Kita menunggu pemilu bagaikan tentara yang akan siap pergi perang, padahal kita belum mempunyai persiapan apa-apa. selama ini kita selalu memakai metoda action, memang kiat seperti itu jitu krena negri ini memang pecinya sinetron. tapi sekarang sudah beda, masyarakat tak suka lagi menonton teater, pertunjukkan, atau semacam hiburan lainnya.
mereka membutuhkan yang Ril, yang nyata.
malas cerita
Minggu, 22 Agustus 2010
Rabu, 18 Agustus 2010
Setetes Air Yang Ingin Pulang
Setetes Air Yang Ingin Pulang
oleh Senja Sebatang Lilin pada 17 Agustus 2010 jam 17:11
Pukul 10:01 wib 16082010 Hari senin.
Setetes Air Yang Ingin Pulang
Jreng...jreng..jrenggg...jreng.
''aku anak tak mampu
bagai mereka itu
tapi soal bercinta....
kupunya cara tersendiri
yang lebih ternikmati
coba anda merenungi....
Sepotong lagu penyanyi legendaris indonesia D'loyd 'sepanjang lorong yang gelap' melantun akrab dari bibir dua pengamen jalanan di atas bus antar kota antar provinsi yang mulai berpenumpang sepi itu, akibat dari makin maraknya travel liar serta mudahnya cara mendapatkan kendaraan pribadi kredit oleh showroom otomotif, hingga penumpang yang biasanya menjadi langganan sudah mulai pergi keluar kota dengan kendaraan sendiri dan demikian juga dengan waktu, karena berharganya waktu pada zaman sekarang penumpang lebih memilih naik travel karena lebih cepat ketimbang bus walaupun ongkosnya lebih mahal serta resiko kecelakaanya lebih tinggi.
'demikianlah hiburan dari kami pengamen jalanan, salah dan janggal mohon dimaafkan, semoga bapak ibu selamat sampai tujuan dan hati-hati dengan barang bawaan, apapun bentuk kepedulian serta solidaritasisasi dari para penumpang akan kami terima dengan dada yang sangat lapang, semoga menjadi berkah bagi kami pengamen jalanan', kalimat ini sudah sangat lumrah didengar oleh penumpang karena hampir semua pengamen di kota ini berucap kalimat yang sama sehabis ngamen, mungkin saja mereka semua satu perguruan dan entah beberapa hari waktu yang dibutuhkan mereka untuk menghafal teks tersebut.
Setelah itu mereka pun mengeluarkan kresekan-kresekan kantong plastik yang telah usang.
Namun Sepertinya para penumpang tak begitu menghiraukan kresekan-kresekan kantong plastik dari bekas permen yang disodorkan ke para penumpang tersebut, mereka berjalan dari lorong bangku ke bangku sambil berkata 'tolonglah buk, pak, terimakasih.
Setelah selesai menyodorkan kresekan dari depan bus hingga ke belakang, mereka akhirnya duduk tersandar lemas dibangku kosong tak berpenumpang itu.
Mungkin saja ini karena dipengaruhi paceklik ekonomi, persaingan hidup hingga jiwa sosial menjadi berkurang.
Sedikit perasaan menggerutu dan kesal terlihat sudah di air wajah mereka, setelah merogoh kresekan kantong plastik itu mereka hanya menemukan beberapa koin logam.
Huuhh..., buat beli rokok aja gak dapet nih, apalagi beli nasi''keluh ijo, sambil menatap ujung-ujung jarinyo yang memanas kemerahan seusai bermain gitar tadi.
sudahlah Jo mungkin pagi ini memang segini manatauan nanti siang kita kebanjiran''hibur Ragil sambil tersenyum optimis menatap sobatnya yang satu kolong itu.
Kebanjiran apa?oli Kali Ciliwung mungkin, balas ijo sambil menatapi kaca depan bus yang menyisiri kali ciliwung....
hahahaha.., sontak gelak tawa Ragil ketika melihat sobatnya kecewa dengan pendapatan ngamen dipagi itu.
Dan para penumpang yang mendengarkan percakapan dua bocah pengamen belasan tahun Di bangku pojok belakang itu tak begitu peduli dengan ucapan-ucapannya, mungkin dihati mereka berbisik 'emang gue pikirin, itu sich DL (Derita Loe).
Duhh..., sepertinya kalo kita terus ngamen di kota ini bisa-bisa kita gak hidup Gil,''keluh ijo seperti sudah menyadari keadaan.
Jadi menurutmu Jo, apakah profesi yang harus kita lakoni biar kita terus bertahan hidup,''kata Ragil penuh semangat.
Entahlah aku masih bingung, karena kita masih lima belas tahun dan orang-orang masih memanggil kita bocah. Kalau ingin bekerja jadi karyawan ijazah gak ada, kalo mau jualan modal gak punya. Gimana kalo kita jual tampang aja Gil ke tante girang....?
Huahahahaha....''mereka tertawa serempak, membenamkan kesedihan dipagi itu.
Jo...Jo..., tante girang yang mana sih mau sama gembel kayak kita, kalo mandi aja badan merasa gak nyaman, tapi kalo gak mandi-mandi kita merasa aman,..hehehe''tawa Ragil seolah mencomoohkan idenya si'ijo.
Gil, asal kamu tahu kita berdua ini adalah keturunan blesteran. Lihatlah dan bandingkan diantara pengamen yang mangkal disini, kita ini punya body and face yang beda. mungkin juga dulunya ada pria bule yang menjadi TTM nyak kite, makanya kita ganteng - ganteng kini.,.wkwkwkwk''ijo pun menjelaskan seraya tertawa ala Facebook.
Lu yang bener-bener aja Jo, gue jadi kaget ni, tapi kalo diperhatiin-diperhatiin bener juga ya...., huahahahaha.., untuk kesekian kalinya tawa mereka meledak di bus berpenumpang sepi itu.
Seorang lelaki tua yang duduk dibangku depan tak jauh dari mereka hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala setelah menyimak apa yang menjadi perbincangan hangat mereka, cuma satu kata dalam pikiran lelaki tua itu 'kasihan' sungguh kasihan kecil-kecil udah gila, aku masih bersyukur walau sudah tua gini masih normal secara pikiran,'pikir lelaki tua itu membandingkan diri.
Sementara bus terus bergerak ke terminal terakhir untuk menurunkan penumpang di sana dan menginap satu malam lalu berangkat lagi ke kota semula menjalankan tugasnya sebagai angkutan umum.
Hoaam..., aku sebenarnya sudah lama Jo ingin berhenti dari posisi jadi pengamen yang gak punya masa depan ini, tapi setiap ku berpikir pikiranku selalu buntu Jo ''ungkap Ragil sambil melepaskan rasa kantuk dari mulutnya yang menguap beraromakan pecel lele semalam.
Husszt..! Jangan arahin kesini donk, polusi tau...! 'keluh ijo yang merasa terganggu dengan aroma yang keluar dari mulut Ragil.
Yang penting Gil habis ini kita ke pasar pagi dulu, habis itu aku mau tiduran dulu diparkiran, semalam tidur di emperan kita benar-benar jadi tumbal nyamuk, dasar nyamuk...! Gak ada teganya mencari mangsa, kalo kita terkena DBD mau diobat kemana siapa yang mau bayarin, aku tak mau berakhir seperti syukri yang terkena DBD mati gak jelas mau di anterin entah dimana kampungnya, sebenarnya syukri itu sebagian kecil dari kita orang - orang yang tak punya bumi kelahiran di negri ini,'cetus ijo sambil menghitung recehan dikantongnya untuk sarapan pagi nanti.
Akhirnya bus berhenti juga di terminal tua tak terawat yang di tungguin manusia - manusia bermental kawat, siapa yang lemah disini bisa lewat.
Ragil dan ijo pun turun bersamaan dengan penumpang lainnya, tak lupa gitar berlapis triplek itu dijinjingnya.
Mereka pun menuju sebuah warteg, Dengan sisa kekayaan ngamen kemaren mereka dapat memesan makanan di warteg mpok'inah, langganannya. Tak jarang mereka makan disini hanya membayarnya dengan tanda tangan, mpok'inah pun tak pernah keberatan kepada bocah-bocah itu ngutang, asalkan saja mereka menulis hutangnya disebuah buku bon hutang yang telah beliau sediakan, dan satu hal lagi mpok'inah sudah mengenal baik akan kejujuran mereka dalam membayar hutang semenjak ingusan.
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Mungkin sudah tak pantas lagi itu dikatakan dengan sarapan, karena waktunya sudah mendekati jam makan siang.
Sehabis makan di warteg mereka langsung menuju parkiran untuk tidur siang, parkiran adalah tempat parkirnya mobil-mobil angkutan barang sejenis truck, biasanya parkiran berlokasi di tepi-tepi kali atau dibawah-bawah jalan tol. Tak jarang tempat ini kadang-kadang menjadi lokalisasi sesaat pada malam harinya, makanya Ragil dan ijo hanya bisa tidur ditempat ini ketika siang hari saja, sebab ketika malam tiba tempat ini sudah mempunyai aktifitas yang berbeda, kadang-kadang bisa jadi di discoutik, tapi itu tergantung kebutuhan komunitas yang menunggui setiap tiang di lorong jalan tol ini.
Ragil pun mencari karton bekas buat alas tidur mereka, di sekitar itu memang banyak sisa-sisa karton bekas aktifitas semalam, ragil mencoba memilih dan membalik-balikkan karton itu sambil mengibas-ngibaskannya dan sesekali menciumnya..., huaak..! Perut ragil jadi mulas dan warteg tadi ingin bergerak lagi ke atas, tapi ragil mencoba menelannya lagi karena masih sayang menurutnya. Bekas apaan nih, .! ? ''ragil menggerutu sambil melemparkan karton itu sejauh mungkin.
Gil, kenapa kamu buang..? Karton itu masih bisa dihargai per-kilonya di tempat penampungan barang bekas, lagian karton-karton bekas itu sengaja dikumpulin oleh bocah-bocah ingusan product sini buat mengisi perut mereka juga,''terang ijto mencegah perbuatan sobatnya itu.
****
Ragil pun menghentikan perbuatannya dan menyadari akan benarnya apa yang disampaikan oleh ijo.
akhirnya ia kembali memilih beberapa helai karton bekas yang cukup bagus untuk alas tempat tidur mereka.
Setelah itu Ragil mendekati ijo yang sudah menahan rasa kantuknya semenjak tadi sambil membawa karton bekas pilihannya, lalu meletakkannya diatas aspal di bawah jalan tol itu. Bising dan hiruk pikuknya dari rutinitas kendaraan yang memanfaatkan jasa sarana jalan tol itu diatas kepala mereka yang mengakibatkan suara bisingnya berubah menjadi suara yang menderu-deru dan getaran-getaran terdengar sangat jelas dari bawah kolong, seolah-olah suara-suara bising itu telah lama terpenjara dibawah kolong. Namun sepertinya semua kebisingan tak jadi penghalang bagi ijo dan Ragil untuk menghilangkan penat dan kantuknya yang telah lama ia tahan.
Mereka pun sama-sama merebahkan diri diatas karton bekas sebagai ganti tikarnya.
Tak lama berselang mereka berdua sama-sama telah hanyut dibawa mìmpi siang bolong, mimpi yang sulit menjadi nyata.
Lagi-lagi Mereka berdua telah ditipu oleh matahari, matahari sudah berhias lembayung merah api, menandakan sore akan berganti kisah dengan senja dan malampun akan menunaikan tugasnya setelah senja yang sesaat.
Bangun...bangun,..bangun.....!, hai bujang..! ìni sudah malam, ayo pergi dari tempatku,..! ''teriak seorang wanita paruh baya sambil berkacak pinggang dan mengepulkan asap tembakau di sela-sela bibirnya yang sudah bergincu menor itu.
Apaan sih,''kata ijo kesal sambil bangun dari tempat tidurnya.
Apaan sih, apaan sih, ini sudah malam,..! Aku juga mau cari duit bujang..
Ayo segera berangkat dari tempatku, ''perintah wanita itu kepada ijo dan Ragil yang sepertinya dari tadi mereka berdua tak mengacuhkannya.
****
Dengan langkah berat dan kesal serta terkantuk-kantuk ijo dan Ragil menuruti perintah wanita bergincu menor itu, mereka langsung menuju kamar mandi sewaan. Kamar mandi ini dikelola oleh jagoan yang mangkal di parkiran ini, sekali masuk kedalam kamar mandi tersebut wajib bayar Rp.1000-, .Walaupun bayar tapi kamar mandi ini sangat membantu komunitas disini, karena ini adalah satu-satunya kamar mandi yang ada di parkiran dan dimanfaatkan oleh orang banyak yang bermukim di pemukiman transit ini. Arti pemukiman transit, komunitas disini bisa saja langsung mendadak kaya, cara mendapatkan kekayaannya berbeda-beda dan berbagai versi, lalu mereka yang sudah mapan pindah dan mencari tempat yang layak untuk melanjutkan kehidupannya.
Sesampainya dikamar mandi seperti biasanya mereka hanya memakai ilmu dua jari, mengusap kedua mata dengan kedua telunjuknya, lalu berkumur-kumur dan membasahi rambutnya. Mereka tak mau sering-sering mandi, alasannya mandi dapat membuat perut menjadi lapar, lagian kalo orang mandi itu harus bawa shampo dan sabun, sedangkan mereka tak pernah mempunyai persediaan seperti itu.
Langkahnya masih gontai keluar dari kamar mandi bagai singa yang kehilangan hutan, sambil merogoh recehan dikantong celana untuk membayar sewa kamar mandi. Uang recehan bernilai seribu rupiah itu dimasukkan kedalam kotak kaca yang telah disediakan dan disaksikan oleh penjaganya mantan preman pelabuhan Tanjung Priok, pak tua yang mulai keriput itu sedikit mengangguk menampakkan bahwa ia dulunya orang yang berwibawa, Ketika ijo dan Ragil memasukkan uang sewa kedalam kotak kaca. Lihat saja Tato-tato yang bersileweran dibadannya melambangkan kejayaan di masa mudanya, namun sekarang telah ikut mengeriput dikulit tua itu, seperti tato ular Cobra di dadanya yang sudah mengeriput sekarang sudah mirip dengan Cacing tanah, lalu tato Rajawali yang anggun dilengannya kini telah berangsur menjadi burung perkutut yang anggun, dan lihat juga di punggungnya tato Buaya hutan Amazon itu pun telah ikut mengeriput juga mirip Cicak didinding.
Didunia ini memang tidak ada yang abadi, tato dibadan manusia pun juga ikut tak abadi.
***
Jo, sekarang kita mau kemana? 'tegur Ragil yang dari kamar mandi tadi belum tahu kemana arah langkah mereka malam ini.
Aku juga tak tau,'jawab ijo linglung.
Jo, perutku dah lapar,'kata ragil sedikit berbisik dan mengeryitkan dahinya sambil memegang perutnya yang telah keroncongan.
Aku juga, perutku sudah mulai merasa kram karena gak mempan kayaknya di isi dengan warteg, tapi persediaan uang kita sudah menipis, bagaimana langkah kita selanjutnya Gil,'terang ijo yang juga merasakan hal yang sama dengan Ragil.
'Kadang aku selalu berpikir Jo setiap malamnya, tentang pekerjaan kita sebagai pengamen. Lihatlah sekarang penumpang mulai sepi dan pelit, belum lagi persaingan kita sesama pengamen yang sama-sama mencari hidup di kota ini. Sedangkan yang kita dapat hanyalah untuk pembeli sebatang rokok dan sebungkus nasi. Aku rasa kita tak akan mampu bertahan dengan kondisi seperti ini, bisa-bisa kita mati gak makan Jo,... Aku punya ide bagaimana kalo kita alih profesi nyupir aja.., 'ungkap Ragil menjelaskan keadaan yang sedang mereka hadapi dan ide barunya.
Nyupir...?ijo merasa terheran dengan ide kaget Ragil tersebut.
Ya nyupir, Ragil mencoba meyakinkan ijo.
Gak mungkin Gil, jangankan nyetir mobil, bawa sepeda motor pun kita belum bisa, 'ujar ijo sedikit membantah idenya Ragil.
Maksudku bukan nyupir membawa mobil Jo, tapi..
Lantas, 'ijo memotong pembicaraan Ragil yang mencoba menjelaskan idenya.
Ya maksudku NYUci PIRing di rumah makan padang...., oh itu toh pengertiannya...!. whahakhagkhakhagkhag..., mereka berdua tertawa terbahak-bahak, menertawakan diri masing-masing. Dan sekaligus membenamkan kram perut mereka sesaat yang dari tadi benar-benar meradang.
***
Tawa mereka sempat membuat tikus-tikus got yang berkeliaran tertegun sesaat, karena tak biasanya dua bocah itu tertawa sebahagia ini.
Tak terasa hari sudah larut malam, bulan yang menggantung kembali ditutup awan. Ragil dan ijo masih berdiskusi tentang lanjutan kehidupan.
Jadi gimana Jo, kamu setuju gak nyupir..?Ragil kembali bertanya kepada ijo meminta kepastian.
Aku setuju Gil, disamping sumatera tengah kita bakal terjamin, kita gak perlu lagi berpanas-panasan, berteriak-teriak diatas bus memetik-metik senar gitar mencari sesuap nasi. Tapi Gil, ''ijo merasa ada kerisauan yang harus ia sampaikan kepada ragil.
Tapi gimana Jo?Ragil langsung bertanya secara spontan dan berharap ijo tak menolak ide nyupir ini.
Tapi, kita kan gak punya ijazah Gil, dan identitas pun gak ada, hingga saat ini aku masih ragu Gil, apakah kita sudah terdaftar sebagai warga negara di negri ini atau belum. Kamu dan aku sama Gil, sama-sama mendapati diri sudah seperti ini saja, siapakah orang tua kita? dari mana asal kita? kampung halaman kita? hingga saat ini kita belum tahu. Dan kita pun rasanya tak akan pernah bisa mengetahui, karena sewaktu kecil kita hanya jadi oporan-oporan dari pengemis jalanan yang menfaatkan kita meminta-minta di lampu merah dangan cara menggendong pakai kain salempang di punggung dan kita pun diajak berpanas-panasan. Setelah kita baru pandai berlari, kita pun di didik untuk jadi pengemis. Syukurlah kita bisa melarikan diri dari setan cebol pengembala para gelandangan itu, kalo gak sampe sekarang kita pasti sudah menjadi pengemis senior..., atau jangan-jangan organ tubuh kita bisa di mutilasi oleh setan cebol itu. Seperti Film Anak yang memenangkan kuis Millioner dari perkampungan kumuh di india, mereka menangkapi anak-anak dan memaksanya jadi pengemis, lalu pada malam harinya anak-anak itu di mutilasi dan dibuat cacat seumur hidup, agar nantinya orang-orang semakin kasihan dan memberikan sedekah yang banyak kepada anak yang cacat, lalu pada sore harinya para pengembala gelandangan menjemput semua pengemis itu ditempat dimana mereka ia turunkan tadi pagi dan merekalah yang menikmati hasilnya. Yang sangat menyedihkan ketika seorang bocah dibangunkan pada malam hari, lalu sebelah matanya disirami dengan minyak panas, ada juga yang kakinya dipotong paksa sebelah, pokoknya anak-anak jalanan itu dibuat sangat menyedihkan, malahan ada yang dipotong lidahnya agar orang-orang yang melihat menjadi sangat kasihan mendengar suaranya. semuanya terasa sangat menyedihkan bila membayangkan film itu kepada kehidupan yang kita jalani. Syukurlah sekarang kita sudah bisa lepas dan bebas dari semua itu dan hidup mandiri walaupun hanya jadi pengamen jalanan. Kita pun sekarang sudah bisa membaca karena sering bernyanyi dan sudah bisa juga menulis serta menghitung, walaupun gara-gara keseringan membeli nomor togel dan meramal-meramal angka-angka yang bakal keluar sorenya dengan pencarian berbagai rumus, rumus yang sama-sama kita yakini bahwa rumus-rumus itu mampu menebak angka-angka yang akan dikeluarkan oleh bandar,''ijo menerangkan semuanya secara panjang lebar, hingga membuat Ragil terharu tanpa disadarinya air matanya berlinang juga, karena mendengar cerita ijo, kemudian mengingat masa lalu serta asal - usul dan masa lalu yang benar-benar Sangat suram.
***
Benar Jo, selama perjalanan hidup yang telah ditempuh belum pernah kita merasakan kebahagiaan yang selayaknya. Mungkinkah akan selalu begini Jo...., entahlah..,'Ragil mengeluh sendiri.
Malam yang awalnya hangat menjadi hening sendiri, cuma sesekali terdengar riuh sorak dari pengunjung pondok karaokean yang tak jauh dari situ, biasanya pengunjungnya terdiri dari buruh-buruh pelabuhan dan buruh kasar lainnya, tak jarang juga sopir - sopir angkutan melepaskan lelah dan menghibur diri disitu.
Gil, sepertinya sudah larut malam, sebaiknya kita mencari tempat makan, 'ucap ijo yang tiba-tiba saja memecah kesunyian.
Baiklah Jo, tapi sebaiknya kali ini kita makan dirumah makan padang aja, manatauan mereka membutuhkan karyawan buat nyuci piring,'balas Ragil sambil berdiri dari tempat duduknya dan melangkah bersama ijo mencari rumah makan.
Menurutmu Gil, kalo kita memohon saja kepada bos rumah makan meminta pekerjaan, kira-kira mereka mau menerima gak, 'tanya ijo kepada Ragil.
Tergantung, kalo kita meminta pekerjaan sebagai tukang nyuci piring biasanya mereka terima aja, karena pekerjaan nyuci piring banyak membuat karyawan tak betah, sebab tangan dan kaki yang lama-lama basah terkena air memudahkan kita terserang penyakit kulit seperti kutu air.
****
ìya juga ya, kecuali kita meminta sebagai menejernya mungkin pihak rumah makan akan langsung menggeleng, hehehe'ijo mencoba membuka tawanya.
Kalo menejer sih bukan kayak kita pendidikannya, tapi kalo tampangnya yach...., mirip-mirip kitalah......,hehehe'ragil pun tertawa kecil dan melarutkan sedihnya pada malam yang mulai dingin itu.
Tak lama mereka berjalan, akhirnya sampai juga di sebuah rumah makan padang. Sesampai disana mereka langsung memesan nasi dua piring.
Dengan penuh lahap dan sesuap dua suap nasi itu hancur didalam mulut mereka yang seperti gergaji dipabrik kayu wood forest, tak ada sepah yang tersisa. Tanpa basa-basi dan menunggu suap terakhir ijo, ragil sudah memanggil pelayan dan setengah bersorak 'uda, tambuah ciek...! Setìap kali makan di rumah makan padang, kata-kata 'tambuah ciek' sudah sangat lumrah dan bersahabat, yang mempunyai pengertian : tambah satu lagi.
Dengan tergesa-gesa pelayanan rumah mengambilkan tambuah satu lagi, tak lama berselang, tambuah itu pun ikut hanyut juga ke dalam muara perut bocah-bocah itu.
Setelah selesai makan, lalu mereka membayar pada kasirnya. Tak lupa mereka bertanya kepada kasir, siapakah pengelola rumah makan itu.
Kasir pun menunjuk seorang pria yang duduk disudut meja, yang lagi asyik dengan buku laporan keuangan rumah makan, ia terus membalik halaman perhalaman dan sesekali memencet kalkulator.
Tanpa membuang waktu lagi Ragil dan ijo langsung menemui pengelola rumah makan yang sedang asyik menghitung laporan keuangan rumah makan itu.
Bolehkah kami duduk pak,'ijo meminta izin kepada pengelola itu.
Silahkan.., ada yang bisa kami bantu,'kata pengelola itu ramah dengan tampilan wajah marketingnya.
