan limbah dosa-dosa....


sebuah catatanku di perjalanan minggu lalu..............::::

"jreng....jreng...jalan ku masih panjang...." itu kalimat diakir nyanyian pengamen malam di BUS ALISMA jurusan PKU, karena BUS juga kosong kedua nak muda pengamen itu duduk dibangku belakangku, mereka berbincang berkomentar tentang kondisi bus yang kosong
A (anak muda pertama): sepi ya busnya penumpangnya dikit, gimana beli bensinnya ya???
B (anak muda kedua) : yah...ginilah hidup sekarang kawan..susah cari makan, dapat dua perginya tiga
A: iya sih.. aku kepikiran nasib kita, dijaman susah ini gimana kita mau dapat kerja sekolah aja ga
B : kalau disesali emang jadi sedih ya..kita ga sekolah karena ngikutin pergaulan, ga salah kl ibuku benci sama aku karena nakal..
A : trus gimana rencanamu selanjutnya
B : kita ga mungkin ngamen seumur hidup kawan, sementara kebutuhan kita terus meningkat dan kita juga laki2 nanti bakal punya tanggung jawab.....ahk...

anak muda B menghela napasnya panjang, serasa ada sesuatu yg baru saja disadarinya atau tepatnya seperti baru saja bangun dari mimpi panjangnya...
B : aku ingin jadi orang sukses mungkin dengan berjualan rencananya aku mau ikut saudaraku berjualan di tanah abang Jakarta..mungkin dengan tekun aku bisa berhasil kawan...seperti kata pepatah tekun pangkal kaya...hahahahahah

mereka tertawa, lalu diam sejenak..
B : kl kamu apa rencananya kawan?
A : aku juga mau merantau ke Jakarta, tapi aku ga punya saudara disana dan aku ga punya keahlian apa2....rencananya dengan bermodal tampang ku ini aku mau cari janda kaya aja buat dinikahi...setidaknya hidup aku terjaminlah...

aku menelan ludah mendengar ucapan pemuda itu...trus aku menoleh kewajah pemuda itu... melihat wajahnya....semoga saja kamu cepat sadar dengan cita2mu itu anak muda...!!! wajahnya seperti ahmad albar...plus rambut dan kulitnya... kasihan yg bakal jadi korban anak

hehehe...................

Pernahkah kamu menghitung jumlah pasir dipantai
Pernahkah kamu menghitung jumlah bintang dilangit
pernahkah kamu menghitung tiap kata yang kamu keluarkan setiap harinya
pernahkah kamu menghitung langkah kakiMu ketika berjalan
Pernah kamu menghitung jumlah rambut dikepalaMU.....
jangan sesekali kamu lakukan itu.....
karena....
nanti kamu akan dibilang.......kurang kerjaan...........he3

NURDIN Nge-TOP Terjaring Razia.......

Sana sini heboh mikirin Nurdin, baik media cetak maupun media tidak dicetak (alias mulut ke mulut).
Pada suatu malam petugas keamanan mendapatkan informasi, bahwa NURDIN malam ini mangkal disebuah Hotel berbintang.Tanpa menyia-nyiakan kesempatan petugas keamanan pun langsung menyiapkan operasi "SAPU JAGAD".
Tepat pada waktu yang telah ditentukan petugas mulai bergerak ke lokasi.
RAziaaaaa......RAZiaaaaa....RAZIaaaa...RAZIAAAAAA.....
Suara salah seorang Gepeng melengking seolah-olah memberi komando perang kepada Nurdin yang tak jauh darinya....
Tapi apa daya.."malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih",malang sekejap mata, untung sepanjang jalan"...Nurdin yang baru saja menebar pesona menjaring Mangsanya, dengan cekatan petugas keamanan sudah berhasil membekuknya...Nurdin tak Berkutik lagi....
Siapa nama kamuuu!!!!!!!"bentak salah seorang petugas keamanan yang agak brewokan...
NUUuurr,,....PAaak"jawab Nurdin gemetaran,karena tidak biasa mendapat perlakuan keras dari sesama etnisnya.
Kenapa di KTP kamu NURDINNN !!"Bentak petugas itu lagi.
IYaaa,,..kalau malam nama saya NUuuR Pak...
siangnya DIiiN Pak..."NURDIN ,menerangkan kepada petugas keamanan itu.
Nurdin, memang mempunyai dua profesi.Siangnya ia punya profesi sebagai tukang ojek, malamnya ia punya profesi sebagai perempuan SIUMAN (Bukan siluman pembaca).
Pada malam hari, ia baru tersadar bahwa dirinya memang lebih pantas menjadi seorang perempuan. NURDIN hanya pengen Nge-TOP....menjadi seorang perempuan.
Biasanya orang yang bernama Nurdin menjadi lelaki seumur hidupnya.....Tambah Nurdin, kepada petugas keamanan. Dengan gayanya yang lemah gemulai dan melambai seperti kelapa yang ditiup badai (bukan angin pantai).
Tapi sayang Nurdin kalau ingin punya pinggang lentur seperti Nurjanah, terpaksa melakukan operasi pinggang dulu....
kelenturan pinggang Nurjanah ibarat "celana goyang pejabat yang baru dijemput dai laundry" belum ditiup udah goyang duluan....