Kami..., kami bermaksud memohon untuk bekerja disini, 'kata ijo menyampaikan maksud dengan tergagap-gagap.
Oh..., kami belum membutuhkan tambahan karyawan, tapi.., dalam satu bulan ke depan mungkin ada, karena kami akan melakukan pengembangan ke jantung kota,'pengelola itu menjawab mencoba memberikan keterangan dan masih tersenyum ramah menawan.
Tapi pak, kami hanya ingin melamar sebagai tukang cuci piring, itu pun kami sanggup tidak digaji asalkan dikasih makan,'ijo memohon seperti orang putus asa.
Ha..ha..ha.., kalian ini ada-ada saja, mana ada karyawan yang bekerja tidak digaji, dalam agama pun kita diwajibkan membayar upah dari orang-orang yang telah mengeluarkan keringat setelah bekerja,.. Baiklah, kalian diterima bekerja disini, dengan persyaratan training atau masa percobaan satu bulan, dan dalam satu bulan itu kalian hanya mendapatkan hak satu kali sarapan dan dua kali makan, dan jika pengembangan rumah makan ini tak ada halangan kalian harus bersedia untuk dipindahkan kesana, kemudian setelah bekerja disana kalian akan berhak menerima gaji, kalau sekarang kami tidak menyediakan gaji untuk tambahan karyawan, bagaimana apakah kalian setuju,..?pengelola rumah makan itu menjawab sambil memberikan keterangan panjang lebar, dan sepertinya mulai memberikan kontrak kerja pada Ragil dan ijo.
****
Ya kami bersedia pak,..! 'Jawab ijo sedikit kaget karena tak menyangka akan semudah itu diterima bekerja pada rumah makan itu.
Ragil pun sedikit terheran, kenapa kok langsung diterima aja..., atau mungkin karena wajah mereka yang ala blesteran dari pinggiran kali Ciliwung ya,'Ragil hanya bisa terkekeh dalam hati karena bahagia.
Jadi kapan kami bisa mulai bekerja pak,'tanya ijo penuh harap.
Besok boleh kalau kalian sudah siap, dan kalian boleh menginap disini dengan syarat menjunjung tinggi kejujuran.
Kami siap pak, besok pagi kami akan kembali kesini dan seterusnya menginap disini,'jawab ragil memberikan kepastian.
Baiklah kalo begitu, besok pagi kalian datang kesini. Jangan sampai kesiangan, kalo kesiangan kalian akan langsung dipecat tanpa pesangon,'pesan pengelola rumah makan itu dengan sedikit ancaman.
***
Mereka pun keluar dari rumah makan tersebut dengan membawa harapan baru, harapan yang sangat mereka rindukan, hidup dengan aturan dan hidup dengan tujuan.
Langkahnya makin melambat dan melirik kiri-kanan diantara emperan-emperan toko yang akan bisa mereka singgahi barang semalam, untuk melemparkan kantuk yang betul-betul telah menggayut dipelupuk matanya.
Akhirnya tatapan mereka terhenti disebuah toko pakaian, lantainya yang keramik berkilau dipandang rembulan.
Gil, disitu aja Gil,'kata ijo sambil menunjuk emperan toko berlantai keramik itu, yang akan menjadi tempat pelepas lelah mereka untuk semalam.
Ya,'Ucap Ragil seraya mengangguk tanda menyetujui.
Mereka pun menghampiri emperan toko itu, sedikit meniup-niup mengusir debu dilantai.
Jo, esok pagi kita jangan sampai ketiduran Jo,'ucap Ragil mengingatkan ijo yang langsung telentang dengan tangan mengembang seperti orang tak sadar diri itu.
Ya semoga saja tuhan akan mengasihani kita dan membangunkan kita pada esok harinya,'jawab ijo yang sudah mulai terkantuk dengan mata berat sambil berharap pada tuhan untuk yang pertama kalinya, tapi entah kepada tuhan yang mana.
Rasa kantuk dan capek, serta rasa bahagia dalam hati karena mereka akan meninggalkan pekerjaan sebagai pengamen yang menurut mereka semakin susah dan tak ada jaminan, telah menghantarkan mereka ke alam mimpi masing-masing.
***
Suara adzan subhuh menggema dikala menyambut fajar, memecah kebekuan akibat udara dingin semalam, suara bilal yang mengumandangkan adzan tanda panggilan shalat menyentakkan umat disekitarnya dari tidur lelap. Mesjid itu berdiri Tak berapa jauh dari emperan toko pakaian tempat kedua bocah itu melepaskan penat.
Huaaaoom...., 'ijo terbangun dan menguap membuang kantuknya.
Syukurlah aku terbangun dipagi ini, sudah sekian lama aku tak pernah bangun sepagi ini, tuhan manakah yang mendengar harapanku semalam,'bisik ijo dalam hati dan mencoba mengembalikan kestabilan badannya akibat dinginnya lantai keramik emperan toko.
Gil.., Gil..., bangun Gil, sudah pagi, nanti kita terlambat,'kata ijo sambil menggoyangkan badan Ragil yang memang tertidur pulas.
Dengan sedikit menggeliat dan meregangkan sekujur tubuhnya, Ragil langsung bangun dan duduk sejenak menenangkan kepalanya yang terasa masih puyeng.
Ayo Gil, kita cuci muka dulu di mesjid itu, lalu langsung berangkat ke Rumah makan padang itu,'ajak ijo yang memang sudah mulai semangat.
Ragil mengikuti langkah ijo dengan kondisi mata yang masih 5 watt dan jarak pandang 1 meter itu.
Tak lama berjalan mereka memasuki gerbang mesjid dan langsung menuju tempat berwudhu'. Baru saja Ragil mau memutar kran air, seorang lelaki muda menepuk pundaknya. Eh.., kalian, shalat disini ya,'sapa silelaki muda.
Gak, kami..., kami cuma mau numpang cuci muka pak,'jawab Ragil tergagap karena grogi.
Lho..., kenapa gak shalat, kan sudah sampai di mesjid,'ia kembali bertanya.
Kami belum pernah melakukannya pak,'jawab Ragil jujur.
Hmmn.., nanti bagaimana mungkin kalian bekerja dengan saya kalo tidak shalat, karena salah satu ciri-ciri orang yang jujur itu melakukan shalat,'tambah lelaki kelahiran padang itu, ia adalah tamatan Master ekonomi di negri Jiran, semenjak kecil ia sudah diasuh oleh pamannya yang pengusaha rumah makan itu. Lelaki padang itu bernama Sabri.
Tapi kami berjanji pak dalam hati alan menjunjung tinggi kejujuran,'Jawab Ragil mencoba memberi ketegasan.
Tunggu saya disini ya, Sabri langsung bergegas ke dalam mesjid karena suara Qomat tanda panggilan segera shalat telah terdengar.
Sementara ijo dan Ragil masih terpaku heran, karena tak menyangka akan bertemu pengelola rumah makan yang akan memberikan mereka pekerjaan di mesjid ini.
***
Setelah menunggu beberapa menit terdengarlah ucapan salam dari jamaah dalam mesjid tanda shalat telah selesai.
Kemudian keluarlah Sabri lelaki muda pengelola rumah makan padang dari pintu mesjid, ia hanya tersenyum melihat kedua bocah dekil yang sudah sampai dimesjid tapi tak ikut shalat. Ijo dan Ragil benar-benar belum mengerti cara menunaikan shalat, bahkan mereka belum memutuskan untuk memeluk agama manapun satu juga.
Ternyata Kalian masih menungguku, ayo ikut aku,'Sabri menyapa Ragil dan ijo yang memang menunggu sejak tadi, Lalu mereka mengikuti langkah Sabri yang menuju sebuah sedan mewah yang berwarna hitam mengkilat.
Naiklah, 'ucap Sabri membukakan pintu belakang.
Bocah itu mereka merasa sangat minder karena seumur-umurnya baru kali ini ia menaiki mobil semewah itu, biasanya ia hanya naik turun dari bis kota ke bis kota.
Mobil itupun keluar dari gerbang mesjid dan meluncur menuju rumah makan miliknya.
Kalian tahu kenapa saya langsung mau menerima kalian bekerja ditempat saya, 'ucap Sabri membuka percakapan.
Tidak tahu pak,'jawab ijo menggelengkan kepala.
Aku mau menerima kalian bekerja karena aku bisa meyakini bahwa kalian akan mampu bekerja secara disiplin dan jujur, ku harap kalian tidak mengecewakan penilainku,'ucap Sabri dan menyampaikan pengamatannya, sekaligus memberikan semangat dan kepercayaan kepada Ijo dan Ragil.
Kami merasa akan mampu pak, dan kami akan menghargai semua itu,'terang Ragil mencoba meyakinkan lagi.
Tak begitu lama dalam perjalanan karena jarak antara mesjid dan rumah makannya tak begitu jauh, akhirnya mereka sampai juga.
Nanti kalian langsung masuk dan mandi setelah itu ganti pakaian, dalam kamar karyawan ada lemari pakaian khusus karyawan, kalian boleh memilihnya yang mana suka, karena kalian hanya dibagian belakang jadi tidak perlu mengikuti jadwal baju seragam karyawan,'Sabri memberikan intruksi kepada mereka berdua.
Oh ya..., kalian wajib menginap disini, disini ada fasilitas kamar untuk karyawan,'tambah Sabri.
Dengan sedikit malu dan gugup mereka berdua mencoba memperkenalkan diri kepada karyawan lainnya, sebenarnya mereka tak perlu lagi memperkenalkan diri lagi, karena semalam sang bos sudah memeberitahu kepada karyawan yang lainnya, bahwa pada hari ini akan ada tambahan karyawan untuk mencuci piring.
Ketika air mandi pagi itu menyentuh ubun-ubun ijo, ia merasakan hal yang sangat berbeda sekali. Telah sekian lama ia tak melakukan mandi pagi, ijo merasa sangat segar dan serasa kembali hidup dari dunianya yang mati. Dahulunya ijo bertemu dengan Ragil pada saat sama-sama menjadi pemulung sampah disebuah TPA, karena mempunyai nasib dan latar belakang yang sama akhirnya mereka menjadi sahabat yang akrab. Pada waktu itu mereka masih 8 tahun, jauh lebih dekil dari sekarang, kulit mereka pun banyak dihinggapi jamur kulit, tapi lama-kelamaan jamur kulit itu gerah juga karena ijo dan Ragil selalu berpanas-panasan mencari sesuap nasi dengan mengamen.
Sambil menikmati kesegaran pagi didalam kamar mandi, ijo mencoba mengingat dirinya yang seperti orang terbuang ternyata masih berharga. Walaupun jadi tukang piring, ia merasakan akan mendapat penghidupan layak, dengan mempunyai tempat tinggal serta makanan yang layak.
Ragil keluar lebih dulu dari kamar mandi, ia pun merasa tak sabar lagi mengganti bajunya yang sudah berbulan-bulan melekat dibadannya itu. Biasanya dulu dijalanan, para Punker sejati itu akan lebih dihormati bila jarang mandi dan tak pernah ganti baju, walaupun orang disekeliling telah risih.
Kalau disini mereka tak perlu cemas lagi gonta-ganti baju, karena pemilik rumah makan telah menyiapkan pembantu khusus mencuci pakaian dan beres-beres kamar.
Bagaimana perasaanmu Jo,'sapa ragil dengan senyum cerah setelah keluar dari kamar mengenakan baju karyawan.
Aku merasa sangat berbeda hari ini,'jawab ijo tersenyum karena merasakan semangat hidup itu lagi.
***
Pagi itu mereka belum bekerja, karena belum ada pelanggan yang datang untuk makan.
Ragil dan ijo menggunakan waktu itu untuk berbasa-basi membantu karyawan yang lain bekerja menyelesaikan tugasnya. Dan mereka pun berniat untuk segera menjalin keakraban dengan semua karyawan.
Waktu sudah menunjukkan pukul 10:00 siang, satu persatu-persatu pelanggan sudah mulai berdatangan.
Mereka berdua langsung ke belakang menyuci piring, membantu 2 orang karyawan tetap rumah makan yang telah lama bekerja disitu.
Hari ini adalah hari yang benar-benar melelahkan bagi ijo dan ragil, karena sebelumnya mereka belum pernah bekerja yang begitu meneteskan keringat, kalo ngamen lebih banyak waktu luang untuk istrahatnya, tapi kalo dirumahmakan ini waktu istrahatnya cuma pada malam hari. Tapi kalau bekerja disini mereka tak perlu cemas mati tak makan.
Bagaimana, apakah kalian masih kuat untuk seterusnya,'sapa Sabri kepada mereka berdua yang tersandar di kursi menonton tv karena kelelahan.
Masih pak,'jawab Ragil sedikit agak dipaksakan, walau tadi ijo sudah mengeluh tak kuat, namun Ragil meyakinkannya bahwa ini adalah tantangan hidup yang harus dilewati.
Oh..,baguslah,'balas Sabri tersenyum puas melihat mereka berdua masih semangat, tapi Sabri yakin mereka berdua yang meminta pekerjaan kepadanya itu tak akan mengecewakannya.
***Tak terasa 3 bulan telah berlalu, ijo dan Ragil ternyata masih mampu bertahan, apalagi 2 bulan terakhir ini mereka telah mendapatkan gaji dari pekerjaan nyupirnya dirumah makan.
Sekarang pun mereka kelihatan jauh lebih bersih dan mempunyai penampilan, dibandingkan sewaktu mereka menjadi pengamen dulu. 3 bulan mereka hanya terkurung di rumah makan itu, dengan mentari pun mereka sudah jarang bertemu, mereka lebih akrab dengan malam. Sebab mereka lebih sibuk bekerja pada siang hari ketimbang pada malamnya.
Mereka pun sangat disenangi oleh karyawan lainnya, selain ramah, mereka pun rajin dan mudah bergaul.
Malam itu seperti janji Sang bos, Sabri. Akan ada pertemuan dengan semua karyawan, tentang pembagian karyawan yang akan ditempatkan pada rumah makan barunya di jantung kota. Dan ia pun sangat berharap semua keputusannya dapat diterima dengan baik oleh semua karyawannya. Sabri sebenarnya adalah orang yang demokrasi, ia sangat suka berdialog dan mendengarkan masukan-masukan dari karyawannya. ìa selalu menghargai setiap masukkan serta ide dari karyawannya mengenai usaha rumah makan itu, walaupun rata-rata karyawannya mempunyai latar belakang pendidikan yang jauh dengannya. Namun kadang-kadang ia bersifat diktator juga pada keputusannya, ketika menurut pertimbangannya itu adalah benar.
Kedatangannya telah ditunggu oleh para karyawannya semenjak jam 10 malam tadi, namun entah mengapa Sabri terlambat dari jadwal yang telah ia tentukan sendiri.
***Mobil Sabri memasuki halaman parkir rumah makan, para karyawan melongokkan kepala melihat sang bos keluar dari mobilnya.
Diantara mereka ada yang berharap pindah ke jantung kota dengan tujuan mengganti suasana dan menikmati keramaian, tapi ada juga yang ingin bertahan disini karena sudah akrab dengan pelanggan dan lingkungannya. Namun kabarnya kali ini sang bos tak mau melakukan diskusi, ia sudah punya penilaian sendiri terhadap para karyawan, sesuai dengan ucapannya beberapa hari yang lalu.
Maaf, terlalu lama menungguku,'ucap Sabri meminta maaf, karena keterlambatannya, ia memang selalu menerapkan nilai-nilai kesopanan dan etika dirumah makan itu.
Ayo mari kita kumpul, 'ajak Sabri sambil membawa sebuah map warna biru yang isinya tentang penempatan karyawannya di rumah makan baru.
Para karyawan pun berkumpul ke ruang makan yang dari tadi telah mereka siapkan dengan menyusun meja dan kursi, layaknya seperti susunan sidang pleno.
Seperti yang saya sampaikan kemaren, kali ini saya langsung menetapkan siapa saja yang akan ditempatkan pada rumah makan baru sesuai dengan penilain yang telah saya lakukan,'ucap sabri membuka pertemuan itu.
Dan saya harapkan nantinya, bagi yang tersebut namanya jangan menolak dengan alasan apapun, juga bagi yang masih tinggal disini nanti masih ada kesempatan untuk pindah kesana,'sambung Sabri lagi.
Sabri mulai menyebutkan 7 nama yang akan ia tempatkan dirumah makan barunya, diantara 7 nama itu termasuk Ragil dan ijo. Sebenarnya Ragil dan ijo tak terlalu berharap dengan pemindahan karyawan ke tempat baru, karena mereka baru merasa betah ditempat sekarang, tapi sang bos sudah memindahkannya.
Sabri pun menutupi pertemuan dengan pesan agar para karyawan yang terpanggil namanya untuk segera bersiap-siap dan berangkat besok pagi.
****
Pagi itu masih dingin, mereka telah bersiap-siap sejak tadi menunggu kedatangan sang bos, yang akan mengantarkan mereka ke rumah makan baru. Mereka berdua memang sudah sangat semangat semenjak pengumuman sang bos tadi malam, mereka juga berharap semoga ditempat baru memberikan perubahan yang baru juga bagi mereka. Ragil dan ijo sekarang benar - benar telah merasa aman dalam masalah keuangan dan ketakutan mati tak makan. Sedangkan uang gajian yang 2 bulan itu hampir utuh dalam kantongnya, sebab sebagai tukang cuci piring mereka tak punya waktu banyak untuk bermain-main. Dan kebiasaan merokok pun sudah jauh mereka kurangi, karena mencuci piring pekerjaan yang tiada hentinya, namun faktor selanjutnya karena adanya larangan merokok sewaktu bekerja dari sang bos.
Tin..,tin...tin.., klakson mobil sang bos mengaggetkan lamunan mereka masing-masing.
Dengan bergegas mereka bersama karyawan lainnya menuju mobil membawa semua persiapannya.
setelah mobil hidup dan berjalan, tinggalah rumah makan lama yang cantik dengan profil kayu itu. Dimana mereka semua memulai mencari penghidupan disitu.
***
Sang bos hanya tersenyum melihat mimik-mimik wajah karyawannya diatas mobil, ada yang merasa bahagia dengan ekspresinya tersenyum sepanjang jalan, ada yang merasa sedikit kecewa karena berat hati meninggalkan rumah makan yang lama dan kawan-kawan seperjuangan.
Tapi Sabri sang bos sudah mengerti dan paham akan kondisi awal itu.
Gimana kamu ngantuk Jo,'tegur sabri sambil bergurau dan menyindir yang lainnya mengangguk pura-pura mengantuk. padahal waktu itu ijo sangat menikmati perjalanan karena baru yang kedua kalinya naik mobil mewah, malahan lehernya mau patah melihat bangunan megah yang mereka lewati.
Dalam perjalanan Sabri mengajak anggotanya berbincang yang relaks saja dan bersenda gurau, serta meyakinkan mereka bahwa tempat baru yang akan ditempati dapat memberikan penghidupan yang lebih baik lagi.
Sang bos pun memang sangat ahli berkomunikasi, jarang sekali ia berkomunikasi itu tidak mencair dan membuat orang mendengarnya terbawa suasana.
###
oleh Senja Sebatang Lilin pada 17 Agustus 2010 jam 17:11
Pukul 10:01 wib 16082010 Hari senin.
Setetes Air Yang Ingin Pulang
Jreng...jreng..jrenggg...jreng.
''aku anak tak mampu
bagai mereka itu
tapi soal bercinta....
kupunya cara tersendiri
yang lebih ternikmati
coba anda merenungi....
Sepotong lagu penyanyi legendaris indonesia D'loyd 'sepanjang lorong yang gelap' melantun akrab dari bibir dua pengamen jalanan di atas bus antar kota antar provinsi yang mulai berpenumpang sepi itu, akibat dari makin maraknya travel liar serta mudahnya cara mendapatkan kendaraan pribadi kredit oleh showroom otomotif, hingga penumpang yang biasanya menjadi langganan sudah mulai pergi keluar kota dengan kendaraan sendiri dan demikian juga dengan waktu, karena berharganya waktu pada zaman sekarang penumpang lebih memilih naik travel karena lebih cepat ketimbang bus walaupun ongkosnya lebih mahal serta resiko kecelakaanya lebih tinggi.
'demikianlah hiburan dari kami pengamen jalanan, salah dan janggal mohon dimaafkan, semoga bapak ibu selamat sampai tujuan dan hati-hati dengan barang bawaan, apapun bentuk kepedulian serta solidaritasisasi dari para penumpang akan kami terima dengan dada yang sangat lapang, semoga menjadi berkah bagi kami pengamen jalanan', kalimat ini sudah sangat lumrah didengar oleh penumpang karena hampir semua pengamen di kota ini berucap kalimat yang sama sehabis ngamen, mungkin saja mereka semua satu perguruan dan entah beberapa hari waktu yang dibutuhkan mereka untuk menghafal teks tersebut.
Setelah itu mereka pun mengeluarkan kresekan-kresekan kantong plastik yang telah usang.
Namun Sepertinya para penumpang tak begitu menghiraukan kresekan-kresekan kantong plastik dari bekas permen yang disodorkan ke para penumpang tersebut, mereka berjalan dari lorong bangku ke bangku sambil berkata 'tolonglah buk, pak, terimakasih.
Setelah selesai menyodorkan kresekan dari depan bus hingga ke belakang, mereka akhirnya duduk tersandar lemas dibangku kosong tak berpenumpang itu.
Mungkin saja ini karena dipengaruhi paceklik ekonomi, persaingan hidup hingga jiwa sosial menjadi berkurang.
Sedikit perasaan menggerutu dan kesal terlihat sudah di air wajah mereka, setelah merogoh kresekan kantong plastik itu mereka hanya menemukan beberapa koin logam.
Huuhh..., buat beli rokok aja gak dapet nih, apalagi beli nasi''keluh ijo, sambil menatap ujung-ujung jarinyo yang memanas kemerahan seusai bermain gitar tadi.
sudahlah Jo mungkin pagi ini memang segini manatauan nanti siang kita kebanjiran''hibur Ragil sambil tersenyum optimis menatap sobatnya yang satu kolong itu.
Kebanjiran apa?oli Kali Ciliwung mungkin, balas ijo sambil menatapi kaca depan bus yang menyisiri kali ciliwung....
hahahaha.., sontak gelak tawa Ragil ketika melihat sobatnya kecewa dengan pendapatan ngamen dipagi itu.
Dan para penumpang yang mendengarkan percakapan dua bocah pengamen belasan tahun Di bangku pojok belakang itu tak begitu peduli dengan ucapan-ucapannya, mungkin dihati mereka berbisik 'emang gue pikirin, itu sich DL (Derita Loe).
Duhh..., sepertinya kalo kita terus ngamen di kota ini bisa-bisa kita gak hidup Gil,''keluh ijo seperti sudah menyadari keadaan.
Jadi menurutmu Jo, apakah profesi yang harus kita lakoni biar kita terus bertahan hidup,''kata Ragil penuh semangat.
Entahlah aku masih bingung, karena kita masih lima belas tahun dan orang-orang masih memanggil kita bocah. Kalau ingin bekerja jadi karyawan ijazah gak ada, kalo mau jualan modal gak punya. Gimana kalo kita jual tampang aja Gil ke tante girang....?
Huahahahaha....''mereka tertawa serempak, membenamkan kesedihan dipagi itu.
Jo...Jo..., tante girang yang mana sih mau sama gembel kayak kita, kalo mandi aja badan merasa gak nyaman, tapi kalo gak mandi-mandi kita merasa aman,..hehehe''tawa Ragil seolah mencomoohkan idenya si'ijo.
Gil, asal kamu tahu kita berdua ini adalah keturunan blesteran. Lihatlah dan bandingkan diantara pengamen yang mangkal disini, kita ini punya body and face yang beda. mungkin juga dulunya ada pria bule yang menjadi TTM nyak kite, makanya kita ganteng - ganteng kini.,.wkwkwkwk''ijo pun menjelaskan seraya tertawa ala Facebook.
Lu yang bener-bener aja Jo, gue jadi kaget ni, tapi kalo diperhatiin-diperhatiin bener juga ya...., huahahahaha.., untuk kesekian kalinya tawa mereka meledak di bus berpenumpang sepi itu.
Seorang lelaki tua yang duduk dibangku depan tak jauh dari mereka hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala setelah menyimak apa yang menjadi perbincangan hangat mereka, cuma satu kata dalam pikiran lelaki tua itu 'kasihan' sungguh kasihan kecil-kecil udah gila, aku masih bersyukur walau sudah tua gini masih normal secara pikiran,'pikir lelaki tua itu membandingkan diri.
Sementara bus terus bergerak ke terminal terakhir untuk menurunkan penumpang di sana dan menginap satu malam lalu berangkat lagi ke kota semula menjalankan tugasnya sebagai angkutan umum.
Hoaam..., aku sebenarnya sudah lama Jo ingin berhenti dari posisi jadi pengamen yang gak punya masa depan ini, tapi setiap ku berpikir pikiranku selalu buntu Jo ''ungkap Ragil sambil melepaskan rasa kantuk dari mulutnya yang menguap beraromakan pecel lele semalam.
Husszt..! Jangan arahin kesini donk, polusi tau...! 'keluh ijo yang merasa terganggu dengan aroma yang keluar dari mulut Ragil.
Yang penting Gil habis ini kita ke pasar pagi dulu, habis itu aku mau tiduran dulu diparkiran, semalam tidur di emperan kita benar-benar jadi tumbal nyamuk, dasar nyamuk...! Gak ada teganya mencari mangsa, kalo kita terkena DBD mau diobat kemana siapa yang mau bayarin, aku tak mau berakhir seperti syukri yang terkena DBD mati gak jelas mau di anterin entah dimana kampungnya, sebenarnya syukri itu sebagian kecil dari kita orang - orang yang tak punya bumi kelahiran di negri ini,'cetus ijo sambil menghitung recehan dikantongnya untuk sarapan pagi nanti.
Akhirnya bus berhenti juga di terminal tua tak terawat yang di tungguin manusia - manusia bermental kawat, siapa yang lemah disini bisa lewat.
Ragil dan ijo pun turun bersamaan dengan penumpang lainnya, tak lupa gitar berlapis triplek itu dijinjingnya.
Mereka pun menuju sebuah warteg, Dengan sisa kekayaan ngamen kemaren mereka dapat memesan makanan di warteg mpok'inah, langganannya. Tak jarang mereka makan disini hanya membayarnya dengan tanda tangan, mpok'inah pun tak pernah keberatan kepada bocah-bocah itu ngutang, asalkan saja mereka menulis hutangnya disebuah buku bon hutang yang telah beliau sediakan, dan satu hal lagi mpok'inah sudah mengenal baik akan kejujuran mereka dalam membayar hutang semenjak ingusan.
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Mungkin sudah tak pantas lagi itu dikatakan dengan sarapan, karena waktunya sudah mendekati jam makan siang.
Sehabis makan di warteg mereka langsung menuju parkiran untuk tidur siang, parkiran adalah tempat parkirnya mobil-mobil angkutan barang sejenis truck, biasanya parkiran berlokasi di tepi-tepi kali atau dibawah-bawah jalan tol. Tak jarang tempat ini kadang-kadang menjadi lokalisasi sesaat pada malam harinya, makanya Ragil dan ijo hanya bisa tidur ditempat ini ketika siang hari saja, sebab ketika malam tiba tempat ini sudah mempunyai aktifitas yang berbeda, kadang-kadang bisa jadi di discoutik, tapi itu tergantung kebutuhan komunitas yang menunggui setiap tiang di lorong jalan tol ini.
Ragil pun mencari karton bekas buat alas tidur mereka, di sekitar itu memang banyak sisa-sisa karton bekas aktifitas semalam, ragil mencoba memilih dan membalik-balikkan karton itu sambil mengibas-ngibaskannya dan sesekali menciumnya..., huaak..! Perut ragil jadi mulas dan warteg tadi ingin bergerak lagi ke atas, tapi ragil mencoba menelannya lagi karena masih sayang menurutnya. Bekas apaan nih, .! ? ''ragil menggerutu sambil melemparkan karton itu sejauh mungkin.
Gil, kenapa kamu buang..? Karton itu masih bisa dihargai per-kilonya di tempat penampungan barang bekas, lagian karton-karton bekas itu sengaja dikumpulin oleh bocah-bocah ingusan product sini buat mengisi perut mereka juga,''terang ijto mencegah perbuatan sobatnya itu.
****
Ragil pun menghentikan perbuatannya dan menyadari akan benarnya apa yang disampaikan oleh ijo.
akhirnya ia kembali memilih beberapa helai karton bekas yang cukup bagus untuk alas tempat tidur mereka.
Setelah itu Ragil mendekati ijo yang sudah menahan rasa kantuknya semenjak tadi sambil membawa karton bekas pilihannya, lalu meletakkannya diatas aspal di bawah jalan tol itu. Bising dan hiruk pikuknya dari rutinitas kendaraan yang memanfaatkan jasa sarana jalan tol itu diatas kepala mereka yang mengakibatkan suara bisingnya berubah menjadi suara yang menderu-deru dan getaran-getaran terdengar sangat jelas dari bawah kolong, seolah-olah suara-suara bising itu telah lama terpenjara dibawah kolong. Namun sepertinya semua kebisingan tak jadi penghalang bagi ijo dan Ragil untuk menghilangkan penat dan kantuknya yang telah lama ia tahan.
Mereka pun sama-sama merebahkan diri diatas karton bekas sebagai ganti tikarnya.
Tak lama berselang mereka berdua sama-sama telah hanyut dibawa mìmpi siang bolong, mimpi yang sulit menjadi nyata.
Lagi-lagi Mereka berdua telah ditipu oleh matahari, matahari sudah berhias lembayung merah api, menandakan sore akan berganti kisah dengan senja dan malampun akan menunaikan tugasnya setelah senja yang sesaat.
Bangun...bangun,..bangun.....!, hai bujang..! ìni sudah malam, ayo pergi dari tempatku,..! ''teriak seorang wanita paruh baya sambil berkacak pinggang dan mengepulkan asap tembakau di sela-sela bibirnya yang sudah bergincu menor itu.
Apaan sih,''kata ijo kesal sambil bangun dari tempat tidurnya.
Apaan sih, apaan sih, ini sudah malam,..! Aku juga mau cari duit bujang..
Ayo segera berangkat dari tempatku, ''perintah wanita itu kepada ijo dan Ragil yang sepertinya dari tadi mereka berdua tak mengacuhkannya.
****
Dengan langkah berat dan kesal serta terkantuk-kantuk ijo dan Ragil menuruti perintah wanita bergincu menor itu, mereka langsung menuju kamar mandi sewaan. Kamar mandi ini dikelola oleh jagoan yang mangkal di parkiran ini, sekali masuk kedalam kamar mandi tersebut wajib bayar Rp.1000-, .Walaupun bayar tapi kamar mandi ini sangat membantu komunitas disini, karena ini adalah satu-satunya kamar mandi yang ada di parkiran dan dimanfaatkan oleh orang banyak yang bermukim di pemukiman transit ini. Arti pemukiman transit, komunitas disini bisa saja langsung mendadak kaya, cara mendapatkan kekayaannya berbeda-beda dan berbagai versi, lalu mereka yang sudah mapan pindah dan mencari tempat yang layak untuk melanjutkan kehidupannya.
Sesampainya dikamar mandi seperti biasanya mereka hanya memakai ilmu dua jari, mengusap kedua mata dengan kedua telunjuknya, lalu berkumur-kumur dan membasahi rambutnya. Mereka tak mau sering-sering mandi, alasannya mandi dapat membuat perut menjadi lapar, lagian kalo orang mandi itu harus bawa shampo dan sabun, sedangkan mereka tak pernah mempunyai persediaan seperti itu.
Langkahnya masih gontai keluar dari kamar mandi bagai singa yang kehilangan hutan, sambil merogoh recehan dikantong celana untuk membayar sewa kamar mandi. Uang recehan bernilai seribu rupiah itu dimasukkan kedalam kotak kaca yang telah disediakan dan disaksikan oleh penjaganya mantan preman pelabuhan Tanjung Priok, pak tua yang mulai keriput itu sedikit mengangguk menampakkan bahwa ia dulunya orang yang berwibawa, Ketika ijo dan Ragil memasukkan uang sewa kedalam kotak kaca. Lihat saja Tato-tato yang bersileweran dibadannya melambangkan kejayaan di masa mudanya, namun sekarang telah ikut mengeriput dikulit tua itu, seperti tato ular Cobra di dadanya yang sudah mengeriput sekarang sudah mirip dengan Cacing tanah, lalu tato Rajawali yang anggun dilengannya kini telah berangsur menjadi burung perkutut yang anggun, dan lihat juga di punggungnya tato Buaya hutan Amazon itu pun telah ikut mengeriput juga mirip Cicak didinding.
Didunia ini memang tidak ada yang abadi, tato dibadan manusia pun juga ikut tak abadi.
***
Jo, sekarang kita mau kemana? 'tegur Ragil yang dari kamar mandi tadi belum tahu kemana arah langkah mereka malam ini.
Aku juga tak tau,'jawab ijo linglung.
Jo, perutku dah lapar,'kata ragil sedikit berbisik dan mengeryitkan dahinya sambil memegang perutnya yang telah keroncongan.
Aku juga, perutku sudah mulai merasa kram karena gak mempan kayaknya di isi dengan warteg, tapi persediaan uang kita sudah menipis, bagaimana langkah kita selanjutnya Gil,'terang ijo yang juga merasakan hal yang sama dengan Ragil.
'Kadang aku selalu berpikir Jo setiap malamnya, tentang pekerjaan kita sebagai pengamen. Lihatlah sekarang penumpang mulai sepi dan pelit, belum lagi persaingan kita sesama pengamen yang sama-sama mencari hidup di kota ini. Sedangkan yang kita dapat hanyalah untuk pembeli sebatang rokok dan sebungkus nasi. Aku rasa kita tak akan mampu bertahan dengan kondisi seperti ini, bisa-bisa kita mati gak makan Jo,... Aku punya ide bagaimana kalo kita alih profesi nyupir aja.., 'ungkap Ragil menjelaskan keadaan yang sedang mereka hadapi dan ide barunya.
Nyupir...?ijo merasa terheran dengan ide kaget Ragil tersebut.
Ya nyupir, Ragil mencoba meyakinkan ijo.
Gak mungkin Gil, jangankan nyetir mobil, bawa sepeda motor pun kita belum bisa, 'ujar ijo sedikit membantah idenya Ragil.
Maksudku bukan nyupir membawa mobil Jo, tapi..
Lantas, 'ijo memotong pembicaraan Ragil yang mencoba menjelaskan idenya.
Ya maksudku NYUci PIRing di rumah makan padang...., oh itu toh pengertiannya...!. whahakhagkhakhagkhag..., mereka berdua tertawa terbahak-bahak, menertawakan diri masing-masing. Dan sekaligus membenamkan kram perut mereka sesaat yang dari tadi benar-benar meradang.
***
Tawa mereka sempat membuat tikus-tikus got yang berkeliaran tertegun sesaat, karena tak biasanya dua bocah itu tertawa sebahagia ini.
Tak terasa hari sudah larut malam, bulan yang menggantung kembali ditutup awan. Ragil dan ijo masih berdiskusi tentang lanjutan kehidupan.
Jadi gimana Jo, kamu setuju gak nyupir..?Ragil kembali bertanya kepada ijo meminta kepastian.
Aku setuju Gil, disamping sumatera tengah kita bakal terjamin, kita gak perlu lagi berpanas-panasan, berteriak-teriak diatas bus memetik-metik senar gitar mencari sesuap nasi. Tapi Gil, ''ijo merasa ada kerisauan yang harus ia sampaikan kepada ragil.
Tapi gimana Jo?Ragil langsung bertanya secara spontan dan berharap ijo tak menolak ide nyupir ini.
Tapi, kita kan gak punya ijazah Gil, dan identitas pun gak ada, hingga saat ini aku masih ragu Gil, apakah kita sudah terdaftar sebagai warga negara di negri ini atau belum. Kamu dan aku sama Gil, sama-sama mendapati diri sudah seperti ini saja, siapakah orang tua kita? dari mana asal kita? kampung halaman kita? hingga saat ini kita belum tahu. Dan kita pun rasanya tak akan pernah bisa mengetahui, karena sewaktu kecil kita hanya jadi oporan-oporan dari pengemis jalanan yang menfaatkan kita meminta-minta di lampu merah dangan cara menggendong pakai kain salempang di punggung dan kita pun diajak berpanas-panasan. Setelah kita baru pandai berlari, kita pun di didik untuk jadi pengemis. Syukurlah kita bisa melarikan diri dari setan cebol pengembala para gelandangan itu, kalo gak sampe sekarang kita pasti sudah menjadi pengemis senior..., atau jangan-jangan organ tubuh kita bisa di mutilasi oleh setan cebol itu. Seperti Film Anak yang memenangkan kuis Millioner dari perkampungan kumuh di india, mereka menangkapi anak-anak dan memaksanya jadi pengemis, lalu pada malam harinya anak-anak itu di mutilasi dan dibuat cacat seumur hidup, agar nantinya orang-orang semakin kasihan dan memberikan sedekah yang banyak kepada anak yang cacat, lalu pada sore harinya para pengembala gelandangan menjemput semua pengemis itu ditempat dimana mereka ia turunkan tadi pagi dan merekalah yang menikmati hasilnya. Yang sangat menyedihkan ketika seorang bocah dibangunkan pada malam hari, lalu sebelah matanya disirami dengan minyak panas, ada juga yang kakinya dipotong paksa sebelah, pokoknya anak-anak jalanan itu dibuat sangat menyedihkan, malahan ada yang dipotong lidahnya agar orang-orang yang melihat menjadi sangat kasihan mendengar suaranya. semuanya terasa sangat menyedihkan bila membayangkan film itu kepada kehidupan yang kita jalani. Syukurlah sekarang kita sudah bisa lepas dan bebas dari semua itu dan hidup mandiri walaupun hanya jadi pengamen jalanan. Kita pun sekarang sudah bisa membaca karena sering bernyanyi dan sudah bisa juga menulis serta menghitung, walaupun gara-gara keseringan membeli nomor togel dan meramal-meramal angka-angka yang bakal keluar sorenya dengan pencarian berbagai rumus, rumus yang sama-sama kita yakini bahwa rumus-rumus itu mampu menebak angka-angka yang akan dikeluarkan oleh bandar,''ijo menerangkan semuanya secara panjang lebar, hingga membuat Ragil terharu tanpa disadarinya air matanya berlinang juga, karena mendengar cerita ijo, kemudian mengingat masa lalu serta asal - usul dan masa lalu yang benar-benar Sangat suram.
***
Benar Jo, selama perjalanan hidup yang telah ditempuh belum pernah kita merasakan kebahagiaan yang selayaknya. Mungkinkah akan selalu begini Jo...., entahlah..,'Ragil mengeluh sendiri.
Malam yang awalnya hangat menjadi hening sendiri, cuma sesekali terdengar riuh sorak dari pengunjung pondok karaokean yang tak jauh dari situ, biasanya pengunjungnya terdiri dari buruh-buruh pelabuhan dan buruh kasar lainnya, tak jarang juga sopir - sopir angkutan melepaskan lelah dan menghibur diri disitu.
Gil, sepertinya sudah larut malam, sebaiknya kita mencari tempat makan, 'ucap ijo yang tiba-tiba saja memecah kesunyian.
Baiklah Jo, tapi sebaiknya kali ini kita makan dirumah makan padang aja, manatauan mereka membutuhkan karyawan buat nyuci piring,'balas Ragil sambil berdiri dari tempat duduknya dan melangkah bersama ijo mencari rumah makan.
Menurutmu Gil, kalo kita memohon saja kepada bos rumah makan meminta pekerjaan, kira-kira mereka mau menerima gak, 'tanya ijo kepada Ragil.
Tergantung, kalo kita meminta pekerjaan sebagai tukang nyuci piring biasanya mereka terima aja, karena pekerjaan nyuci piring banyak membuat karyawan tak betah, sebab tangan dan kaki yang lama-lama basah terkena air memudahkan kita terserang penyakit kulit seperti kutu air.
****
ìya juga ya, kecuali kita meminta sebagai menejernya mungkin pihak rumah makan akan langsung menggeleng, hehehe'ijo mencoba membuka tawanya.
Kalo menejer sih bukan kayak kita pendidikannya, tapi kalo tampangnya yach...., mirip-mirip kitalah......,hehehe'ragil pun tertawa kecil dan melarutkan sedihnya pada malam yang mulai dingin itu.
Tak lama mereka berjalan, akhirnya sampai juga di sebuah rumah makan padang. Sesampai disana mereka langsung memesan nasi dua piring.
Dengan penuh lahap dan sesuap dua suap nasi itu hancur didalam mulut mereka yang seperti gergaji dipabrik kayu wood forest, tak ada sepah yang tersisa. Tanpa basa-basi dan menunggu suap terakhir ijo, ragil sudah memanggil pelayan dan setengah bersorak 'uda, tambuah ciek...! Setìap kali makan di rumah makan padang, kata-kata 'tambuah ciek' sudah sangat lumrah dan bersahabat, yang mempunyai pengertian : tambah satu lagi.
Dengan tergesa-gesa pelayanan rumah mengambilkan tambuah satu lagi, tak lama berselang, tambuah itu pun ikut hanyut juga ke dalam muara perut bocah-bocah itu.
Setelah selesai makan, lalu mereka membayar pada kasirnya. Tak lupa mereka bertanya kepada kasir, siapakah pengelola rumah makan itu.
Kasir pun menunjuk seorang pria yang duduk disudut meja, yang lagi asyik dengan buku laporan keuangan rumah makan, ia terus membalik halaman perhalaman dan sesekali memencet kalkulator.
Tanpa membuang waktu lagi Ragil dan ijo langsung menemui pengelola rumah makan yang sedang asyik menghitung laporan keuangan rumah makan itu.
Bolehkah kami duduk pak,'ijo meminta izin kepada pengelola itu.
Silahkan.., ada yang bisa kami bantu,'kata pengelola itu ramah dengan tampilan wajah marketingnya.
Kami..., kami bermaksud memohon untuk bekerja disini, 'kata ijo menyampaikan maksud dengan tergagap-gagap.
Oh..., kami belum membutuhkan tambahan karyawan, tapi.., dalam satu bulan ke depan mungkin ada, karena kami akan melakukan pengembangan ke jantung kota,'pengelola itu menjawab mencoba memberikan keterangan dan masih tersenyum ramah menawan.
Tapi pak, kami hanya ingin melamar sebagai tukang cuci piring, itu pun kami sanggup tidak digaji asalkan dikasih makan,'ijo memohon seperti orang putus asa.
Ha..ha..ha.., kalian ini ada-ada saja, mana ada karyawan yang bekerja tidak digaji, dalam agama pun kita diwajibkan membayar upah dari orang-orang yang telah mengeluarkan keringat setelah bekerja,.. Baiklah, kalian diterima bekerja disini, dengan persyaratan training atau masa percobaan satu bulan, dan dalam satu bulan itu kalian hanya mendapatkan hak satu kali sarapan dan dua kali makan, dan jika pengembangan rumah makan ini tak ada halangan kalian harus bersedia untuk dipindahkan kesana, kemudian setelah bekerja disana kalian akan berhak menerima gaji, kalau sekarang kami tidak menyediakan gaji untuk tambahan karyawan, bagaimana apakah kalian setuju,..?pengelola rumah makan itu menjawab sambil memberikan keterangan panjang lebar, dan sepertinya mulai memberikan kontrak kerja pada Ragil dan ijo.
****
Ya kami bersedia pak,..! 'Jawab ijo sedikit kaget karena tak menyangka akan semudah itu diterima bekerja pada rumah makan itu.
Ragil pun sedikit terheran, kenapa kok langsung diterima aja..., atau mungkin karena wajah mereka yang ala blesteran dari pinggiran kali Ciliwung ya,'Ragil hanya bisa terkekeh dalam hati karena bahagia.
Jadi kapan kami bisa mulai bekerja pak,'tanya ijo penuh harap.
Besok boleh kalau kalian sudah siap, dan kalian boleh menginap disini dengan syarat menjunjung tinggi kejujuran.
Kami siap pak, besok pagi kami akan kembali kesini dan seterusnya menginap disini,'jawab ragil memberikan kepastian.
Baiklah kalo begitu, besok pagi kalian datang kesini. Jangan sampai kesiangan, kalo kesiangan kalian akan langsung dipecat tanpa pesangon,'pesan pengelola rumah makan itu dengan sedikit ancaman.
***
Mereka pun keluar dari rumah makan tersebut dengan membawa harapan baru, harapan yang sangat mereka rindukan, hidup dengan aturan dan hidup dengan tujuan.
Langkahnya makin melambat dan melirik kiri-kanan diantara emperan-emperan toko yang akan bisa mereka singgahi barang semalam, untuk melemparkan kantuk yang betul-betul telah menggayut dipelupuk matanya.
Akhirnya tatapan mereka terhenti disebuah toko pakaian, lantainya yang keramik berkilau dipandang rembulan.
Gil, disitu aja Gil,'kata ijo sambil menunjuk emperan toko berlantai keramik itu, yang akan menjadi tempat pelepas lelah mereka untuk semalam.
Ya,'Ucap Ragil seraya mengangguk tanda menyetujui.
Mereka pun menghampiri emperan toko itu, sedikit meniup-niup mengusir debu dilantai.
Jo, esok pagi kita jangan sampai ketiduran Jo,'ucap Ragil mengingatkan ijo yang langsung telentang dengan tangan mengembang seperti orang tak sadar diri itu.
Ya semoga saja tuhan akan mengasihani kita dan membangunkan kita pada esok harinya,'jawab ijo yang sudah mulai terkantuk dengan mata berat sambil berharap pada tuhan untuk yang pertama kalinya, tapi entah kepada tuhan yang mana.
Rasa kantuk dan capek, serta rasa bahagia dalam hati karena mereka akan meninggalkan pekerjaan sebagai pengamen yang menurut mereka semakin susah dan tak ada jaminan, telah menghantarkan mereka ke alam mimpi masing-masing.
***
Suara adzan subhuh menggema dikala menyambut fajar, memecah kebekuan akibat udara dingin semalam, suara bilal yang mengumandangkan adzan tanda panggilan shalat menyentakkan umat disekitarnya dari tidur lelap. Mesjid itu berdiri Tak berapa jauh dari emperan toko pakaian tempat kedua bocah itu melepaskan penat.
Huaaaoom...., 'ijo terbangun dan menguap membuang kantuknya.
Syukurlah aku terbangun dipagi ini, sudah sekian lama aku tak pernah bangun sepagi ini, tuhan manakah yang mendengar harapanku semalam,'bisik ijo dalam hati dan mencoba mengembalikan kestabilan badannya akibat dinginnya lantai keramik emperan toko.
Gil.., Gil..., bangun Gil, sudah pagi, nanti kita terlambat,'kata ijo sambil menggoyangkan badan Ragil yang memang tertidur pulas.
Dengan sedikit menggeliat dan meregangkan sekujur tubuhnya, Ragil langsung bangun dan duduk sejenak menenangkan kepalanya yang terasa masih puyeng.