Anginn...

Angin....:

" jika masuk botol menjadi minyak angin.
Jika masuk perut menjadi masuk angin.
Jika masuk jamu menjadi tolak angin.
Jika masuk senapan menjadi senapan angin.
Jika masuk kabupaten menjadi kabupaten merangin.
Jika masuk sepeda menjadi kutangin.
Jika masuk kedalam kepala menjadi "BERANGIN....
.
Hati-hati dengan angin.....

Antara Gempa Dan Panjat Pinang

Semangat pemanjat batang pinang disore tadi dilumpuhkan seketika oleh gempa.Gempa yang berkekuatan 65.SR menggoyang kota padang hingga ke pekanbaru.
Biasanya Batang pinang yang dilumuri oli dengan gemok dikasih sabun itu dipasang terbalik kedalam tanah, walaupun sudah tahu dengan kondisi batang pinang seperti itu semangat para pemanjat batang pinang tidak terpatahkan untuk berebutan menaikinya, kali ini sewaktu sedang asyik'' berebutan untuk menggapai sejumlah hadiah,,!!tiba-tiba saja..!!!!Batang pinang yang dipanjati bergoyang hebat, seolah-olah ada tenaga "gaib"dari perut bumi yang membuat batang pinang itu oleng seperti kapalnya Kapten Marcopolo" yang dilanda badai pada iklan rokok Marcopolo.
para peserta pemanjat batang pinang pun lari berhamburan mencari tempat aman.....
Suasana yang awalnya riuh penuh dengan sorak gembira berubah 360 derajat.....Menjadi suasana yang sangat mencekam, hadiah batang pinang yang masih bergantungan tak dihiraukan lagi oleh peserta.....
Sungguh""Kegembiraan yang Mencekam".............Semoga ini tidak terulang lagi.....

Tim Building Assessment, dikerjai'in dilapangan...

Tim Building Assessment, dikerjai'in dilapangan...

Bang..Bang..Rumah nenek saya juga hampir rata dengan tanah, ......Rumah neneknya dimana ?
Tuh.."kata sicewek sambil nunjuk Kuburan.!!!! Busyet..."jawab siBram.
Kuburan yang udah tua itu..memang retak dan dinding pembatasnya udah roboh..
Gimana fer"tanya siBram
Kasih label merah aja Bram, itukan diatas 70% kerusakannya"jawabKu berseloroh..
Nama pemiliknya Fer.??siBram pun sepertinya mengajakKu bercanda.
Mungkin pemiliknya Udah Kabur duluan...Rumah retak kayak gitu siapa yang mau nungguin"JawabKu simpul.

hahahaha..!!!..kami pun tertawa seadanya

Mungkin siCewek g'tau kalo salah satu anggota Surveyor itu pernah ikut tes jadi pejabat dikota Pariaman pada PILEG 2009 yg lalu..."keluh siBram..
Mungkin kalo ia tau, ia juga bakal g'tega"tambahKu....hahahaha

ini baru perdana ....gimana selanjutnya...??