Ayo Gil, kita cuci muka dulu di mesjid itu, lalu langsung berangkat ke Rumah makan padang itu,'ajak ijo yang memang sudah mulai semangat.
Ragil mengikuti langkah ijo dengan kondisi mata yang masih 5 watt dan jarak pandang 1 meter itu.
Tak lama berjalan mereka memasuki gerbang mesjid dan langsung menuju tempat berwudhu'. Baru saja Ragil mau memutar kran air, seorang lelaki muda menepuk pundaknya. Eh.., kalian, shalat disini ya,'sapa silelaki muda.
Gak, kami..., kami cuma mau numpang cuci muka pak,'jawab Ragil tergagap karena grogi.
Lho..., kenapa gak shalat, kan sudah sampai di mesjid,'ia kembali bertanya.
Kami belum pernah melakukannya pak,'jawab Ragil jujur.
Hmmn.., nanti bagaimana mungkin kalian bekerja dengan saya kalo tidak shalat, karena salah satu ciri-ciri orang yang jujur itu melakukan shalat,'tambah lelaki kelahiran padang itu, ia adalah tamatan Master ekonomi di negri Jiran, semenjak kecil ia sudah diasuh oleh pamannya yang pengusaha rumah makan itu. Lelaki padang itu bernama Sabri.
Tapi kami berjanji pak dalam hati alan menjunjung tinggi kejujuran,'Jawab Ragil mencoba memberi ketegasan.
Tunggu saya disini ya, Sabri langsung bergegas ke dalam mesjid karena suara Qomat tanda panggilan segera shalat telah terdengar.
Sementara ijo dan Ragil masih terpaku heran, karena tak menyangka akan bertemu pengelola rumah makan yang akan memberikan mereka pekerjaan di mesjid ini.
***
Setelah menunggu beberapa menit terdengarlah ucapan salam dari jamaah dalam mesjid tanda shalat telah selesai.
Kemudian keluarlah Sabri lelaki muda pengelola rumah makan padang dari pintu mesjid, ia hanya tersenyum melihat kedua bocah dekil yang sudah sampai dimesjid tapi tak ikut shalat. Ijo dan Ragil benar-benar belum mengerti cara menunaikan shalat, bahkan mereka belum memutuskan untuk memeluk agama manapun satu juga.
Ternyata Kalian masih menungguku, ayo ikut aku,'Sabri menyapa Ragil dan ijo yang memang menunggu sejak tadi, Lalu mereka mengikuti langkah Sabri yang menuju sebuah sedan mewah yang berwarna hitam mengkilat.
Naiklah, 'ucap Sabri membukakan pintu belakang.
Bocah itu mereka merasa sangat minder karena seumur-umurnya baru kali ini ia menaiki mobil semewah itu, biasanya ia hanya naik turun dari bis kota ke bis kota.
Mobil itupun keluar dari gerbang mesjid dan meluncur menuju rumah makan miliknya.
Kalian tahu kenapa saya langsung mau menerima kalian bekerja ditempat saya, 'ucap Sabri membuka percakapan.
Tidak tahu pak,'jawab ijo menggelengkan kepala.
Aku mau menerima kalian bekerja karena aku bisa meyakini bahwa kalian akan mampu bekerja secara disiplin dan jujur, ku harap kalian tidak mengecewakan penilainku,'ucap Sabri dan menyampaikan pengamatannya, sekaligus memberikan semangat dan kepercayaan kepada Ijo dan Ragil.
Kami merasa akan mampu pak, dan kami akan menghargai semua itu,'terang Ragil mencoba meyakinkan lagi.
Tak begitu lama dalam perjalanan karena jarak antara mesjid dan rumah makannya tak begitu jauh, akhirnya mereka sampai juga.
Nanti kalian langsung masuk dan mandi setelah itu ganti pakaian, dalam kamar karyawan ada lemari pakaian khusus karyawan, kalian boleh memilihnya yang mana suka, karena kalian hanya dibagian belakang jadi tidak perlu mengikuti jadwal baju seragam karyawan,'Sabri memberikan intruksi kepada mereka berdua.
Oh ya..., kalian wajib menginap disini, disini ada fasilitas kamar untuk karyawan,'tambah Sabri.
Dengan sedikit malu dan gugup mereka berdua mencoba memperkenalkan diri kepada karyawan lainnya, sebenarnya mereka tak perlu lagi memperkenalkan diri lagi, karena semalam sang bos sudah memeberitahu kepada karyawan yang lainnya, bahwa pada hari ini akan ada tambahan karyawan untuk mencuci piring.
Ketika air mandi pagi itu menyentuh ubun-ubun ijo, ia merasakan hal yang sangat berbeda sekali. Telah sekian lama ia tak melakukan mandi pagi, ijo merasa sangat segar dan serasa kembali hidup dari dunianya yang mati. Dahulunya ijo bertemu dengan Ragil pada saat sama-sama menjadi pemulung sampah disebuah TPA, karena mempunyai nasib dan latar belakang yang sama akhirnya mereka menjadi sahabat yang akrab. Pada waktu itu mereka masih 8 tahun, jauh lebih dekil dari sekarang, kulit mereka pun banyak dihinggapi jamur kulit, tapi lama-kelamaan jamur kulit itu gerah juga karena ijo dan Ragil selalu berpanas-panasan mencari sesuap nasi dengan mengamen.
Sambil menikmati kesegaran pagi didalam kamar mandi, ijo mencoba mengingat dirinya yang seperti orang terbuang ternyata masih berharga. Walaupun jadi tukang piring, ia merasakan akan mendapat penghidupan layak, dengan mempunyai tempat tinggal serta makanan yang layak.
Ragil keluar lebih dulu dari kamar mandi, ia pun merasa tak sabar lagi mengganti bajunya yang sudah berbulan-bulan melekat dibadannya itu. Biasanya dulu dijalanan, para Punker sejati itu akan lebih dihormati bila jarang mandi dan tak pernah ganti baju, walaupun orang disekeliling telah risih.
Kalau disini mereka tak perlu cemas lagi gonta-ganti baju, karena pemilik rumah makan telah menyiapkan pembantu khusus mencuci pakaian dan beres-beres kamar.
Bagaimana perasaanmu Jo,'sapa ragil dengan senyum cerah setelah keluar dari kamar mengenakan baju karyawan.
Aku merasa sangat berbeda hari ini,'jawab ijo tersenyum karena merasakan semangat hidup itu lagi.
***
Pagi itu mereka belum bekerja, karena belum ada pelanggan yang datang untuk makan.
Ragil dan ijo menggunakan waktu itu untuk berbasa-basi membantu karyawan yang lain bekerja menyelesaikan tugasnya. Dan mereka pun berniat untuk segera menjalin keakraban dengan semua karyawan.
Waktu sudah menunjukkan pukul 10:00 siang, satu persatu-persatu pelanggan sudah mulai berdatangan.
Mereka berdua langsung ke belakang menyuci piring, membantu 2 orang karyawan tetap rumah makan yang telah lama bekerja disitu.
Hari ini adalah hari yang benar-benar melelahkan bagi ijo dan ragil, karena sebelumnya mereka belum pernah bekerja yang begitu meneteskan keringat, kalo ngamen lebih banyak waktu luang untuk istrahatnya, tapi kalo dirumahmakan ini waktu istrahatnya cuma pada malam hari. Tapi kalau bekerja disini mereka tak perlu cemas mati tak makan.
Bagaimana, apakah kalian masih kuat untuk seterusnya,'sapa Sabri kepada mereka berdua yang tersandar di kursi menonton tv karena kelelahan.
Masih pak,'jawab Ragil sedikit agak dipaksakan, walau tadi ijo sudah mengeluh tak kuat, namun Ragil meyakinkannya bahwa ini adalah tantangan hidup yang harus dilewati.
Oh..,baguslah,'balas Sabri tersenyum puas melihat mereka berdua masih semangat, tapi Sabri yakin mereka berdua yang meminta pekerjaan kepadanya itu tak akan mengecewakannya.
***Tak terasa 3 bulan telah berlalu, ijo dan Ragil ternyata masih mampu bertahan, apalagi 2 bulan terakhir ini mereka telah mendapatkan gaji dari pekerjaan nyupirnya dirumah makan.
Sekarang pun mereka kelihatan jauh lebih bersih dan mempunyai penampilan, dibandingkan sewaktu mereka menjadi pengamen dulu. 3 bulan mereka hanya terkurung di rumah makan itu, dengan mentari pun mereka sudah jarang bertemu, mereka lebih akrab dengan malam. Sebab mereka lebih sibuk bekerja pada siang hari ketimbang pada malamnya.
Mereka pun sangat disenangi oleh karyawan lainnya, selain ramah, mereka pun rajin dan mudah bergaul.
Malam itu seperti janji Sang bos, Sabri. Akan ada pertemuan dengan semua karyawan, tentang pembagian karyawan yang akan ditempatkan pada rumah makan barunya di jantung kota. Dan ia pun sangat berharap semua keputusannya dapat diterima dengan baik oleh semua karyawannya. Sabri sebenarnya adalah orang yang demokrasi, ia sangat suka berdialog dan mendengarkan masukan-masukan dari karyawannya. ìa selalu menghargai setiap masukkan serta ide dari karyawannya mengenai usaha rumah makan itu, walaupun rata-rata karyawannya mempunyai latar belakang pendidikan yang jauh dengannya. Namun kadang-kadang ia bersifat diktator juga pada keputusannya, ketika menurut pertimbangannya itu adalah benar.
Kedatangannya telah ditunggu oleh para karyawannya semenjak jam 10 malam tadi, namun entah mengapa Sabri terlambat dari jadwal yang telah ia tentukan sendiri.
***Mobil Sabri memasuki halaman parkir rumah makan, para karyawan melongokkan kepala melihat sang bos keluar dari mobilnya.
Diantara mereka ada yang berharap pindah ke jantung kota dengan tujuan mengganti suasana dan menikmati keramaian, tapi ada juga yang ingin bertahan disini karena sudah akrab dengan pelanggan dan lingkungannya. Namun kabarnya kali ini sang bos tak mau melakukan diskusi, ia sudah punya penilaian sendiri terhadap para karyawan, sesuai dengan ucapannya beberapa hari yang lalu.
Maaf, terlalu lama menungguku,'ucap Sabri meminta maaf, karena keterlambatannya, ia memang selalu menerapkan nilai-nilai kesopanan dan etika dirumah makan itu.
Ayo mari kita kumpul, 'ajak Sabri sambil membawa sebuah map warna biru yang isinya tentang penempatan karyawannya di rumah makan baru.
Para karyawan pun berkumpul ke ruang makan yang dari tadi telah mereka siapkan dengan menyusun meja dan kursi, layaknya seperti susunan sidang pleno.
Seperti yang saya sampaikan kemaren, kali ini saya langsung menetapkan siapa saja yang akan ditempatkan pada rumah makan baru sesuai dengan penilain yang telah saya lakukan,'ucap sabri membuka pertemuan itu.
Dan saya harapkan nantinya, bagi yang tersebut namanya jangan menolak dengan alasan apapun, juga bagi yang masih tinggal disini nanti masih ada kesempatan untuk pindah kesana,'sambung Sabri lagi.
Sabri mulai menyebutkan 7 nama yang akan ia tempatkan dirumah makan barunya, diantara 7 nama itu termasuk Ragil dan ijo. Sebenarnya Ragil dan ijo tak terlalu berharap dengan pemindahan karyawan ke tempat baru, karena mereka baru merasa betah ditempat sekarang, tapi sang bos sudah memindahkannya.
Sabri pun menutupi pertemuan dengan pesan agar para karyawan yang terpanggil namanya untuk segera bersiap-siap dan berangkat besok pagi.
****
Pagi itu masih dingin, mereka telah bersiap-siap sejak tadi menunggu kedatangan sang bos, yang akan mengantarkan mereka ke rumah makan baru. Mereka berdua memang sudah sangat semangat semenjak pengumuman sang bos tadi malam, mereka juga berharap semoga ditempat baru memberikan perubahan yang baru juga bagi mereka. Ragil dan ijo sekarang benar - benar telah merasa aman dalam masalah keuangan dan ketakutan mati tak makan. Sedangkan uang gajian yang 2 bulan itu hampir utuh dalam kantongnya, sebab sebagai tukang cuci piring mereka tak punya waktu banyak untuk bermain-main. Dan kebiasaan merokok pun sudah jauh mereka kurangi, karena mencuci piring pekerjaan yang tiada hentinya, namun faktor selanjutnya karena adanya larangan merokok sewaktu bekerja dari sang bos.
Tin..,tin...tin.., klakson mobil sang bos mengaggetkan lamunan mereka masing-masing.
Dengan bergegas mereka bersama karyawan lainnya menuju mobil membawa semua persiapannya.
setelah mobil hidup dan berjalan, tinggalah rumah makan lama yang cantik dengan profil kayu itu. Dimana mereka semua memulai mencari penghidupan disitu.
***
Sang bos hanya tersenyum melihat mimik-mimik wajah karyawannya diatas mobil, ada yang merasa bahagia dengan ekspresinya tersenyum sepanjang jalan, ada yang merasa sedikit kecewa karena berat hati meninggalkan rumah makan yang lama dan kawan-kawan seperjuangan.
Tapi Sabri sang bos sudah mengerti dan paham akan kondisi awal itu.
Gimana kamu ngantuk Jo,'tegur sabri sambil bergurau dan menyindir yang lainnya mengangguk pura-pura mengantuk. padahal waktu itu ijo sangat menikmati perjalanan karena baru yang kedua kalinya naik mobil mewah, malahan lehernya mau patah melihat bangunan megah yang mereka lewati.
Dalam perjalanan Sabri mengajak anggotanya berbincang yang relaks saja dan bersenda gurau, serta meyakinkan mereka bahwa tempat baru yang akan ditempati dapat memberikan penghidupan yang lebih baik lagi.
Sang bos pun memang sangat ahli berkomunikasi, jarang sekali ia berkomunikasi itu tidak mencair dan membuat orang mendengarnya terbawa suasana.
###
Rabu, 05 Mei 2010
adat
Tuhan pernah berujar bahwa manusia dihadirkan di muka bumi dengan keragaman. Keragaman jenis kelamin, keragamanan bangsa, keragaman suku, dan keragaman-keragaman yang lain, yang –menurut Tuhan_ semua itu ada agar manusia bisa saling mengenal dan berdialog. Karena itu, keragaman adalah realitas hidup yang hadir sejak kehidupan manusia diciptakan. Menolak keragaman berarti tidak percaya pada hidup dan menggugat Sang Pencipta Kehidupan.
Dalam menyikapi perbedaan dalam keragaman itu manusia memiliki kemampuan dan tanggung jawab. Kemampuan untuk mengenali ‘yang lain’ di luar dirinya dan tanggung jawabnya untuk mengelola keragaman sebagai kekayaan dengan penuh tanggung. Meminjam perspektif Windo Wibisono, setidaknya keberagaman memilki dua sisi yang berbeda. Di satu sisi keberagaman adalah kekayaan social budaya (social capital and culture capital) namun disis lain keberagaman mengandung sebuah sekat pembeda, yang memisahkan dan mengklasifikasikan satu dengan yang lain. [1]
Jika keragaman adalah sebuah kekayaan, mungkin bangsa Indonesia adalah salah satu bangsa yang terkaya di dunia. Bagaimana tidak, bangsa ini dihuni dan diwarnai oleh berbagai suku, etnis, budaya, ritual, agama dan kepercayaan. Sungguhpun begitu, jika kekayaan ini tidak bisa disikapi secara arif dan tidak disertai dengan norma yang bisa meneguhkan ’kekayaan’ ini dalam bingkai penghormatan dan toleransi maka sangat memungkinkan menimbul gesekan, perselisihan bahkan konfik.
Secara faktual, bangsa ini tidak lahir dalam rentang masa yang singkat. Kesejarahan yang panjang telah mengkreasi bangsa ini dengan berbagai kearifan lokal dan kearifan budaya. Menyikapi perbedaan bukan ’makanan baru’ di negeri ini. Namun nampaknya selalu perlu untuk dilakukan perenungan mengapa berbagai konflik yang beririsan dengan isu sara masih kerap terjadi. Meski tidak bisa langsung menjadi simpulan bahwa berbagai konflik tersebut disebabkan karena perbedaan SARA an sich, namun mengapa SARA masih bisa ditunggagi atau setidaknya mewarnai berbagai konflik itu.
Dalam sebuah acara refleksi di Depok, Sosiolog UI Thamrin Tamagolo menyampaikan bahwa konflik dalam realitas sosial adalah sesuatu yang wajar. Namun bagaimana konflik itu kemudian harus bisa dikelola dan ditransformasikan menuju terwujudnya perdamaian.[2] Artinya dalam menjalani proses hidup bersama, konflik adalah suatu hal yang mesti terjadi namun bukan berarti perbedaan SARA menjadi alasan untuk berkonflik, malah sebaliknya berbagai norma agama, suku dan budaya sangat bisa menjadi kekuatan untuk menjadi alat transformasi sosial secara damai. Karena pastinya setiap agama dan budaya memilki norma yang mengedepankan perdamaian, humanitas, dan prinsip keadilan.
Berbeda bukan untuk Dibedakan
Gagasan multikulturalisme sangat signifikan untuk menjadi perspektif bangsa ini dalam merefleksikan kembali bagaimana kehidupan bangsa ini harus berlanjut dengan pluralitas. Syafiq Syaeroji dalam artikelnya Meneguhkan Dunia Publik Multietnis menjabarkan bagaimana multikulturalisme secara paradigmatik memberikan pengakuan harkat dan martabat manusia dalam budayanya masing-masing.[3] Menurutnya, diperlukan sebuah konsensus sosial politik sebagai sarana pendukung dalam membangun interaksi antar masing-masing entitas bangsa. Dan dalam sejarah kemerdekaan, Pancasila menjadi salah satu konsensus itu yang mampu menjadi simbol, konsensus, dan norma bangsa yang bisa memberi ruang hidup bagi semua agama, etnis dan budaya yang bernaung di bawah bumi Indonesia.
Sangat disayangkan, rezim orde baru telah meruntuhkan proses internalisasi konsensus itu dalam regulasi –bahkan represi- negara. Watak pemerintahan Suharto yang haus akan ketertiban, keteraturan dan ’ketunggalan’ telah memaksakan pluralitas diarak dalam penyeragaman ’semu’ dan diikat dalam derap komando otoritariannya.
Akibatnya, selain menimbulkan marginalisasi dan diskriminasi, rezim orde baru telah mematikan proses sosial sekian puluh tahun bahkan telah mengakibatkan proses bangsa untuk berdialog dengan perbedaan harus dimulai dari nol. Hal ini nampak jelas bagaimana pasca tumbangnya Suharto hingga saat ini, isu-isu SARA begitu mudahnya menjadi pemantik konflik sosial. Mulai isu etnis China di kerusuhan Mei 1998, isu ’Madura-Dayak’ di konflik Sambas sampai yang terakhir isu agama yang kental mewarnai konflik panjang di Poso.
Sebenarnya dalam mengurai problem ini tidak hanya diperlukan pandangan multikultural atau paradigma inklusifitas saja yang perlu dimiliki bangsa ini. Memang sangat sepakat dengan apa yang dituturkan oleh Rizem Aizid, bahwa konflik-konflik itu bisa diminimalisir ketika cara pandang inklusivisme bisa diekspresikan dalam kesadaran, sikap, dan perilaku sosial. [4] Namun lebih dari itu praktik diskriminasi yang dirawat dalam yurispedensi ketatanegaraan kita juga harus dirombak total. Selain itu upaya-upaya serius dalam mewujudkan hak-hal sipil warganegara termasuk hak ekonomi harus sesegera mungkin ditegakkan.
Tak ada yang mengingkari bahwa produk perundang-undangan yang kita miliki adalah warisan dari Belanda –yang lebih dari 350 tahun bercokol di negeri ini-. Watak penjajah manapun –termasuk penguasa otoriter yang berwatah penjajah- jelas selalu menindas, mengadudomba, memarginalisasi dan men-diskriminasi. Karena itu dalam membaca berbagai produk perundangan di negeri ini harus selalu dikritis dan dikaji ulang -kalau perlu dirubah total- dalam konteks itu. Ketidak adilan dan diskriminasi yang terus diopersikan oleh penguasa harus segera dihentikan jika bangsa ini tidak ingin menumpuk-numpuk dosa dan kesalahan yang akan merugikan bangsa sendiri. Diskriminasi karena sebuah fakta pluralitas sejak awal adalah salah, karena perbedaan bukan untuk dibedakan akan tetapi untuk ditransformasikan dan dirayakan dalam kerangka perdamaian dan keadilan.
Kesadaran akan hal itu rupanya mulai diartikulasikan oleh para elit yang memiliki kewenangan yudikatif. Hal ini juga didorong oleh semakin nyaringnya suara-suara korban diskriminasi/kaum marginal dan kelompok-kelompok kritis. Pencabutan Surat Bukti Kewarganegaraan Indonesia (SKBRI), Revisi UU Kependudukan, Revisi UU KUHP, dan penyusunan RUU Anti Diskriminasi adalah upaya awal yang harus terus diikhtiarkan lebih jauh dalam upaya menegakkan keadilan di kehidupan berbangsa dan bernegara.
Semangat anti diskriminasi dalam merumuskan perundang-undangan
Dalam sebuah acara yang digelar oleh alumnus eks Sekolah Cina, Hamid Awaludin menyatakan bahwa sejak diberlakukaknya UU No 12 tahun 2006 tentang Kewarganegaraan (yang baru), maka semua warganegara Indonesia sama di hadapan hukum.[5] Memang etnis China adalah salah satu bagian dari bangsa ini yang kerap menerima perlakuan tidak adil. Sulitnya mereka untuk menerima hak-hak sipil layaknya WNI, khususnya terkait administrasi kependudukan seperti pengurusan KTP, KK, atau passport juga keberadaan Surat Bukti Kewarganegaraan RI (SKBRI) yang biayanya tidak murah. Wajar jika Tomy Su menyambut gembira dan menunggu realisasi UU kependudukan yang baru itu. [6]
Tomy Su -yang menggawangi Masyarakat Pelangi Indonesia- juga mengulas sejarah panjang diskriminasi etnis china di Indonesia. Tomy fear juga mengkritisi diskriminasi etnis china terhadap non china di perusahaan-perusahaan milik warga tionghoa. Bagaimana karyawan pribumi sulit untuk bisa mendapatkan kesempatan jenjang karier secara terbuka. Baginya, praktisk diskrimniasi ini jika terus dilakukan akan menjari lingkaran setan yang semakin menggores luka di tubuh sendiri. Karena itulah Tomy memberikan dukungan kepada DPR yang telah melahirkan berbagai produk hukum yang melindungi semua warganegara dari segala tindak diskriminasi.[7]
Pada bulan Desember ini Rancangan Undang Undang Administrasi Dan Kependudukan (RUU Adminduk) telah digedog di DPR menjadi UU yang siap dijalankan.[8] UU kependudukan yang baru ini sudah mengalami beberapa kemajuan. Misalnya terkait dengan akta kelahiran gratis dan penghapusan dikotomi ras. Karena itu berbagai kalangan menginginkan agar UU Adminduk ini sesegera mungkin diiukti dengan peraturan-peraturan lain yang mendukung seperti PP, Kepres dan Kepmen. Selain itu nampaknya perlu dilakukan pengawasan dan pengawalan terhadap implementasi dari UU tersebut secara serius. Karena sudah menjadi rahasia umum bahwa praktik di lapangan selalu berbeda dengan apa yang ada dalam konsepnya. Masih banyak pengaduan-pengaduan terkait dengan diskriminasi kependudukan terhadap ’etnis keturunan’. Hal ini sangat sulit dihilangkan karena birokrasi kependudukan kita memang sering menyalanhgunakan wewenangnya untuk mendapatkan keuntungan pribadi.
Namun UU Kependudukan ini masih menyisakan beberapa prinsip mendasar yang menurut Wahyu Efendi, perlu dikritisi, diantaranya :
1. RUU Adminduk dibuat dengan tidak melalui proses yang terbuka dan melibatkan partisipasi publik misalnya rapat dengar pendapat dan sosialisai kepada masyarakat, padahal masyarakat adalah subyek utama diberlakukannya UU tersebut
2. Pada awalnya RUU ini bertajuk RUU Catatan Sipil –seperti yang diajukan sebelumnya oleh Konsorsium Catatan Sipil- yang lebih menitik beratkan kepada hukum dan hak-hak sipil, bukan hukum administrasi
3. Pendekatan RUU ini lebih kepada ‘pengaturan’ daripada pelayanan. Misalnya adanya kewajiban penduduk untuk melaporkan peristiwa kependudukan disertai dengan sanksi pidana 3 bulan penjara atau subsider denda 5 juta bagi yang lalai(Bab II, IX, dan XII). Hal ini jelas mengabaikan kelomok urban miskin yang sering berpindah-pindah untuk mempertahankan hidup. Apa yang terjadi jika OPY (Operasi Yustisi Kependudukan) diberlakukan kepada mereka?
4. Adanya diskriminasi terhadap penganut kepervcayaan dan agama lokal[9]
Yang paling disorot publik adalah bahwa UU Adminduk itu masih belum membebaskan diri dari diskriminasi. Dalam rancangan UU tersebut, dijelaskan kolom agama dalam KTP dan KK untuk penganut kepercayaan tetap harus dikosongkan. Hal ini jelas meminggirkan komunitas keyakinan dan aliran kepercayaan yang jumlahnya cukup besar di negeri ini. Padahal jauh hari klausul itu sudah dikritisi berbagai pihak. Komunitas penganut kepercayaan sebelumnya mengharapkan agar pansus di DPR bisa mewadahi identitas keyakinan mereka dalam RUU adminduk. Nyatanya nomenklatur kepercayaan tidak diakomodir oleh Dewan dalam RUU tersebut.
Menurut Sayuti Asyatri -Ketua Komisi II DRR RI- hal ini dilakukan untuk menghindari munculnya kembali aliran-aliran yang sebelumnya dilarang di Indonesia. Dan DPR akan mempertimbangkan hal itu untuk diakomodasi dalam pencatatan sipil meski teknisnya masih belum jelas.[10] Entah apa yang ada dalam benak yudikatif kita. Mungkin ada semacam ketakutan dari pemerintah –termasuk elit agamawan- untuk mengetahui realitas bahwa jumlah komuntas kepercayaan di Indonesia sangat besar, yang tentunya merongrong eksistensi agama formal yang tentunya dengan dibukanya nomenklatur itu jumlah umatnya akan berkurang dalam hitungan kalkulatif.
Polemik ini sempat mencuat di internal dewan sebenarnya. FPDI menolak untuk ikut mengambil keputusan gara-gara tidak diakomodirnya komunitas kepercayaan yang menjadi bagian dari konstitennya. FPDS dan FPP juga sempat mempertanyakan klausul kepercayaan sebelum kedua fraksi ini ikut juga menyetujui. Menurut Tjahyo Kumolo, Ketua FPDIP, UU tersebut belum layak untuk disyahkan, karena jika memang Undang Undang ini diperuntukkan bagi seluruh warganegara Indonesia seharusnya juga memberi ruang bagi komunitas kepercayaan utamanya dalam menunjukkan identitas keyakinannya.[11]
Dalam sejarah, diskriminasi yang kerap dilakukan bangsa ini adalah diskriminasi keyakinan. Bagaimana keberadaan Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat (PAKEM) dibentuk secara khusus bagi kelompok-kelompok yang dianggap minor dari mainstrem. Dalam catatan Hendra Tri Ardianto rupanya PAKEM ini berubah fungsi menjadi lembaga yang menghakimi kebenaran atas aliran-aliran yang dianggap sesat atau memberontak.[12] Hendra kemudian mengulas banyak tentang potret perlakuan semena-mena yang dilakukan negara dalam meminggirkan kelompok aliran kepercayaan dan tarekat yang dianggap tidak resmi. Karenanya agar diskriminsi ini tidak terus berjalan, negara harus membenahi perundang-undangan sehingga bisa melindungi kelompok kepercayaan. Padahal di saat yang sama DPR tengah menggodog RUU Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis (PDRE) atau RUU Anti Diskriminasi. Jika upaya penghapusan diskriminasi –termasuk terhadap kelompok keyakinan- menjadi visi dari RUU PDRE ini maka hendaknya harus dibarengi dengan revisis atas UU Adminduk atau setidaknya ada payung hukum lain yang bisa memberi kesamaan hukum bagi mereka yang memilih menganut aliran kepercayaan sebagai identitas religiusnya.
Untuk itulah patut didukung apa yang diwacanakan oleh Mufis A. Busyairi -anggota pansus UU anti diskriminasi- bahwa perlu dilakukan perubahan berkaitan dengan materi juga nama judul RUU PDRE. Menurutnya, perubahan ini dilakukan untuk penyempurnaan dan pendalaman atas RUU tersebut agar bisa menjadi payung hukum perhadap praktik diskriminasi di Indonesia. Dia mengusulkan judul RUU ini cukup dengan nama RUU Penghapusan Diskriminasi saja sehingga bisa menjadi dasar hukum juga untuk diskriminasi di wilayah paham politik, agama dan jender.[13]
RUU KUHP yang diharapkan bisa merevisi UU KUHP lama terhadap berbagai praktik diskriminasi juga harus secara serius dikritisi. Banyak pihak yang mulai mengajukan klausul untuk mengahapus beberapa pasal yang melegalkan bebagai praktik diskriminasi. Keberadaan MK yang telah berhasil mencabut pasal penghinaan terhadap presiden karena dianggap meng-istemewakan- hak sipil presiden daripada warga negara lain adalah sesuatu yang penting dalam menghapus diskriminasi.[14] Namun yang lebih penting lagi adalah bagaimana revisi atas RUU KUHP lebih bayak dibidik pada sisi diskriminsi terhadap agama/kepercayaan, perempuan dan hak-hak sipil warganegara.
Refleksi Hari HAM Internasional
Bulan Desember merupakan bulan refleksi HAM sedunia. Lima puluh delapan tahun yang lalu, tepatnya 10 Desember 1948, Declaration Of human Right (Deklarasi HAM) dikumandangkan oleh PBB. Seperti yang direkam oleh Budiman Tanuredjjo, deklarasi itu disepakati sebagai standar pencapaian HAM yang kemudian diturunkan dalam Konvenen Hak Sipil dan Politik serta Konvenen Hak ekonomi, Sosial, dan Budaya.[15] Dan Indonesia ikut meratifikasi konvenen Internasional Hak eksobud 1966 ini pada tahun 2005.[16] Refleksi ini perlu dilakukan untuk melihat bagaimana progress dunia internasional –termasuk Indonesia- dalam mengemban visi Deklarasi HAM 1948 hari ini di tengah berbagai bahaya terorisme, konflik, perang, dan belenggu kemiskinan stuktural.
Bagaimana dengan Indonesia? Memang dalam mengupayakan pembenahan kebijakan yang lebih demokratis, bangsa ini sudah menampakkan progress yang signifikan. Namun dalam aspek hak ekonomi, social dan budaya masih jauh. Bagaimana fakta kemiskinan, Pengangguran, penggusuran, dan marginalisasi komunitas local masih sering kita jumpai. Salah seorang anggota Komnas HAM, Amidhan, menyatakan bahwa pelanggaran HAM bidang ekonomi social budaya (eksobud) lebih banyak terjadi. Pelanggaran itu berujung pada pelanggaran hak sipil dan politik dan kebanyakan dilakukan oleh pemerintah. Amidhan mencontohkan kasus di Bulumba pada tahun 2003 yang berujung pada tewasnya 6 orang yang menuntut pengembalian tanah adat.[17] Karenanya perlu dilakukan penyadaran akan hak eksobud baik bagi warga maupun pemerintah.
Kesadaran ini sangat perlu dimiliki khususnya oleh aparat dan birokrat yang bergulat di wilayah hukum dan pemerintahan. Cukup mengagetkan menilik hasil penelitian LBH Surabaya tentang Pelanggaran HAM Berat. Dari penelitian -yang mengambil responden aparat hukum dan birokrat- itu hanya tercatat 30 persen responden yang mengetahui secara rinci tentang makna HAM. Bahkan hanya 10 persen saja yang memiliki kefahaman tentang undang-undang atau konvensi internasional tentang HAM. Menurut M. Syaiful Aris, Direktur LBH Surabaya, fakta inilah yang menyebabkan berbagai pelaporan pelanggaran HAM yang dia tangani tidak pernah mendapat respon dan tindak lanjut sesuai harapan. [18]
Dalam sebuah acara yang digelar untuk memperingati HAM Internasional di Lapangan Borobudur Jakarta (11/12), beberapa korban kekerasan fisik, ideology dan kepercayaan menyuarakan keluh kesahnya. Mereka merasa hak dasarnya seperti hak mencari pekerjaan, pendidikan yang layak, keadilan dan mengimani kepercayaan diabaikan. Sugiarti, adalah salah satu seorang yang sempat menyampaikan testimony. Wanita yang berprofesi sebagi Joki three ini one ini mengaku mendapat penganiayaan dari aparat akibat profesinya itu. Forum yang juga dihadiri oleh Suciwati (istri Munir) dan Ny Shinta Nuriyah (Istri Gus Dur) itu menghimbau agar pemerintah bisa berbuat adil dan melindungi hak-hak warganya. [19]
”Pemerintah bisa digugat kalau dinilai tidak peduli”. Ini simpulan dalam sebuah dialog yang membincang tentang Hak eksobud, Asfinawati, direktur LBH Jakarta mengungkapkan bahwa rakyat biaa menggugat negara melakukan pelanggran atas hak-hak tersebut. Penggugatan bisa dilakukan melalui class action atau legal standing.[20] Dasar hukum untuk melakukan gugatan ini cukup kuat, selain telah diatur dalam UUD 1945 juga dilindungi oleh Konvenen Internasional.
Karena itulah, peringatan Hari HAM selain sebagai media reflektif juga harus dibarengi dengan aaksi-aksi yang produktif utamanya dalam menuangkan gagasan-gagasan kritis bagaimana hak-hak warganegara semakin bisa terjaga sebagai anugerah dari Tuhan. Sikap terbuka terhadap kebenaran serta memerangi ketidak adilan dan diskriminasi memang tidah mudah dilakukan. Banyak pihak yang tidak siap untuk membuka diri dan berkata ”Tidak” untuk diskriminasi dan penindasan terhadap entitas yang lain. Terakhir kita bisa melihat bagaimana, sebuah peringatan Hari HAM dan Antitraficking se Dunia di balai Pemuda Surabaya -yang digelar oleh beberapa lembaga pemerhati HAM- harus dibubarkan dengan paksa oleh kelompok yang menamakan dirinya Syarikat Penanggulan Komunis Gaya Baru (SP KGB).[21] Pembubaran ini dilakukan karena dalam acara tersebut akan diputar film shadow play, film dokumenter yang mengisahkan kesaksian korban G.30.S.
Jika semangat untuk berdialog dan hidup bersama-sama dalam keadilan dan antidiskriminasi tidak dimiliki, agaknya sulit bangsa ini untuk melakukan berbagai upaya rekonsiliasi atas terjadinya berbagai pelanggaran HAM di masa lalu. Lebih parah lagi ketika UU KKR yang bisa menjadi salah satu ikhtiar untuk menggapai itu akhirnya batal demi hukum tanpa ada ’pengganti’ atas keberadaan KKR secara fungsional.
UU KKR Dan Nasib Rekonsiliasi Pelanggaran HAM di masa lalu
Munculnya gagasan Komisi Kebenaran diilhami dari gerakan di Afrika Selatan yang melahirkan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi. Pada saat yang bersamaan, tim khusus yang digawangi oleh Prof. Dr. Romli Atmasasmita, S.H., LL.M sedang menyusun UU No 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM. Ditengah pembahasan UU No 26 tersebut muncul aspirasi dari masyarakat tentang bagaimana penyelesaian kasus pelanggaran HAM masa lalu diselesaikan. Dalam aturan ketatanegaraan, UU tidak berlaku surut. UU sifatnya permanen, yakni ke depan. Setelah dilakukan pembahasan panjang, tim menyimpulkan bahwa diperlukan sebuah pengadilan ad hoc yang dapat menangani berbagai kasus pelanggaran HAM masa lalu karenanya dibutuhkan persetujuan DPR, sebelum dibentuk oleh pemerintah.
Meski bisa saja pengadilan ad hoc berlaku surut, tetapi penanganan kasus pelanggaran HAM masa lalu tidaklah mudah. Berbagai problem muncul seperti sulitnya mengumpulkan bukti, saksi yang bertebaran, belum lagi soal biaya. Oleh karena itu diperlukan sarana lain dalam membantu penyelesaian kasus kejahatan berat HAM masa lalu di luar peradilan sehingga bisa menawarkan solusi. Bila jalan mencapai solusi hukum buntu, maka agar menimbulkan dampak buruk di tengah masyarakat dibutuhkan sebuah solusi diluar, yakni rekonsiliasi yang mempertemukan korban dan pelaku pelanggaran HAM.
Dengan diundangkannya UU No 27/2000 sebagai paying hokum atas nantinya maka terdapat dua perangkat hukum yang berjalan bersama-sama dalam menangani kasus pelanggaran berat HAM. Harapannya dengan dua perangkat ini pelanggaran masa lalu –seperti peristiwa 1965 dan operasi militer di Aceh- bisa dilakukan dengan in court system (melalui Pengadilan HAM) dan dan bisa didukung dengan out court system (melalui KKR) bila terjadi kemandekan. Harapannya, penanganan kasus-kasus HAM di masa mendatang cukup diselesaikan melalui in court system, melalui pengadilan HAM.
Lemahnya aspek yurisis yang bisa memback up pasal-pasal di UU KKR menjadikan operasional dari UU ini mandeg. Banyak Judisial review yang diajukan untuk menguji UU yang ditelorkan sejak zaman Megawati ini. Buntutnya pada 7 Desember 2006 UU KKR dicabut oleh Mahkamah Konstitusi (MK) karena memilki kelemahan yuridis. Salah satunya adalah pasala yang berkait dengan pengajuan amnesty kepada presiden seperti yang diatur dalam pasal 27 UU KKR yang hal ini dianggap bertentangan dengan UUD 1945. Padahal pasal 27 itu sangat berkaitan dengan pasal-pasal lainnya. Menurut Ketua MK, Jimly As Sidiqie dengan dicabutya UU ini bukan berarti menutup upaya penyelesaian pelangaran HAM. Pemerintah bisa menyusun UU baru atau menempuh upaya penyelesaian kasus HAM melalui jalur politik. [22]
Dengan dicabutnya UU ini, maka proses yang berkaitan dengan KKR berakhir, termasuk seleksi 42 anggota KKR. Menurut Yusril Ihza Mahendara upaya untuk mendapatkan keadilan atas pelanggaran HAM bisa ditempuh melalui jalur melalui Pengadilan HAM dan pengadilan HAM Ad hoc. Sedangkan rekonsiliasi menurut Yusril lebih baik dilakukan secara alami tanpa formalitas dengan membentuk komisi. Fadjroel Rahman –salah satu calon anggota KKR yang urung dibentuk- sangat kecewa dengan dicabuitnya UU ini. Ketua Lembaga Pengkajian Demokrasi dan Negara kesejahteraan itu menilai statemen Yusril diatas adalah cerminan watak pemerintah yang masa bodoh terhadap ungensitas fungsi KKR dalam menyelesaikan problem HAM di masa lalu.[23]
Fadjroel melakukan pengkritisan atas kebijakan tersebut. Dalam artikelnya yang berjudul Selamat Datang Impunitas, ia mengungkapkan keprihatinannya terhadap UU KKR yang belum sempat difungsikan tetapi telah dibekukan karena dianggap bertentangn dengan Undang-Undang. Fadjroel kemudian mengajak kepada korban dan lembaga HAM serta pemerintah untuk UU baru yang dapat memenuhi tujuan dari KKR yaitu hak atas kebenaran, keadilan dan rehabilitasi yang tidak akan tercover hanya dengan Pengadilan HAM. [24]
Senada dengan Fadjroel, Fajri Mei A Gofar, Peneliti pada Perhimpunan Pendidikan Demokrasi (P2D), menilai putusan MK tersebut telah mengubur agenda reformasi untuk mewujudkan keadilan transisional. Keadilan Transisional adalah keberanian politik untuk sekali dan selamanya memutuskan mata rantai impunitas atas dasar keadilan bagi korban HAM dan hukuman bagi pelaku. Fajri menambahkan bahwa keberadaan KKR sangat penting untuk melengkapi Pengadilan HAM karena tidak semua persoalan HAM diselesaikan dalam pengadilan HAM. Dan kedua perangkat hukum ini adalah mekanisme yang diharapkan untuk menyelesaikan persoalan keadilan transisional. Tidak berlakuanya UU KKR bisa berdampak tidak dipulihkannya hak-hak korban dan semakin menjauhnya visi rekonsiliasi. [25]
Dalam menyikapi perbedaan dalam keragaman itu manusia memiliki kemampuan dan tanggung jawab. Kemampuan untuk mengenali ‘yang lain’ di luar dirinya dan tanggung jawabnya untuk mengelola keragaman sebagai kekayaan dengan penuh tanggung. Meminjam perspektif Windo Wibisono, setidaknya keberagaman memilki dua sisi yang berbeda. Di satu sisi keberagaman adalah kekayaan social budaya (social capital and culture capital) namun disis lain keberagaman mengandung sebuah sekat pembeda, yang memisahkan dan mengklasifikasikan satu dengan yang lain. [1]
Jika keragaman adalah sebuah kekayaan, mungkin bangsa Indonesia adalah salah satu bangsa yang terkaya di dunia. Bagaimana tidak, bangsa ini dihuni dan diwarnai oleh berbagai suku, etnis, budaya, ritual, agama dan kepercayaan. Sungguhpun begitu, jika kekayaan ini tidak bisa disikapi secara arif dan tidak disertai dengan norma yang bisa meneguhkan ’kekayaan’ ini dalam bingkai penghormatan dan toleransi maka sangat memungkinkan menimbul gesekan, perselisihan bahkan konfik.
Secara faktual, bangsa ini tidak lahir dalam rentang masa yang singkat. Kesejarahan yang panjang telah mengkreasi bangsa ini dengan berbagai kearifan lokal dan kearifan budaya. Menyikapi perbedaan bukan ’makanan baru’ di negeri ini. Namun nampaknya selalu perlu untuk dilakukan perenungan mengapa berbagai konflik yang beririsan dengan isu sara masih kerap terjadi. Meski tidak bisa langsung menjadi simpulan bahwa berbagai konflik tersebut disebabkan karena perbedaan SARA an sich, namun mengapa SARA masih bisa ditunggagi atau setidaknya mewarnai berbagai konflik itu.
Dalam sebuah acara refleksi di Depok, Sosiolog UI Thamrin Tamagolo menyampaikan bahwa konflik dalam realitas sosial adalah sesuatu yang wajar. Namun bagaimana konflik itu kemudian harus bisa dikelola dan ditransformasikan menuju terwujudnya perdamaian.[2] Artinya dalam menjalani proses hidup bersama, konflik adalah suatu hal yang mesti terjadi namun bukan berarti perbedaan SARA menjadi alasan untuk berkonflik, malah sebaliknya berbagai norma agama, suku dan budaya sangat bisa menjadi kekuatan untuk menjadi alat transformasi sosial secara damai. Karena pastinya setiap agama dan budaya memilki norma yang mengedepankan perdamaian, humanitas, dan prinsip keadilan.
Berbeda bukan untuk Dibedakan
Gagasan multikulturalisme sangat signifikan untuk menjadi perspektif bangsa ini dalam merefleksikan kembali bagaimana kehidupan bangsa ini harus berlanjut dengan pluralitas. Syafiq Syaeroji dalam artikelnya Meneguhkan Dunia Publik Multietnis menjabarkan bagaimana multikulturalisme secara paradigmatik memberikan pengakuan harkat dan martabat manusia dalam budayanya masing-masing.[3] Menurutnya, diperlukan sebuah konsensus sosial politik sebagai sarana pendukung dalam membangun interaksi antar masing-masing entitas bangsa. Dan dalam sejarah kemerdekaan, Pancasila menjadi salah satu konsensus itu yang mampu menjadi simbol, konsensus, dan norma bangsa yang bisa memberi ruang hidup bagi semua agama, etnis dan budaya yang bernaung di bawah bumi Indonesia.
Sangat disayangkan, rezim orde baru telah meruntuhkan proses internalisasi konsensus itu dalam regulasi –bahkan represi- negara. Watak pemerintahan Suharto yang haus akan ketertiban, keteraturan dan ’ketunggalan’ telah memaksakan pluralitas diarak dalam penyeragaman ’semu’ dan diikat dalam derap komando otoritariannya.
Akibatnya, selain menimbulkan marginalisasi dan diskriminasi, rezim orde baru telah mematikan proses sosial sekian puluh tahun bahkan telah mengakibatkan proses bangsa untuk berdialog dengan perbedaan harus dimulai dari nol. Hal ini nampak jelas bagaimana pasca tumbangnya Suharto hingga saat ini, isu-isu SARA begitu mudahnya menjadi pemantik konflik sosial. Mulai isu etnis China di kerusuhan Mei 1998, isu ’Madura-Dayak’ di konflik Sambas sampai yang terakhir isu agama yang kental mewarnai konflik panjang di Poso.
Sebenarnya dalam mengurai problem ini tidak hanya diperlukan pandangan multikultural atau paradigma inklusifitas saja yang perlu dimiliki bangsa ini. Memang sangat sepakat dengan apa yang dituturkan oleh Rizem Aizid, bahwa konflik-konflik itu bisa diminimalisir ketika cara pandang inklusivisme bisa diekspresikan dalam kesadaran, sikap, dan perilaku sosial. [4] Namun lebih dari itu praktik diskriminasi yang dirawat dalam yurispedensi ketatanegaraan kita juga harus dirombak total. Selain itu upaya-upaya serius dalam mewujudkan hak-hal sipil warganegara termasuk hak ekonomi harus sesegera mungkin ditegakkan.
Tak ada yang mengingkari bahwa produk perundang-undangan yang kita miliki adalah warisan dari Belanda –yang lebih dari 350 tahun bercokol di negeri ini-. Watak penjajah manapun –termasuk penguasa otoriter yang berwatah penjajah- jelas selalu menindas, mengadudomba, memarginalisasi dan men-diskriminasi. Karena itu dalam membaca berbagai produk perundangan di negeri ini harus selalu dikritis dan dikaji ulang -kalau perlu dirubah total- dalam konteks itu. Ketidak adilan dan diskriminasi yang terus diopersikan oleh penguasa harus segera dihentikan jika bangsa ini tidak ingin menumpuk-numpuk dosa dan kesalahan yang akan merugikan bangsa sendiri. Diskriminasi karena sebuah fakta pluralitas sejak awal adalah salah, karena perbedaan bukan untuk dibedakan akan tetapi untuk ditransformasikan dan dirayakan dalam kerangka perdamaian dan keadilan.
Kesadaran akan hal itu rupanya mulai diartikulasikan oleh para elit yang memiliki kewenangan yudikatif. Hal ini juga didorong oleh semakin nyaringnya suara-suara korban diskriminasi/kaum marginal dan kelompok-kelompok kritis. Pencabutan Surat Bukti Kewarganegaraan Indonesia (SKBRI), Revisi UU Kependudukan, Revisi UU KUHP, dan penyusunan RUU Anti Diskriminasi adalah upaya awal yang harus terus diikhtiarkan lebih jauh dalam upaya menegakkan keadilan di kehidupan berbangsa dan bernegara.