Kerja kami melakukan survei kelayakan bangunan memang banyak dihiasi kisah lucu bin ajaib..

Maaf Anda Belum Beruntung...!!

Dua orang copet yang baru saja turun diatas Bus kota tersenyum puas. Mungkin hasil tangkapan mereka kali ini bagus.

Copet 1 : Gimana dapatkan..?
Copet 2: Pasti..Aku kan paling jagonya...
Copet1 : Aku yakin ...isi dompetnya bisa bikin kita hidup seminggu..orangnya macho kayak gitu..he3
Copet 2: Yuk..kita Bedah isinya....


Sambil mencari tempat aman...

Copet 1+2 : hahh...!!!!!
Copet 1+2 : apaan nih...!!

Kedua Copet tak menyangka....dompet orang yang macho, mereka copet tadi ternyata isinya tak sesuai harapan.

Copet 1 : wah..gila ..Bon hutang Coy...
Copet 2 : Waduhhh..Foto NIKE ARDILA...hihihi...ngefant banget tu siMacho.

Copet 1 : Hmmnn..Coy mungkin hanya ini satu-satunya harapan kita..!!
Copet 2 : Apaan bro..?

Copet 1 : Kertas Undian berhadiah 1 milyar yang belum digesek
Copet 2 : Ayo Bro kita gesek...!!!(penuh semangat)

Copet 1 : ada tulisannya....Coba Coy baca...!!MataKu agak kabur, sehabis kena tonjok kemaren.

Copet 2 : ""MAAF ANDA BELUM BERUNTUNG'''' mohon coba lagi.

Copet 1+2 =....OOooooo...Artinya ....<<...kita disuruh nyopet lagi to......hahahaha....


(By; Frdi f jambak)

Manusia dengan 3 tingkatan makannya.

1. Manusia kelas bawah : Hari ini mau makan apa ya..??(sambil mikir menahan perut) . .

2. Manusia kelas menengah : Hari ini mau makan dimana ya..?(mikir,sambil merogoh kantong) . .

3.Manusia kelas atas : Hari ini siapa yach..yang akan aku makan??( mikir,sambil....????

Cara Mudah Menemukan Jawaban Pada Soal Tes CPNS

Bagi kawan-kawan yang mempunyai minat besar untuk mengabdi dipemerintahan atau mau menjadi CPNS, yang sebentar lagi akan digelar ujian tes tertulisnya (TKD).
Sebelum pergi mengikuti tes, siapkan 4(empat) buah kertas kecil yang telah digunting dengan ukuran 3cm X 4cm, lalu tulislah huruf A.B.C dan D pada masing-masing kertas, setelah itu gulung kecil-kecil semua kertas tersebut.

Pada waktu ujian pakailah baju yang mempunyai saku didepannya, gunanya untuk memasukkan kertas-kertas kecil yang telah digulung.
Ketika pengawas ujian telah memberikan soal dan lembar jawaban kepada anda, bacalah do'a secukupnya sesuai dengan keyakinan anda.
Bacalah soal pertama dengan seksama, lalu goyanglah gulungan kertas dalam saku anda, ambil satu saja, seandainya yang terpilih itu adalah gulungan kertas dengan huruf C, berarti itulah jawabannya. Dan masukkan kembali gulungan kertas tersebut ke saku anda. Begitulah seterusnya hingga ke pertanyaan yang terakhir....

Bagi yang berminat menggunakan metode ini jangan lupa membayar royaltinya....

ide ini timbul setelah ada beberapa orang teman yang mau ikut tes CPNS, Meminta wejangan....hehehe.

Penyakit Phobia Traumatis PILEG '09

Penyakit ini disinyalir dapat membahayakan penderitanya sendiri.