Semangat anti diskriminasi dalam merumuskan perundang-undangan
Dalam sebuah acara yang digelar oleh alumnus eks Sekolah Cina, Hamid Awaludin menyatakan bahwa sejak diberlakukaknya UU No 12 tahun 2006 tentang Kewarganegaraan (yang baru), maka semua warganegara Indonesia sama di hadapan hukum.[5] Memang etnis China adalah salah satu bagian dari bangsa ini yang kerap menerima perlakuan tidak adil. Sulitnya mereka untuk menerima hak-hak sipil layaknya WNI, khususnya terkait administrasi kependudukan seperti pengurusan KTP, KK, atau passport juga keberadaan Surat Bukti Kewarganegaraan RI (SKBRI) yang biayanya tidak murah. Wajar jika Tomy Su menyambut gembira dan menunggu realisasi UU kependudukan yang baru itu. [6]
Tomy Su -yang menggawangi Masyarakat Pelangi Indonesia- juga mengulas sejarah panjang diskriminasi etnis china di Indonesia. Tomy fear juga mengkritisi diskriminasi etnis china terhadap non china di perusahaan-perusahaan milik warga tionghoa. Bagaimana karyawan pribumi sulit untuk bisa mendapatkan kesempatan jenjang karier secara terbuka. Baginya, praktisk diskrimniasi ini jika terus dilakukan akan menjari lingkaran setan yang semakin menggores luka di tubuh sendiri. Karena itulah Tomy memberikan dukungan kepada DPR yang telah melahirkan berbagai produk hukum yang melindungi semua warganegara dari segala tindak diskriminasi.[7]
Pada bulan Desember ini Rancangan Undang Undang Administrasi Dan Kependudukan (RUU Adminduk) telah digedog di DPR menjadi UU yang siap dijalankan.[8] UU kependudukan yang baru ini sudah mengalami beberapa kemajuan. Misalnya terkait dengan akta kelahiran gratis dan penghapusan dikotomi ras. Karena itu berbagai kalangan menginginkan agar UU Adminduk ini sesegera mungkin diiukti dengan peraturan-peraturan lain yang mendukung seperti PP, Kepres dan Kepmen. Selain itu nampaknya perlu dilakukan pengawasan dan pengawalan terhadap implementasi dari UU tersebut secara serius. Karena sudah menjadi rahasia umum bahwa praktik di lapangan selalu berbeda dengan apa yang ada dalam konsepnya. Masih banyak pengaduan-pengaduan terkait dengan diskriminasi kependudukan terhadap ’etnis keturunan’. Hal ini sangat sulit dihilangkan karena birokrasi kependudukan kita memang sering menyalanhgunakan wewenangnya untuk mendapatkan keuntungan pribadi.
Namun UU Kependudukan ini masih menyisakan beberapa prinsip mendasar yang menurut Wahyu Efendi, perlu dikritisi, diantaranya :
1. RUU Adminduk dibuat dengan tidak melalui proses yang terbuka dan melibatkan partisipasi publik misalnya rapat dengar pendapat dan sosialisai kepada masyarakat, padahal masyarakat adalah subyek utama diberlakukannya UU tersebut
2. Pada awalnya RUU ini bertajuk RUU Catatan Sipil –seperti yang diajukan sebelumnya oleh Konsorsium Catatan Sipil- yang lebih menitik beratkan kepada hukum dan hak-hak sipil, bukan hukum administrasi
3. Pendekatan RUU ini lebih kepada ‘pengaturan’ daripada pelayanan. Misalnya adanya kewajiban penduduk untuk melaporkan peristiwa kependudukan disertai dengan sanksi pidana 3 bulan penjara atau subsider denda 5 juta bagi yang lalai(Bab II, IX, dan XII). Hal ini jelas mengabaikan kelomok urban miskin yang sering berpindah-pindah untuk mempertahankan hidup. Apa yang terjadi jika OPY (Operasi Yustisi Kependudukan) diberlakukan kepada mereka?
4. Adanya diskriminasi terhadap penganut kepervcayaan dan agama lokal[9]
Yang paling disorot publik adalah bahwa UU Adminduk itu masih belum membebaskan diri dari diskriminasi. Dalam rancangan UU tersebut, dijelaskan kolom agama dalam KTP dan KK untuk penganut kepercayaan tetap harus dikosongkan. Hal ini jelas meminggirkan komunitas keyakinan dan aliran kepercayaan yang jumlahnya cukup besar di negeri ini. Padahal jauh hari klausul itu sudah dikritisi berbagai pihak. Komunitas penganut kepercayaan sebelumnya mengharapkan agar pansus di DPR bisa mewadahi identitas keyakinan mereka dalam RUU adminduk. Nyatanya nomenklatur kepercayaan tidak diakomodir oleh Dewan dalam RUU tersebut.
Menurut Sayuti Asyatri -Ketua Komisi II DRR RI- hal ini dilakukan untuk menghindari munculnya kembali aliran-aliran yang sebelumnya dilarang di Indonesia. Dan DPR akan mempertimbangkan hal itu untuk diakomodasi dalam pencatatan sipil meski teknisnya masih belum jelas.[10] Entah apa yang ada dalam benak yudikatif kita. Mungkin ada semacam ketakutan dari pemerintah –termasuk elit agamawan- untuk mengetahui realitas bahwa jumlah komuntas kepercayaan di Indonesia sangat besar, yang tentunya merongrong eksistensi agama formal yang tentunya dengan dibukanya nomenklatur itu jumlah umatnya akan berkurang dalam hitungan kalkulatif.
Polemik ini sempat mencuat di internal dewan sebenarnya. FPDI menolak untuk ikut mengambil keputusan gara-gara tidak diakomodirnya komunitas kepercayaan yang menjadi bagian dari konstitennya. FPDS dan FPP juga sempat mempertanyakan klausul kepercayaan sebelum kedua fraksi ini ikut juga menyetujui. Menurut Tjahyo Kumolo, Ketua FPDIP, UU tersebut belum layak untuk disyahkan, karena jika memang Undang Undang ini diperuntukkan bagi seluruh warganegara Indonesia seharusnya juga memberi ruang bagi komunitas kepercayaan utamanya dalam menunjukkan identitas keyakinannya.[11]
Dalam sejarah, diskriminasi yang kerap dilakukan bangsa ini adalah diskriminasi keyakinan. Bagaimana keberadaan Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat (PAKEM) dibentuk secara khusus bagi kelompok-kelompok yang dianggap minor dari mainstrem. Dalam catatan Hendra Tri Ardianto rupanya PAKEM ini berubah fungsi menjadi lembaga yang menghakimi kebenaran atas aliran-aliran yang dianggap sesat atau memberontak.[12] Hendra kemudian mengulas banyak tentang potret perlakuan semena-mena yang dilakukan negara dalam meminggirkan kelompok aliran kepercayaan dan tarekat yang dianggap tidak resmi. Karenanya agar diskriminsi ini tidak terus berjalan, negara harus membenahi perundang-undangan sehingga bisa melindungi kelompok kepercayaan. Padahal di saat yang sama DPR tengah menggodog RUU Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis (PDRE) atau RUU Anti Diskriminasi. Jika upaya penghapusan diskriminasi –termasuk terhadap kelompok keyakinan- menjadi visi dari RUU PDRE ini maka hendaknya harus dibarengi dengan revisis atas UU Adminduk atau setidaknya ada payung hukum lain yang bisa memberi kesamaan hukum bagi mereka yang memilih menganut aliran kepercayaan sebagai identitas religiusnya.
Untuk itulah patut didukung apa yang diwacanakan oleh Mufis A. Busyairi -anggota pansus UU anti diskriminasi- bahwa perlu dilakukan perubahan berkaitan dengan materi juga nama judul RUU PDRE. Menurutnya, perubahan ini dilakukan untuk penyempurnaan dan pendalaman atas RUU tersebut agar bisa menjadi payung hukum perhadap praktik diskriminasi di Indonesia. Dia mengusulkan judul RUU ini cukup dengan nama RUU Penghapusan Diskriminasi saja sehingga bisa menjadi dasar hukum juga untuk diskriminasi di wilayah paham politik, agama dan jender.[13]
RUU KUHP yang diharapkan bisa merevisi UU KUHP lama terhadap berbagai praktik diskriminasi juga harus secara serius dikritisi. Banyak pihak yang mulai mengajukan klausul untuk mengahapus beberapa pasal yang melegalkan bebagai praktik diskriminasi. Keberadaan MK yang telah berhasil mencabut pasal penghinaan terhadap presiden karena dianggap meng-istemewakan- hak sipil presiden daripada warga negara lain adalah sesuatu yang penting dalam menghapus diskriminasi.[14] Namun yang lebih penting lagi adalah bagaimana revisi atas RUU KUHP lebih bayak dibidik pada sisi diskriminsi terhadap agama/kepercayaan, perempuan dan hak-hak sipil warganegara.
Refleksi Hari HAM Internasional
Bulan Desember merupakan bulan refleksi HAM sedunia. Lima puluh delapan tahun yang lalu, tepatnya 10 Desember 1948, Declaration Of human Right (Deklarasi HAM) dikumandangkan oleh PBB. Seperti yang direkam oleh Budiman Tanuredjjo, deklarasi itu disepakati sebagai standar pencapaian HAM yang kemudian diturunkan dalam Konvenen Hak Sipil dan Politik serta Konvenen Hak ekonomi, Sosial, dan Budaya.[15] Dan Indonesia ikut meratifikasi konvenen Internasional Hak eksobud 1966 ini pada tahun 2005.[16] Refleksi ini perlu dilakukan untuk melihat bagaimana progress dunia internasional –termasuk Indonesia- dalam mengemban visi Deklarasi HAM 1948 hari ini di tengah berbagai bahaya terorisme, konflik, perang, dan belenggu kemiskinan stuktural.
Bagaimana dengan Indonesia? Memang dalam mengupayakan pembenahan kebijakan yang lebih demokratis, bangsa ini sudah menampakkan progress yang signifikan. Namun dalam aspek hak ekonomi, social dan budaya masih jauh. Bagaimana fakta kemiskinan, Pengangguran, penggusuran, dan marginalisasi komunitas local masih sering kita jumpai. Salah seorang anggota Komnas HAM, Amidhan, menyatakan bahwa pelanggaran HAM bidang ekonomi social budaya (eksobud) lebih banyak terjadi. Pelanggaran itu berujung pada pelanggaran hak sipil dan politik dan kebanyakan dilakukan oleh pemerintah. Amidhan mencontohkan kasus di Bulumba pada tahun 2003 yang berujung pada tewasnya 6 orang yang menuntut pengembalian tanah adat.[17] Karenanya perlu dilakukan penyadaran akan hak eksobud baik bagi warga maupun pemerintah.
Kesadaran ini sangat perlu dimiliki khususnya oleh aparat dan birokrat yang bergulat di wilayah hukum dan pemerintahan. Cukup mengagetkan menilik hasil penelitian LBH Surabaya tentang Pelanggaran HAM Berat. Dari penelitian -yang mengambil responden aparat hukum dan birokrat- itu hanya tercatat 30 persen responden yang mengetahui secara rinci tentang makna HAM. Bahkan hanya 10 persen saja yang memiliki kefahaman tentang undang-undang atau konvensi internasional tentang HAM. Menurut M. Syaiful Aris, Direktur LBH Surabaya, fakta inilah yang menyebabkan berbagai pelaporan pelanggaran HAM yang dia tangani tidak pernah mendapat respon dan tindak lanjut sesuai harapan. [18]
Dalam sebuah acara yang digelar untuk memperingati HAM Internasional di Lapangan Borobudur Jakarta (11/12), beberapa korban kekerasan fisik, ideology dan kepercayaan menyuarakan keluh kesahnya. Mereka merasa hak dasarnya seperti hak mencari pekerjaan, pendidikan yang layak, keadilan dan mengimani kepercayaan diabaikan. Sugiarti, adalah salah satu seorang yang sempat menyampaikan testimony. Wanita yang berprofesi sebagi Joki three ini one ini mengaku mendapat penganiayaan dari aparat akibat profesinya itu. Forum yang juga dihadiri oleh Suciwati (istri Munir) dan Ny Shinta Nuriyah (Istri Gus Dur) itu menghimbau agar pemerintah bisa berbuat adil dan melindungi hak-hak warganya. [19]
”Pemerintah bisa digugat kalau dinilai tidak peduli”. Ini simpulan dalam sebuah dialog yang membincang tentang Hak eksobud, Asfinawati, direktur LBH Jakarta mengungkapkan bahwa rakyat biaa menggugat negara melakukan pelanggran atas hak-hak tersebut. Penggugatan bisa dilakukan melalui class action atau legal standing.[20] Dasar hukum untuk melakukan gugatan ini cukup kuat, selain telah diatur dalam UUD 1945 juga dilindungi oleh Konvenen Internasional.
Karena itulah, peringatan Hari HAM selain sebagai media reflektif juga harus dibarengi dengan aaksi-aksi yang produktif utamanya dalam menuangkan gagasan-gagasan kritis bagaimana hak-hak warganegara semakin bisa terjaga sebagai anugerah dari Tuhan. Sikap terbuka terhadap kebenaran serta memerangi ketidak adilan dan diskriminasi memang tidah mudah dilakukan. Banyak pihak yang tidak siap untuk membuka diri dan berkata ”Tidak” untuk diskriminasi dan penindasan terhadap entitas yang lain. Terakhir kita bisa melihat bagaimana, sebuah peringatan Hari HAM dan Antitraficking se Dunia di balai Pemuda Surabaya -yang digelar oleh beberapa lembaga pemerhati HAM- harus dibubarkan dengan paksa oleh kelompok yang menamakan dirinya Syarikat Penanggulan Komunis Gaya Baru (SP KGB).[21] Pembubaran ini dilakukan karena dalam acara tersebut akan diputar film shadow play, film dokumenter yang mengisahkan kesaksian korban G.30.S.
Jika semangat untuk berdialog dan hidup bersama-sama dalam keadilan dan antidiskriminasi tidak dimiliki, agaknya sulit bangsa ini untuk melakukan berbagai upaya rekonsiliasi atas terjadinya berbagai pelanggaran HAM di masa lalu. Lebih parah lagi ketika UU KKR yang bisa menjadi salah satu ikhtiar untuk menggapai itu akhirnya batal demi hukum tanpa ada ’pengganti’ atas keberadaan KKR secara fungsional.
UU KKR Dan Nasib Rekonsiliasi Pelanggaran HAM di masa lalu
Munculnya gagasan Komisi Kebenaran diilhami dari gerakan di Afrika Selatan yang melahirkan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi. Pada saat yang bersamaan, tim khusus yang digawangi oleh Prof. Dr. Romli Atmasasmita, S.H., LL.M sedang menyusun UU No 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM. Ditengah pembahasan UU No 26 tersebut muncul aspirasi dari masyarakat tentang bagaimana penyelesaian kasus pelanggaran HAM masa lalu diselesaikan. Dalam aturan ketatanegaraan, UU tidak berlaku surut. UU sifatnya permanen, yakni ke depan. Setelah dilakukan pembahasan panjang, tim menyimpulkan bahwa diperlukan sebuah pengadilan ad hoc yang dapat menangani berbagai kasus pelanggaran HAM masa lalu karenanya dibutuhkan persetujuan DPR, sebelum dibentuk oleh pemerintah.
Meski bisa saja pengadilan ad hoc berlaku surut, tetapi penanganan kasus pelanggaran HAM masa lalu tidaklah mudah. Berbagai problem muncul seperti sulitnya mengumpulkan bukti, saksi yang bertebaran, belum lagi soal biaya. Oleh karena itu diperlukan sarana lain dalam membantu penyelesaian kasus kejahatan berat HAM masa lalu di luar peradilan sehingga bisa menawarkan solusi. Bila jalan mencapai solusi hukum buntu, maka agar menimbulkan dampak buruk di tengah masyarakat dibutuhkan sebuah solusi diluar, yakni rekonsiliasi yang mempertemukan korban dan pelaku pelanggaran HAM.
Dengan diundangkannya UU No 27/2000 sebagai paying hokum atas nantinya maka terdapat dua perangkat hukum yang berjalan bersama-sama dalam menangani kasus pelanggaran berat HAM. Harapannya dengan dua perangkat ini pelanggaran masa lalu –seperti peristiwa 1965 dan operasi militer di Aceh- bisa dilakukan dengan in court system (melalui Pengadilan HAM) dan dan bisa didukung dengan out court system (melalui KKR) bila terjadi kemandekan. Harapannya, penanganan kasus-kasus HAM di masa mendatang cukup diselesaikan melalui in court system, melalui pengadilan HAM.
Lemahnya aspek yurisis yang bisa memback up pasal-pasal di UU KKR menjadikan operasional dari UU ini mandeg. Banyak Judisial review yang diajukan untuk menguji UU yang ditelorkan sejak zaman Megawati ini. Buntutnya pada 7 Desember 2006 UU KKR dicabut oleh Mahkamah Konstitusi (MK) karena memilki kelemahan yuridis. Salah satunya adalah pasala yang berkait dengan pengajuan amnesty kepada presiden seperti yang diatur dalam pasal 27 UU KKR yang hal ini dianggap bertentangan dengan UUD 1945. Padahal pasal 27 itu sangat berkaitan dengan pasal-pasal lainnya. Menurut Ketua MK, Jimly As Sidiqie dengan dicabutya UU ini bukan berarti menutup upaya penyelesaian pelangaran HAM. Pemerintah bisa menyusun UU baru atau menempuh upaya penyelesaian kasus HAM melalui jalur politik. [22]
Dengan dicabutnya UU ini, maka proses yang berkaitan dengan KKR berakhir, termasuk seleksi 42 anggota KKR. Menurut Yusril Ihza Mahendara upaya untuk mendapatkan keadilan atas pelanggaran HAM bisa ditempuh melalui jalur melalui Pengadilan HAM dan pengadilan HAM Ad hoc. Sedangkan rekonsiliasi menurut Yusril lebih baik dilakukan secara alami tanpa formalitas dengan membentuk komisi. Fadjroel Rahman –salah satu calon anggota KKR yang urung dibentuk- sangat kecewa dengan dicabuitnya UU ini. Ketua Lembaga Pengkajian Demokrasi dan Negara kesejahteraan itu menilai statemen Yusril diatas adalah cerminan watak pemerintah yang masa bodoh terhadap ungensitas fungsi KKR dalam menyelesaikan problem HAM di masa lalu.[23]
Fadjroel melakukan pengkritisan atas kebijakan tersebut. Dalam artikelnya yang berjudul Selamat Datang Impunitas, ia mengungkapkan keprihatinannya terhadap UU KKR yang belum sempat difungsikan tetapi telah dibekukan karena dianggap bertentangn dengan Undang-Undang. Fadjroel kemudian mengajak kepada korban dan lembaga HAM serta pemerintah untuk UU baru yang dapat memenuhi tujuan dari KKR yaitu hak atas kebenaran, keadilan dan rehabilitasi yang tidak akan tercover hanya dengan Pengadilan HAM. [24]
Senada dengan Fadjroel, Fajri Mei A Gofar, Peneliti pada Perhimpunan Pendidikan Demokrasi (P2D), menilai putusan MK tersebut telah mengubur agenda reformasi untuk mewujudkan keadilan transisional. Keadilan Transisional adalah keberanian politik untuk sekali dan selamanya memutuskan mata rantai impunitas atas dasar keadilan bagi korban HAM dan hukuman bagi pelaku. Fajri menambahkan bahwa keberadaan KKR sangat penting untuk melengkapi Pengadilan HAM karena tidak semua persoalan HAM diselesaikan dalam pengadilan HAM. Dan kedua perangkat hukum ini adalah mekanisme yang diharapkan untuk menyelesaikan persoalan keadilan transisional. Tidak berlakuanya UU KKR bisa berdampak tidak dipulihkannya hak-hak korban dan semakin menjauhnya visi rekonsiliasi. [25]
gender
KESETARAAN gender sebenarnya tidak hanya menguntungkan wanita, tapi juga pria. Namun kuncinya, wanita harus mencapai kemandirian keuangan dan pendidikan terlebih dahulu.
Sebab, dibeberapa negara maju, wanita pun kini telah menjadi tulang punggung keluarga. Dan malahan telah banyak wanita yang menjadi pejabat disuatu negara dan mempunyai kedudukan dengan berbagai posisi penting. Sebenarnya wanita lebih suka bebas ia merasa merdeka daripada terkurung dengan kehidupan yang mencukupi, mereka merasa telah dirampas haknya untuk menikmati hidup yang layak menurut mereka. Sedangkan pemikiran feminisme radikal bukanlah jawaban atas perjuangan kesetaraan perempuan, melainkan kesetaraan posisi antara laki-laki dan perempuan dengan keunikannya masing masing.
"Gender tidak akan bisa tercapai jika tidak melibatkan pria. Sebab, peranan seorang pria dalam mewujudkan kesetaraan gender ini sangatlah besar, meskipun gender itu ujung-ujungnya akan tetap menguntungkan pria atau wanita.
Bayangkanlah jika sebagai seorang wirausahawan, perempuan memiliki asetaset yang bisa dipelihara, dia akan memiliki lebih banyak lagi alasan untuk belajar membaca. Menurut dia, banyak wanita sangat potensial dan mahir menjalankan bisnis mikro. Dia sangat merekomendasikan didorongnya program kredit mikro pada semua negara. Tidak hanya negara berkembang, negara maju pun bisa memberlakukan hal yang sama. Sebab, inilah salah satu jalan paling rasional bagi pemberdayaan perempuan sekaligus ekonomi masyarakat.
"Padahal, jika perempuan diberikan kesempatan berkarya, akan banyak sektor sumber mata pencaharian yang bakal tercipta," ungkap wanita yang memperoleh penghargaan Chutzpah Award dari Oprah Winfrey ini.
Kredit mikro tidak hanya bisa diakses wanita, juga pria. Jika sektor bisnis mikro berkembang, pemerintah tidak perlu lagi pusing memikirkan pembukaan lapangan kerja untuk atasi pengangguran. Sebab, lapangan pekerjaan itu akan terbuka dengan sendirinya. Selain itu, bisnis mikro akan membuat terbuka sektor-sektor lapangan kerja lainnya. Sebab, sifat sektor bisnis ini sangat fleksibel.
"Muhammad Yunus dengan Grameen Bank telah membuktikan bahwa bisnis mikro mampu memberi jawaban tantangan pemberdayaan ekonomi masyarakat," papar pengarang yang sangat kontroversial ini.
Irshad yang mendapatkan predikat sebagai feminis abad ke-21 dari majalah Ms membantah bahwa agama sangat bertentangan dengan prinsip-prinsip kesetaraan gender. Dia mencontohkan istri Nabi Muhammad SAW yang menopang perekonomian keluarga sebagai wanita saudagar kaya di Arab pada zamannya. Dengan demikian, pemikiran bahwa wanita muslim tidak boleh berkiprah di luar rumah sangatlah bertentangan dengan ajaran Muhammad. Irshad juga memastikan bahwa ajaranajaran agama lain pun mengajarkan kesetaraan gender.
"Kedua pihak antara pria dan wanita memiliki peran yang unik sehingga tidak bisa dikatakan yang satu mendominasi yang lain. Keduanya harus setara dan bekerja sama," tandas peraih Honor Roll 2004 dari Maclean's sebagai orang Kanada yang sangat berpengaruh.
Menurut dia, ada alasan kuat mengapa wanita muslim harus terlibat dalam kegiatan bisnis mikro. Secara kritis, kapitalisme yang sadar akan Tuhan serta ditopang oleh peran perempuan mungkin bisa menjadi jalan untuk memulai reformasi terhadap kaum hawa itu.
Sebab, di negara-negara mana pun di dunia, termasuk Indonesia, program kredit mikro masih sekadar slogan ketimbang terwujud dalam kenyataan. Alasannya sangat klise. Tidak ada jaminan usaha dan sangat berisiko terjadi kredit macet. Sebab, menurut kubu yang tidak menyukai program kredit mikro ini, pengusaha kecil biasanya tidak disiplin dalam pengembalian kredit.
Padahal, banyak contoh membuktikan bahwa program kredit kecil justru minim kredit macet. Sejak 1980-an, Muhammad Yunus mulai mendirikan Bank Grameen di Bangladesh. Grameen adalah bahasa Bengali untuk "desa" dan bank ini meminjamkan uang dalam jumlah kecil kepada orang yang dianggap tak tersentuh oleh para pemberi pinjaman standar, terutama mereka yang tidak memiliki tanah, yang kebanyakan perempuan.
Saat ini, jika mengandalkan sektor pekerjaan formal, masih merugikan posisi perempuan. Pekerja perempuan selalu mendapatkan gaji lebih rendah dibandingkan laki-laki. Contoh di Kanada, perempuan mendapatkan gaji 25 persen lebih rendah dibandingkan pekerja pria untuk jenis pekerjaan yang sama. Padahal, kualitas hasil pekerjaan yang dikerjakan lakilaki belum tentu selalu lebih baik.
Dukungan Men's Kunci untuk Menciptakan Gender Keanekaragaman di Tempat Kerja,
Menurut Laporan Catalyst (Amerika Serikat)
Rasa keadilan yang kuat terkait dengan kesadaran yang lebih besar dan advokasi
kesetaraan jender
NEW YORK (13 Mei 2009) - Mengapa beberapa orang dukungan keanekaragaman gender dalam
kepemimpinan sementara yang lainnya tidak? Catalyst memeriksa pertanyaan ini
melalui badan baru penelitian mengevaluasi keterlibatan orang dengan
keragaman jender dalam laporan yang dirilis hari ini berjudul, Melibatkan Pria Dalam
Gender Inisiatif: Apa Agen Ubah Need To Know. Penelitian
memberikan wawasan yang tak tertandingi dalam advokasi pria untuk kesetaraan jender
di tempat kerja.
Membawa orang ke dalam percakapan keragaman adalah di perusahaan terbaik
bunga dan sangat penting untuk menciptakan kesetaraan dalam kepemimpinan bisnis.
"Para preponderance manusia dalam kepemimpinan berarti upaya mereka
diperlukan untuk memajukan perubahan di tempat kerja, "kata Ilene H. Lang,
Presiden & Chief Executive Officer Catalyst. "Penelitian terus
untuk menunjukkan bahwa keragaman dikelola dengan baik menghasilkan lebih banyak inovasi dan terikat
untuk meningkatkan faktor-faktor kinerja keuangan-baik untuk semua karyawan. "
Ketika ditanya tentang apa yang membuat orang dari yang mendukung inisiatif jender,
beberapa orang yang diwawancarai untuk penelitian ini menunjuk ke sebuah "zero-sum"
mentalitas-sebuah keyakinan bahwa keuntungan bagi perempuan selalu berarti kerugian untuk
laki-laki. Perusahaan secara tidak sengaja dapat mendorong pemikiran ini oleh
melembagakan praktek yang meningkatkan persaingan antara karyawan dan
menempatkan fokus pada satu individu di atas organisasi sebagai
keseluruhan. Pergeseran dari ini "menang atau kalah" mentalitas untuk pengakuan
bahwa semua manfaat dari kesetaraan gender dapat memimpin orang untuk menjadi
lebih besar pendukung perubahan.
Apa adalah beberapa karakteristik yang membuat para pendukung orang untuk gender
kesetaraan? Laporan ini menemukan bahwa pria yang dianggap sebagai pejuang
keragaman memiliki rasa keadilan yang kuat. Pria yang berkomitmen untuk
ideal keadilan ditemukan memiliki hal yang lebih pribadi tentang
isu-isu kesetaraan pada umumnya dan lebih menyadari bias gender dalam
tempat kerja dan kemungkinan untuk mengambil tindakan.
Pria yang diidentifikasi sebagai mengambil tindakan pada keragaman faktor jenis kelamin menunjukkan
yang dapat bekerja sebagai penghalang untuk menjadi juara kesetaraan. Ini
hambatan termasuk dua hambatan untuk keterlibatan laki-laki: rasa takut kehilangan
status atau dianggap sebagai bagian dari masalah, dan sikap apatis-arti
bahwa isu-isu jender pria tidak perhatian.
Organisasi dapat mengambil langkah-langkah untuk membantu menghilangkan hambatan dan terlibat
laki-laki dalam inisiatif untuk mempromosikan kesetaraan gender dengan merujuk pada laki-laki
rasa keadilan, memberikan pria dengan mentor perempuan, laki-laki untuk membuka
laki-laki pemimpin yang juara inklusi, dan laki-laki mengundang ke
diskusi melalui laki-laki saja dan laki-laki / kelompok perempuan. Selain itu,
penelitian menunjukkan bahwa laki-laki memperoleh manfaat pribadi yang signifikan seperti
kesehatan yang lebih baik, kebebasan untuk menjadi diri mereka sendiri, dan kemampuan untuk berbagi
keuangan tanggung jawab dengan pasangan atau pasangan saat bekerja di
bebas dari bias gender tempat.
Pria adalah sumber daya yang besar dan diperlukan dalam memajukan kepemimpinan
peluang bagi perempuan di tempat kerja. Dari bisnis potensial
keberhasilan pertumbuhan baik bagi wanita dan laki-laki, manfaat semua orang ketika laki-laki
dibawa sebagai mitra dalam menciptakan lingkungan kerja gender-inklusif.
The Goldman Sachs Group, Inc adalah Lead Sponsor Eksklusif
Melibatkan Pria dalam Inisiatif Gender: Apa Agen Perubahan Perlu Diketahui,
dengan Ernst & Young LLP sebagai Sponsor Utama, IBM Corporation
Berpartisipasi Sponsor, dan Shell International, BV sebagai Berkontribusi
Sponsor. Untuk informasi lebih lanjut tentang cara sukses melakukan laki-laki dalam
mendukung inisiatif jender silahkan kunjungi www.catalyst.org. Untuk media
pertanyaan, silahkan hubungi Susan Nierenberg, 646-388-7744,
snierenb ... @ catalyst.org; Serena Fong, 646-388-7757,
sf ... @ catalyst.org; atau Jeff Barth, 646-388-7725, jba ... @ catalyst.org.
STUDI TENTANG INI
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode wawancara mendalam dan online
survei. Pria yang telah menunjukkan komitmen yang signifikan untuk menghilangkan
bias gender telah diwawancarai tentang pengalaman kritis dan insiden
yang telah memimpin mereka untuk menjadi pendukung untuk kesetaraan gender. Berdasarkan
wawancara ini, peneliti mengembangkan hipotesis Catalyst tentang
faktor yang diperkirakan laki-laki untuk advokasi kesetaraan gender. Ini
hipotesis diuji melalui survei online termasuk dua orang yang
kelompok yang berbeda-satu kelompok yang terdiri dari orang-orang yang telah diidentifikasi oleh
pihak ketiga ahli sebagai juara kesetaraan gender dan kelompok lain
orang-orang yang telah diidentifikasi sebagai individu yang tidak
memperjuangkan kesetaraan gender.
TENTANG KATALIS
Didirikan pada tahun 1962, Catalyst adalah keanggotaan nirlaba terkemuka
organisasi yang bekerja secara global dengan bisnis dan profesi untuk
inklusif membangun tempat kerja dan memperluas kesempatan bagi perempuan dan
bisnis. Dengan kantor di Amerika Serikat, Kanada, dan Eropa, dan
lebih dari 400 perusahaan unggul sebagai anggota, Katalis adalah
sumber terpercaya untuk penelitian, informasi, dan nasihat tentang wanita
bekerja. Catalyst setiap tahun menghormati inisiatif organisasi teladan
yang mempromosikan kemajuan perempuan dengan Award Catalyst.
Sebab, dibeberapa negara maju, wanita pun kini telah menjadi tulang punggung keluarga. Dan malahan telah banyak wanita yang menjadi pejabat disuatu negara dan mempunyai kedudukan dengan berbagai posisi penting. Sebenarnya wanita lebih suka bebas ia merasa merdeka daripada terkurung dengan kehidupan yang mencukupi, mereka merasa telah dirampas haknya untuk menikmati hidup yang layak menurut mereka. Sedangkan pemikiran feminisme radikal bukanlah jawaban atas perjuangan kesetaraan perempuan, melainkan kesetaraan posisi antara laki-laki dan perempuan dengan keunikannya masing masing.
"Gender tidak akan bisa tercapai jika tidak melibatkan pria. Sebab, peranan seorang pria dalam mewujudkan kesetaraan gender ini sangatlah besar, meskipun gender itu ujung-ujungnya akan tetap menguntungkan pria atau wanita.
Bayangkanlah jika sebagai seorang wirausahawan, perempuan memiliki asetaset yang bisa dipelihara, dia akan memiliki lebih banyak lagi alasan untuk belajar membaca. Menurut dia, banyak wanita sangat potensial dan mahir menjalankan bisnis mikro. Dia sangat merekomendasikan didorongnya program kredit mikro pada semua negara. Tidak hanya negara berkembang, negara maju pun bisa memberlakukan hal yang sama. Sebab, inilah salah satu jalan paling rasional bagi pemberdayaan perempuan sekaligus ekonomi masyarakat.
"Padahal, jika perempuan diberikan kesempatan berkarya, akan banyak sektor sumber mata pencaharian yang bakal tercipta," ungkap wanita yang memperoleh penghargaan Chutzpah Award dari Oprah Winfrey ini.
Kredit mikro tidak hanya bisa diakses wanita, juga pria. Jika sektor bisnis mikro berkembang, pemerintah tidak perlu lagi pusing memikirkan pembukaan lapangan kerja untuk atasi pengangguran. Sebab, lapangan pekerjaan itu akan terbuka dengan sendirinya. Selain itu, bisnis mikro akan membuat terbuka sektor-sektor lapangan kerja lainnya. Sebab, sifat sektor bisnis ini sangat fleksibel.
"Muhammad Yunus dengan Grameen Bank telah membuktikan bahwa bisnis mikro mampu memberi jawaban tantangan pemberdayaan ekonomi masyarakat," papar pengarang yang sangat kontroversial ini.
Irshad yang mendapatkan predikat sebagai feminis abad ke-21 dari majalah Ms membantah bahwa agama sangat bertentangan dengan prinsip-prinsip kesetaraan gender. Dia mencontohkan istri Nabi Muhammad SAW yang menopang perekonomian keluarga sebagai wanita saudagar kaya di Arab pada zamannya. Dengan demikian, pemikiran bahwa wanita muslim tidak boleh berkiprah di luar rumah sangatlah bertentangan dengan ajaran Muhammad. Irshad juga memastikan bahwa ajaranajaran agama lain pun mengajarkan kesetaraan gender.
"Kedua pihak antara pria dan wanita memiliki peran yang unik sehingga tidak bisa dikatakan yang satu mendominasi yang lain. Keduanya harus setara dan bekerja sama," tandas peraih Honor Roll 2004 dari Maclean's sebagai orang Kanada yang sangat berpengaruh.
Menurut dia, ada alasan kuat mengapa wanita muslim harus terlibat dalam kegiatan bisnis mikro. Secara kritis, kapitalisme yang sadar akan Tuhan serta ditopang oleh peran perempuan mungkin bisa menjadi jalan untuk memulai reformasi terhadap kaum hawa itu.
Sebab, di negara-negara mana pun di dunia, termasuk Indonesia, program kredit mikro masih sekadar slogan ketimbang terwujud dalam kenyataan. Alasannya sangat klise. Tidak ada jaminan usaha dan sangat berisiko terjadi kredit macet. Sebab, menurut kubu yang tidak menyukai program kredit mikro ini, pengusaha kecil biasanya tidak disiplin dalam pengembalian kredit.
Padahal, banyak contoh membuktikan bahwa program kredit kecil justru minim kredit macet. Sejak 1980-an, Muhammad Yunus mulai mendirikan Bank Grameen di Bangladesh. Grameen adalah bahasa Bengali untuk "desa" dan bank ini meminjamkan uang dalam jumlah kecil kepada orang yang dianggap tak tersentuh oleh para pemberi pinjaman standar, terutama mereka yang tidak memiliki tanah, yang kebanyakan perempuan.
Saat ini, jika mengandalkan sektor pekerjaan formal, masih merugikan posisi perempuan. Pekerja perempuan selalu mendapatkan gaji lebih rendah dibandingkan laki-laki. Contoh di Kanada, perempuan mendapatkan gaji 25 persen lebih rendah dibandingkan pekerja pria untuk jenis pekerjaan yang sama. Padahal, kualitas hasil pekerjaan yang dikerjakan lakilaki belum tentu selalu lebih baik.
Dukungan Men's Kunci untuk Menciptakan Gender Keanekaragaman di Tempat Kerja,
Menurut Laporan Catalyst (Amerika Serikat)
Rasa keadilan yang kuat terkait dengan kesadaran yang lebih besar dan advokasi
kesetaraan jender
NEW YORK (13 Mei 2009) - Mengapa beberapa orang dukungan keanekaragaman gender dalam
kepemimpinan sementara yang lainnya tidak? Catalyst memeriksa pertanyaan ini
melalui badan baru penelitian mengevaluasi keterlibatan orang dengan
keragaman jender dalam laporan yang dirilis hari ini berjudul, Melibatkan Pria Dalam
Gender Inisiatif: Apa Agen Ubah Need To Know. Penelitian
memberikan wawasan yang tak tertandingi dalam advokasi pria untuk kesetaraan jender
di tempat kerja.
Membawa orang ke dalam percakapan keragaman adalah di perusahaan terbaik
bunga dan sangat penting untuk menciptakan kesetaraan dalam kepemimpinan bisnis.
"Para preponderance manusia dalam kepemimpinan berarti upaya mereka
diperlukan untuk memajukan perubahan di tempat kerja, "kata Ilene H. Lang,
Presiden & Chief Executive Officer Catalyst. "Penelitian terus
untuk menunjukkan bahwa keragaman dikelola dengan baik menghasilkan lebih banyak inovasi dan terikat
untuk meningkatkan faktor-faktor kinerja keuangan-baik untuk semua karyawan. "
Ketika ditanya tentang apa yang membuat orang dari yang mendukung inisiatif jender,
beberapa orang yang diwawancarai untuk penelitian ini menunjuk ke sebuah "zero-sum"
mentalitas-sebuah keyakinan bahwa keuntungan bagi perempuan selalu berarti kerugian untuk
laki-laki. Perusahaan secara tidak sengaja dapat mendorong pemikiran ini oleh
melembagakan praktek yang meningkatkan persaingan antara karyawan dan
menempatkan fokus pada satu individu di atas organisasi sebagai
keseluruhan. Pergeseran dari ini "menang atau kalah" mentalitas untuk pengakuan
bahwa semua manfaat dari kesetaraan gender dapat memimpin orang untuk menjadi
lebih besar pendukung perubahan.
Apa adalah beberapa karakteristik yang membuat para pendukung orang untuk gender
kesetaraan? Laporan ini menemukan bahwa pria yang dianggap sebagai pejuang
keragaman memiliki rasa keadilan yang kuat. Pria yang berkomitmen untuk
ideal keadilan ditemukan memiliki hal yang lebih pribadi tentang
isu-isu kesetaraan pada umumnya dan lebih menyadari bias gender dalam
tempat kerja dan kemungkinan untuk mengambil tindakan.
Pria yang diidentifikasi sebagai mengambil tindakan pada keragaman faktor jenis kelamin menunjukkan
yang dapat bekerja sebagai penghalang untuk menjadi juara kesetaraan. Ini
hambatan termasuk dua hambatan untuk keterlibatan laki-laki: rasa takut kehilangan
status atau dianggap sebagai bagian dari masalah, dan sikap apatis-arti
bahwa isu-isu jender pria tidak perhatian.
Organisasi dapat mengambil langkah-langkah untuk membantu menghilangkan hambatan dan terlibat
laki-laki dalam inisiatif untuk mempromosikan kesetaraan gender dengan merujuk pada laki-laki
rasa keadilan, memberikan pria dengan mentor perempuan, laki-laki untuk membuka
laki-laki pemimpin yang juara inklusi, dan laki-laki mengundang ke
diskusi melalui laki-laki saja dan laki-laki / kelompok perempuan. Selain itu,
penelitian menunjukkan bahwa laki-laki memperoleh manfaat pribadi yang signifikan seperti
kesehatan yang lebih baik, kebebasan untuk menjadi diri mereka sendiri, dan kemampuan untuk berbagi
keuangan tanggung jawab dengan pasangan atau pasangan saat bekerja di
bebas dari bias gender tempat.
Pria adalah sumber daya yang besar dan diperlukan dalam memajukan kepemimpinan
peluang bagi perempuan di tempat kerja. Dari bisnis potensial
keberhasilan pertumbuhan baik bagi wanita dan laki-laki, manfaat semua orang ketika laki-laki
dibawa sebagai mitra dalam menciptakan lingkungan kerja gender-inklusif.
The Goldman Sachs Group, Inc adalah Lead Sponsor Eksklusif
Melibatkan Pria dalam Inisiatif Gender: Apa Agen Perubahan Perlu Diketahui,
dengan Ernst & Young LLP sebagai Sponsor Utama, IBM Corporation
Berpartisipasi Sponsor, dan Shell International, BV sebagai Berkontribusi
Sponsor. Untuk informasi lebih lanjut tentang cara sukses melakukan laki-laki dalam
mendukung inisiatif jender silahkan kunjungi www.catalyst.org. Untuk media
pertanyaan, silahkan hubungi Susan Nierenberg, 646-388-7744,
snierenb ... @ catalyst.org; Serena Fong, 646-388-7757,
sf ... @ catalyst.org; atau Jeff Barth, 646-388-7725, jba ... @ catalyst.org.
STUDI TENTANG INI
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode wawancara mendalam dan online
survei. Pria yang telah menunjukkan komitmen yang signifikan untuk menghilangkan
bias gender telah diwawancarai tentang pengalaman kritis dan insiden
yang telah memimpin mereka untuk menjadi pendukung untuk kesetaraan gender. Berdasarkan
wawancara ini, peneliti mengembangkan hipotesis Catalyst tentang
faktor yang diperkirakan laki-laki untuk advokasi kesetaraan gender. Ini
hipotesis diuji melalui survei online termasuk dua orang yang
kelompok yang berbeda-satu kelompok yang terdiri dari orang-orang yang telah diidentifikasi oleh
pihak ketiga ahli sebagai juara kesetaraan gender dan kelompok lain
orang-orang yang telah diidentifikasi sebagai individu yang tidak
memperjuangkan kesetaraan gender.
TENTANG KATALIS
Didirikan pada tahun 1962, Catalyst adalah keanggotaan nirlaba terkemuka
organisasi yang bekerja secara global dengan bisnis dan profesi untuk
inklusif membangun tempat kerja dan memperluas kesempatan bagi perempuan dan
bisnis. Dengan kantor di Amerika Serikat, Kanada, dan Eropa, dan
lebih dari 400 perusahaan unggul sebagai anggota, Katalis adalah
sumber terpercaya untuk penelitian, informasi, dan nasihat tentang wanita
bekerja. Catalyst setiap tahun menghormati inisiatif organisasi teladan
yang mempromosikan kemajuan perempuan dengan Award Catalyst.
laut
1. Berdasarkan ketentuan pasal 25 A UUD 1945 yang berbunyi, “Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah sebuah negara kepulauan yang berciri nusantara dengan wilayah yang batas-batas dan hak-haknya ditetapkan dengan undang-undang. disini berarti instrumen negara yang terdiri dari Deplu. TNI, Polri, Departemen Pertahanan mempunyai kewenangan legislasi seyogyanya sinergis dan responsif atas permasalahan yang berkenaan dengan ancaman terhadap perbatasan dan kedaulatan NKRI ke dalam Prolegnas (Program Legislasi Nasional). Upaya ini dapat ditempuh dengan jalan mengkaji masalah perbatasan NKRI dengan instansi atau departemen lain yang terkait agar segera mengajukan RUU tentang wilayah perbatasan NKRI kepada DPR untuk segera dibahas dan ditetapkan sebagai undang-undang yang substansinya mampu mengakomodir segala kepentingan nasional bangsa Indonesia yang berkaitan dengan perbatasan wilayah NKRI yang meliputi wilayah daratan maupun perairan.
2. Merubah paradigma pola strategi pengembangan kawasan perbatasan yang hanya menekankan pada aspek keamanan (Security Approach) menjadi pola pengembangan kawasan perbatasan yang bersifat partisipatif untuk menciptakan keamanan dan kesejahteraan bagi masyarakat yang berada didaerah perbatasan baik dibidang politik, ekonomi, sosial/budaya, pertahanan dan keamanan. Hal ini dimaksudkan bahwa, Partisipasi dari para pihak (Pemerintah daerah, mayarakat, pelaku usaha, LSM/NGO yang bergerak di bidang perlindungan Sumber Daya Alam) diharapkan mampu menciptakan stabilitas nasional yang mantap dan dinamis sebagai modal dasar terciptanya pembangunan nasional dan wujud dari pelaksanaan tata pemerintahan yang baik (good governance).
3. Membangun startegi pengembangan kawasan perbatasan yang berbasis Multy stake holders participation. hal ini dimaksudkan untuk menempatkan peran serta dari warga negara tidak hanya sebagai obyek pembangunan akan tetapi juga sebagai subyek atau aktor penggerak pembangunan nasional yang besifat menyeluruh. Oleh sebab itu kerangka pembuatan kebijakan yang bersifat bottom-up akan memberikan dampak yaitu terciptanya kepercayaan masyarakat kepada pemerintah.
4. Mengadakan kerjasama dengan Instansi/Departemen lain yang terkait untuk melakukan Pemberdayaan masyarakat. Pemberdayaan masyarakat di kawasan perbatasan sangat diperlukan dalam rangka menanggulangi kemiskinan, meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan sosial masyarakat dalam segala aspek jasmani, rohani, dan sosial. Oleh karena itu, pemberdayaan masyarakat selain dilakukan melalui subsidi pendidikan, (penanaman nilai-nilai wawasan nusantara, pendidikan bela negara) dan penyuluhan, juga harus diikuti dengan penyediaan infrastruktur dasar seperti penyediaan fasilitas kesehatan, pemukiman layak huni, air bersih, dan listrik serta tempat kegiatan usaha yang sesuai dengan sumber daya yang tersedia di lingkungannya.
5. Mengadakan kerjasama dengan aparat penegak hukum, Pemerintah Daerah, instansi/Departemen, LSM/NGO, dan masyarakat untuk membentuk badan pengawas daerah perbatasan serta mengoptimalkan pos-pos penjagaan dengan fasilitas (sarana dan Prasarana) yang memadai. Disamping itu peningkatan kualitas Sumber daya Manusia dan profesionalisme juga diperlukan guna meningkatkan kepercayaan masyarakat kepada pemerintah.