Ciri-ciri penyakit :
1. Krisis kepercayaan kepada orang lain.
2. Subjektifitas lebih besar dari objektifitas.
3. Berpikir dengan Logika hanya 20% selebihnya dengan perasaan 80%.
4. Jiwa sosial berkurang dengan sendirinya.
5. Tidak mau lagi bertegur sapa dengan orang lain.
6. Sering senyum sendiri, sering marah sendiri. Layaknya orang 'putus cinta'.
7. Badan sering panas dingin.
8. Merasa sering dikejar bayang-bayang (apalagi ngutang untuk biaya kampanye).
9. Merasa semua orang brengsek dan pengkhianat.
10. Merasa orang lain selalu menggosipkan dirinya.
11. Tidak bisa diharapkan akal dan pikirannya untuk sementara waktu.
12. Tidak percaya diri lagi, sebagaimana waktu ia berkampanye dulu.
13. Sering menyendiri.
14. Diam-diam sering menkonsumsi BodreX...kadang-kadang NominaL...kalo g' mempan juga menelan diafhotril, tanpa seizin dokter.


Kalau ada disekeliling anda yang menderita penyakit tersebut, segera hubungi phsikiater terdekat.

Maraknya Makelar Baliho Dan Makelar Sosialisasi

Genderang pilkada telah ditabuh, calon-calon kepala daerah pun sudah mulai tampil satu persatu.
Tentu saja kesempatan ini dimanfaatkan oleh makelar-makelar. Mulai dari 'ketua semut sampai ketua ketut', mulai dari 'kepala rumahtangga Sampai dengan kepala apa aja'. Mengambil alih pemasangan-pemasangan baliho, hingga menyosialisasikan sicalon.
Tapi yang disayangkan makelar-makelar ini menyosialisasikan semua calon yang minta tolong kepadanya. Masyarakat pun jadi bingung..?
Siapa sih calon yang harus didukung itu sebenarnya...?
Siapa sih yang bagus itu...?

Simakelar tidak peduli dengan pertanyaan-pertanyaan itu, yang penting baginya ''dana itu cair''....Hehe

Kasihan calon-calon kepala daerah zaman sekarang, belum pasti menang tapi sudah hancur-hancuran duluan.



Catt : untuk diketahui masyarakat melihat sicalon itu''bagaikan melihat duit berjalan''

Ilustrasi 'kwik kian gie' Dalam Sidang Pansus Abang Siantury.

Ada Seekor kodok, seorang anak dan seorang profesor. Sianak memerhatikan seekor kodok yang duduk ditepi kali, lalu sianak bertanya kepada profesor. Prof...'kira-kira kodok tersebut butuh berapa loncatan untuk menyebrang kali..?'tanya sianak.
Lalu dijawab oleh profesor'' hitunglah berapa centimeterkah loncatan sikodok dan berapakah lebar kali tersebut..

Tapi sebenarnya sikodok tak pernah melompat untuk menyebrang kali, melainkan dengan cara berenang.
Apakah ini ada kaitannya dengan tokoh-tokoh kasus dana 'abang siantury'...kalo memang benar
Siapakah kodok, anak kecil dan profesor yang dimaksud kwik kian gie...?
Mungkin hanya kwik yang bisa menjawabnya.

Sepenggalan TulisanKu Sadja______

Langkah gontai harimauku, mengiringi mentari yang sudah sejajar dengan kepalaku. ku tertunduk lagi hari ini, bagai tersangka yang sudah divonis dipersidangan.

Senin, 15 Februari 2010

Film Layar Lebar Abank Siantury

Mungkin, kami adalah satu diantara kalian
Setia menunggu hasil putusannya
Menyimak teledrama tanpa lepas mata
Kadang kagum...kadang marah...! Melihat aktor-aktor yang tak bisa memainkan perannya....

Ritual panjang yang kalian lalui
Selalu ingin kami tunggu
Tapi... Itu terlalu lama....!
Dua bulan sudah filmmu ''Abank Siantury''kami tonton...
Kami sudah hampir kecewa...
Ketika acara kalian keluar dari agenda...

Kenapa tak langsung ditanya saja....?
Siapa saja....siapa saja...dannn..kemana saja...kemana saja....?
Duit ''Abank Siantury'' dicairkan....?