6. Urgensi peran Bakorkamla untuk berkoordinasi dengan Departemen Luar Negeri untuk mendorong dan mewujudkan pelaksanaan diplomasi yang lebih arif, objektif dan konstruktif sebagai landasan penerapan good neighbouring policy yang perlu dilakukan secara resiprokal dan komprehensif. Hal ini diperlukan mengingat substansi perbatasan, isu-isu sengketa wilayah juga banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor perbedaan kondisi sosial-budaya, ekonomi, serta kemampuan pengawasan terhadap wilayah perbatasan yang dimiliki kedua negara. Oleh karenanya, urgensi border dispute settlement dipandang penting mengingat pengaruhnya yang kuat terhadap stabilitas kawasan.
Implementasi pilar-pilar strategis pengembangan kawasan perbatasan yang bersifat partisipatif dan holistik yang dijalankan oleh segenap in strumen negara yang bersinergi dengan masyarakat diharapkan mampu meningkatkan peran serta dari masyarakat, LSM, dan instrumen negara dalam menjaga dan mempertahankan keutuhan wilayah dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
D. KESIMPULAN
Berdasarkan uraian diatas menunjukkan bahwa masih terdapat kendala-kendala yang dihadapi dalam proses penjagaan terhadap kedaulatan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang meliputi wilayah daratan dan perairan. Badan Koordinasi Keamanan Laut (Bakorkamla RI) sebagai bagian dari kekuatan militer dan institusi negara yang lain seperti Deplu, Dephan, TNI dan Polri mempunyai peran strategis untuk menjaga dan mempertahankan wilayah perairan Republik Indonesia dari segala bentuk ancaman baik yang sifatnya intern maupun ekstern.
“Nenek moyangku orang pelaut, gemar mengarung luas samudra, menerjang ombak tiada takut, menempuh badai sudah biasa…”
Dengan lagu tersebut, tak seorangpun seharusnya menyangkal keberadaan negara Indonesia sebagai negara maritim atau negara kelautan. Tapi dengan potensi kelautan yang sungguh luar biasa,hingga kini pengelolaan dan pengembangannya masih saja terkendala.
Hal tersebut dikeluhkan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X saat menerima kunjungan kehormatan Duta Besar Norwegia untuk Indonesia yang baru, Eivind S. Homme di Gedung Wilis, Kepatihan, Yogyakarta, Selasa (03/02/09).
Menurut Sultan, Karena sistem pendidikan kita yang mayoritas berbasis agraris, pengembangan potensi maritim kita selalu mendapatkan kendala dari sisi Sumber Daya Manusia (SDM).
“Pendidikan kita hampir seluruhnya berbasis agraris, sehingga untuk mengembangkan potensi laut terkait dengan Sumber Daya Manusianya menghadapi kendala,” keluh Sultan.
Untuk memanfaatkan potensi maritim yang ada, Sultan menghimbau agar nantinya Perguruan Tinggi di Indonesia mengakomdasi maritim atau kelautan untuk menjadi bagian dari disiplin akademik mereka.
Ada indikasi bahwa terjadi manipulasi data pertumbuhan ekonomi sebagaimana awalnya dinyatakan oleh BPS yaitu Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi 6,35 persen dan dilain pihak Departemen Keuangan . Beberapa waktu lalu BPS (Badan Pusat Statistik) memaparkan data bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I tahun 2005 mencapai 6,35 persen. Ini merupakan prestasi menakjubkan setelah pasca krisis ekonomi 1997 yang menghempaskan ekonomi Indonesia. Tidak ketinggalan IMF pun turut memuji Indonesia dengan mengatakan bahwa pertumbuhan PDB (pendapatan domestik bruto) dan sektor investasi pada triwulan pertama 2005 menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang pesat dengan angka kuantitatif 5,5 persen. Namun jangan gembira dulu, fakta lain berbicara bahwa ada anak menderita busung lapar di Mataram, NTB, seorang ibu menggadaikan anak kembarnya karena tidak mampu membayar persalinan, 545.364 penduduk Lampung terkategori miskin, dan banyak lagi paparan yang memilukan tentang Indonesia yang tidak diberikan oleh media. Bayangkan saja, 16 persen atau 40 juta penduduk Indonesia dari 210 juta masih miskin! Kemudian orang awan akan bertanya buat apa data pertumbuhan ekonomi tinggi, kalau kami tidak mampu makan, berobat, dan menyekolahkan anak-anak kami?
Hampir tidak ada yang membantah bahwa ekonomi Indonesia sudah tumbuh pesat pasca krisis, bahkan wartawan Amerika Serikat yang tergabung dalam Jefferson Fellowship dan baru pertama kalinya berkunjung ke Indonesia serta Asia mengaku tercengang melihat kemajuan Jakarta (Tajuk Rencana Kompas, 20/5 2005). Dalam benak saya, mungkin para wartawan mengasumsikan citra Indonesia sebagai negara terbelakang seperti kota-kota Asia umumnya namun ternyata “bak kota New York”. Namun keterpanaan para wartawan kembali terjadi tatkala melihat banyaknya anak jalanan di pinggir jalan Jakarta. Menakjubkan kesenjangan Jakarta, bahkan ini potret riil dari Indonesia!
Pertumbuhan Ekonomi dan Kesejahteraan
Kita kerap disajikan dengan berbagai data statistik dengan perhitungan yang njlimet, dengan metode kuantitatif canggih, dan dalil-dalil ekonomi yang luar biasa “melenakan”. Sebut saja misalnya, argumentasi para ekonom ketika menyatakan bahwa kenaikan harga BBM yang akan mengurangi jumlah angka kemiskinan secara signifikan. Betul memang, namun mengurangi jumlah kemiskinan bukan berarti karena meningkat kesejahteraannya, namun karena naik pesatnya angka mortalitas karena ketidakmampuan penduduk miskin untuk mendapatkan akses pendidikan, kesehatan layak, rumah layak, dan makan yang cukup.
Selalu saja para ekonom neoliberal menandaskan suatu keniscayaan bahwa untuk mengurai kemiskinan tidak lain dengan jalan percepatan pertumbuhan ekonomi. Asumsinya bahwa tingkat pertumbuhan ekonomi akan membawa pemerataan melalui ”mekanisme menetes ke bawah” (tricle down effect). Namun apa yang terjadi? Sudah lebih dari dua dasawarsa ekonomii kita terintegrasi dalam pasar bebas, pertumbuhan ekspor yang tinggi, namun di dalam negeri jurang kemiskinan, tak kunjung rapat justru makin menganga lebar. Belum lagi persoalan kelembagaan birokrasi kita yang sangat korup sehingga berbagai program pemerintah hanya berhenti di tengah-tengah dan target sasaran (beneficiaries) hanya mendapatkan ”remah” dari program tersebut. Sebut saja misalnya program raskin (beras untuk rakyat miskin), yang banyak diselewengkan bahkan dijual oleh aparat-aparat lurah. Belum lagi dana kompensasi BBM yang dikatakan akan dapat membantu sektor-sektor pendidikan dan kesehatan. Namun hingga sekarang belum nampak realisasi. Dan publik sudah terlanjut apatis bahwa dana-dana itu tidak dikorupsi mengingat pengalaman yang sudah berjalan selama ini.
Ada beberapa persoalan mendasar terkait dengan penyaluran program-program pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan. Pertama, tidak adanya kelembagaan yang akuntabel yang menjamin program tersebut tepat sasaran dan tepat guna. Yang terjadi selama ini adalah dana-dana tersebut justru makin memperpanjang rantai korupsi dari pusat sampai daerah. Kedua, alokasi dana-dana tersebut tidak berbasis pada kemampuan atau potensi dari target sasaran. Sehingga dengan berbesar hati kalau pun dana tersebut sampai pada sasaran, belum efektif untuk meningkatkan kesejahteraan.
Dari program pembangunan selama ini hanya terpusat di Jakarta, dan beberapa kota besar di Jawa, hanya sedikit yang berada di Indonesia Timur. Betul bahwa sekarang ini sudah berubah sejak adanya desentralisasi dan banyak investor menanamkan modalnya di Indonesia Timur khususnya, dan daerah-daerah pada umumnya. Namun harus diingat bahwa selain meningkatnya investasi di daerah juga terjadi eskalasi korupsi di daerah. Ini bukan lagi isapan jempol. Korupsi sekarang ini bukan lagi “kerjaan” orang Jakarta, namun pejabat-pejabat daerah juga sudah mulai kebagian. Lihat saja berapa banyak kasus anggota DPRD, Gubernur, Bupati yang telah dikenaikan tuduhan korupsi! Hal ini makin menyakinkan bahwa persoalan kemiskinan tidak bisa ditumpukan dengan percepatan pertumbuhan ekonomi. Bisa jadi memang terjadi pertumbuhan ekonomi seperti yang diungkapkan oleh BPS, namun berapa persen yang menikmati pertumbuhan ekonomi tersebut?
Jadi sangat naïf apabila mengaitkan tingkat pertumbuhan ekonomi dengan meratanya tingkat kesejahteraan. Besar kemungkinan tingkat pertumbuhan ekonomi tersebut hanya didorong oleh konsumsi, dan kalau pun tidak hanya dinikmati oleh minoritas yang dalam lingkar ekonomi dan kekuasaan. Sehingga yang terjadi kemudian adalah kesenjangan ekonomi yang sangat tinggi. Jangan heran bilamana ada orang yang berpenghasilan ratusan juta rupiah, namun di pihak lain ada penduduk yang tidak mampu makan dalam sehari.
Kembali ke Ekonomi Pertanian
Kita patut puji dan dengan besar hati harus opmitis dengan gagasan pemerintah untuk melakukan Revitalisasi Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (RPPK) untuk jangka waktu 5 tahun ke depan. RPPK merupakan program menyeluruh untuk memberdayakan kehidupan perekonomian petani dan masyarakat pedesaan, yang bertujuan untuk mengurangi kemiskinan dan pengangguran serta meningkatkan pertumbuhan pertanian rata-rata sebesar 3,5% per tahun. Ini merupakan satu langkah terobosan untuk memperhatikan sektor yang selama ini dipandang sebelah mata. Padahal sektor-sektor tersebut merupakan penopang kehidupan rakyat banyak dan menjadi mata pencaharian mayoritas penduduk. Namun hingga sekarang tidak ada kebijakan menyeluruh untuk meningkatkan kesejahteraan para pelaku didalamnya. Petani, dan nelayan tidak pernah hampir tersentuh program pemerintah. Kalaupun tersentuh itu hanya menguntungkan di level tengah yang banyak dikuasai oleh broker/ perantara, sedangkan petani dan nelayannya sendiri jauh dari hidup sejahtera.
Diperlukan dukungan dari seluruh pihak sehingga program pemerintah ini bukan sekedar lip service. Gagasan yang cukup brilian adalah mengalokasikan 15 juta lahan pertanian abadi. Bilamana hal ini terealisasi maka kita sudah tidak perlu mengimpor beras lagi. Dan dalam jangka panjang, kedaulatan pangan (food sovereignity) kita juga terjamin karena tidak ada ketergantungan dengan bangsa lain seperti selama ini terjadi. Apalagi didukung oleh program pertanian organik yang gagas oleh Departemen Pertanian, akan makin mengokohkan posisi Indonesia untuk mengatasi persoalan pangan. Demikian juga dengan sektor perikanan. Permintaan yang besar terhadap produk perikanan harus dimanfaatkan secara optimal terutama untuk memenuhi pasar domestik. Selain itu menjadi pekerjaan rumah pemerintah untuk meningkatkan nilai tambah (value added) dari sektor ini. Di sektor kehutanan, walaupun disertai dengan pesimisme, patut diuji kebijakan pemerintah untuk menjamin adanya kepemilikan hutan rakyat yang dikelola secara adat. Pembalakan hutan yang merajalela sekarang ini telah mengikis tanah adat dan kerusakan lingkungan yang parah dapat direduksi bertahap secara siginifikan.
2. Merubah paradigma pola strategi pengembangan kawasan perbatasan yang hanya menekankan pada aspek keamanan (Security Approach) menjadi pola pengembangan kawasan perbatasan yang bersifat partisipatif untuk menciptakan keamanan dan kesejahteraan bagi masyarakat yang berada didaerah perbatasan baik dibidang politik, ekonomi, sosial/budaya, pertahanan dan keamanan. Hal ini dimaksudkan bahwa, Partisipasi dari para pihak (Pemerintah daerah, mayarakat, pelaku usaha, LSM/NGO yang bergerak di bidang perlindungan Sumber Daya Alam) diharapkan mampu menciptakan stabilitas nasional yang mantap dan dinamis sebagai modal dasar terciptanya pembangunan nasional dan wujud dari pelaksanaan tata pemerintahan yang baik (good governance).
3. Membangun startegi pengembangan kawasan perbatasan yang berbasis Multy stake holders participation. hal ini dimaksudkan untuk menempatkan peran serta dari warga negara tidak hanya sebagai obyek pembangunan akan tetapi juga sebagai subyek atau aktor penggerak pembangunan nasional yang besifat menyeluruh. Oleh sebab itu kerangka pembuatan kebijakan yang bersifat bottom-up akan memberikan dampak yaitu terciptanya kepercayaan masyarakat kepada pemerintah.
4. Mengadakan kerjasama dengan Instansi/Departemen lain yang terkait untuk melakukan Pemberdayaan masyarakat. Pemberdayaan masyarakat di kawasan perbatasan sangat diperlukan dalam rangka menanggulangi kemiskinan, meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan sosial masyarakat dalam segala aspek jasmani, rohani, dan sosial. Oleh karena itu, pemberdayaan masyarakat selain dilakukan melalui subsidi pendidikan, (penanaman nilai-nilai wawasan nusantara, pendidikan bela negara) dan penyuluhan, juga harus diikuti dengan penyediaan infrastruktur dasar seperti penyediaan fasilitas kesehatan, pemukiman layak huni, air bersih, dan listrik serta tempat kegiatan usaha yang sesuai dengan sumber daya yang tersedia di lingkungannya.
5. Mengadakan kerjasama dengan aparat penegak hukum, Pemerintah Daerah, instansi/Departemen, LSM/NGO, dan masyarakat untuk membentuk badan pengawas daerah perbatasan serta mengoptimalkan pos-pos penjagaan dengan fasilitas (sarana dan Prasarana) yang memadai. Disamping itu peningkatan kualitas Sumber daya Manusia dan profesionalisme juga diperlukan guna meningkatkan kepercayaan masyarakat kepada pemerintah.
6. Urgensi peran Bakorkamla untuk berkoordinasi dengan Departemen Luar Negeri untuk mendorong dan mewujudkan pelaksanaan diplomasi yang lebih arif, objektif dan konstruktif sebagai landasan penerapan good neighbouring policy yang perlu dilakukan secara resiprokal dan komprehensif. Hal ini diperlukan mengingat substansi perbatasan, isu-isu sengketa wilayah juga banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor perbedaan kondisi sosial-budaya, ekonomi, serta kemampuan pengawasan terhadap wilayah perbatasan yang dimiliki kedua negara. Oleh karenanya, urgensi border dispute settlement dipandang penting mengingat pengaruhnya yang kuat terhadap stabilitas kawasan.
Implementasi pilar-pilar strategis pengembangan kawasan perbatasan yang bersifat partisipatif dan holistik yang dijalankan oleh segenap in strumen negara yang bersinergi dengan masyarakat diharapkan mampu meningkatkan peran serta dari masyarakat, LSM, dan instrumen negara dalam menjaga dan mempertahankan keutuhan wilayah dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
D. KESIMPULAN
Berdasarkan uraian diatas menunjukkan bahwa masih terdapat kendala-kendala yang dihadapi dalam proses penjagaan terhadap kedaulatan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang meliputi wilayah daratan dan perairan. Badan Koordinasi Keamanan Laut (Bakorkamla RI) sebagai bagian dari kekuatan militer dan institusi negara yang lain seperti Deplu, Dephan, TNI dan Polri mempunyai peran strategis untuk menjaga dan mempertahankan wilayah perairan Republik Indonesia dari segala bentuk ancaman baik yang sifatnya intern maupun ekstern.
“Nenek moyangku orang pelaut, gemar mengarung luas samudra, menerjang ombak tiada takut, menempuh badai sudah biasa…”
Dengan lagu tersebut, tak seorangpun seharusnya menyangkal keberadaan negara Indonesia sebagai negara maritim atau negara kelautan. Tapi dengan potensi kelautan yang sungguh luar biasa,hingga kini pengelolaan dan pengembangannya masih saja terkendala.
Hal tersebut dikeluhkan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X saat menerima kunjungan kehormatan Duta Besar Norwegia untuk Indonesia yang baru, Eivind S. Homme di Gedung Wilis, Kepatihan, Yogyakarta, Selasa (03/02/09).
Menurut Sultan, Karena sistem pendidikan kita yang mayoritas berbasis agraris, pengembangan potensi maritim kita selalu mendapatkan kendala dari sisi Sumber Daya Manusia (SDM).
“Pendidikan kita hampir seluruhnya berbasis agraris, sehingga untuk mengembangkan potensi laut terkait dengan Sumber Daya Manusianya menghadapi kendala,” keluh Sultan.
Untuk memanfaatkan potensi maritim yang ada, Sultan menghimbau agar nantinya Perguruan Tinggi di Indonesia mengakomdasi maritim atau kelautan untuk menjadi bagian dari disiplin akademik mereka.
Ada indikasi bahwa terjadi manipulasi data pertumbuhan ekonomi sebagaimana awalnya dinyatakan oleh BPS yaitu Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi 6,35 persen dan dilain pihak Departemen Keuangan . Beberapa waktu lalu BPS (Badan Pusat Statistik) memaparkan data bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I tahun 2005 mencapai 6,35 persen. Ini merupakan prestasi menakjubkan setelah pasca krisis ekonomi 1997 yang menghempaskan ekonomi Indonesia. Tidak ketinggalan IMF pun turut memuji Indonesia dengan mengatakan bahwa pertumbuhan PDB (pendapatan domestik bruto) dan sektor investasi pada triwulan pertama 2005 menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang pesat dengan angka kuantitatif 5,5 persen. Namun jangan gembira dulu, fakta lain berbicara bahwa ada anak menderita busung lapar di Mataram, NTB, seorang ibu menggadaikan anak kembarnya karena tidak mampu membayar persalinan, 545.364 penduduk Lampung terkategori miskin, dan banyak lagi paparan yang memilukan tentang Indonesia yang tidak diberikan oleh media. Bayangkan saja, 16 persen atau 40 juta penduduk Indonesia dari 210 juta masih miskin! Kemudian orang awan akan bertanya buat apa data pertumbuhan ekonomi tinggi, kalau kami tidak mampu makan, berobat, dan menyekolahkan anak-anak kami?
Hampir tidak ada yang membantah bahwa ekonomi Indonesia sudah tumbuh pesat pasca krisis, bahkan wartawan Amerika Serikat yang tergabung dalam Jefferson Fellowship dan baru pertama kalinya berkunjung ke Indonesia serta Asia mengaku tercengang melihat kemajuan Jakarta (Tajuk Rencana Kompas, 20/5 2005). Dalam benak saya, mungkin para wartawan mengasumsikan citra Indonesia sebagai negara terbelakang seperti kota-kota Asia umumnya namun ternyata “bak kota New York”. Namun keterpanaan para wartawan kembali terjadi tatkala melihat banyaknya anak jalanan di pinggir jalan Jakarta. Menakjubkan kesenjangan Jakarta, bahkan ini potret riil dari Indonesia!
Pertumbuhan Ekonomi dan Kesejahteraan
Kita kerap disajikan dengan berbagai data statistik dengan perhitungan yang njlimet, dengan metode kuantitatif canggih, dan dalil-dalil ekonomi yang luar biasa “melenakan”. Sebut saja misalnya, argumentasi para ekonom ketika menyatakan bahwa kenaikan harga BBM yang akan mengurangi jumlah angka kemiskinan secara signifikan. Betul memang, namun mengurangi jumlah kemiskinan bukan berarti karena meningkat kesejahteraannya, namun karena naik pesatnya angka mortalitas karena ketidakmampuan penduduk miskin untuk mendapatkan akses pendidikan, kesehatan layak, rumah layak, dan makan yang cukup.
Selalu saja para ekonom neoliberal menandaskan suatu keniscayaan bahwa untuk mengurai kemiskinan tidak lain dengan jalan percepatan pertumbuhan ekonomi. Asumsinya bahwa tingkat pertumbuhan ekonomi akan membawa pemerataan melalui ”mekanisme menetes ke bawah” (tricle down effect). Namun apa yang terjadi? Sudah lebih dari dua dasawarsa ekonomii kita terintegrasi dalam pasar bebas, pertumbuhan ekspor yang tinggi, namun di dalam negeri jurang kemiskinan, tak kunjung rapat justru makin menganga lebar. Belum lagi persoalan kelembagaan birokrasi kita yang sangat korup sehingga berbagai program pemerintah hanya berhenti di tengah-tengah dan target sasaran (beneficiaries) hanya mendapatkan ”remah” dari program tersebut. Sebut saja misalnya program raskin (beras untuk rakyat miskin), yang banyak diselewengkan bahkan dijual oleh aparat-aparat lurah. Belum lagi dana kompensasi BBM yang dikatakan akan dapat membantu sektor-sektor pendidikan dan kesehatan. Namun hingga sekarang belum nampak realisasi. Dan publik sudah terlanjut apatis bahwa dana-dana itu tidak dikorupsi mengingat pengalaman yang sudah berjalan selama ini.
Ada beberapa persoalan mendasar terkait dengan penyaluran program-program pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan. Pertama, tidak adanya kelembagaan yang akuntabel yang menjamin program tersebut tepat sasaran dan tepat guna. Yang terjadi selama ini adalah dana-dana tersebut justru makin memperpanjang rantai korupsi dari pusat sampai daerah. Kedua, alokasi dana-dana tersebut tidak berbasis pada kemampuan atau potensi dari target sasaran. Sehingga dengan berbesar hati kalau pun dana tersebut sampai pada sasaran, belum efektif untuk meningkatkan kesejahteraan.
Dari program pembangunan selama ini hanya terpusat di Jakarta, dan beberapa kota besar di Jawa, hanya sedikit yang berada di Indonesia Timur. Betul bahwa sekarang ini sudah berubah sejak adanya desentralisasi dan banyak investor menanamkan modalnya di Indonesia Timur khususnya, dan daerah-daerah pada umumnya. Namun harus diingat bahwa selain meningkatnya investasi di daerah juga terjadi eskalasi korupsi di daerah. Ini bukan lagi isapan jempol. Korupsi sekarang ini bukan lagi “kerjaan” orang Jakarta, namun pejabat-pejabat daerah juga sudah mulai kebagian. Lihat saja berapa banyak kasus anggota DPRD, Gubernur, Bupati yang telah dikenaikan tuduhan korupsi! Hal ini makin menyakinkan bahwa persoalan kemiskinan tidak bisa ditumpukan dengan percepatan pertumbuhan ekonomi. Bisa jadi memang terjadi pertumbuhan ekonomi seperti yang diungkapkan oleh BPS, namun berapa persen yang menikmati pertumbuhan ekonomi tersebut?
Jadi sangat naïf apabila mengaitkan tingkat pertumbuhan ekonomi dengan meratanya tingkat kesejahteraan. Besar kemungkinan tingkat pertumbuhan ekonomi tersebut hanya didorong oleh konsumsi, dan kalau pun tidak hanya dinikmati oleh minoritas yang dalam lingkar ekonomi dan kekuasaan. Sehingga yang terjadi kemudian adalah kesenjangan ekonomi yang sangat tinggi. Jangan heran bilamana ada orang yang berpenghasilan ratusan juta rupiah, namun di pihak lain ada penduduk yang tidak mampu makan dalam sehari.
Kembali ke Ekonomi Pertanian
Kita patut puji dan dengan besar hati harus opmitis dengan gagasan pemerintah untuk melakukan Revitalisasi Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (RPPK) untuk jangka waktu 5 tahun ke depan. RPPK merupakan program menyeluruh untuk memberdayakan kehidupan perekonomian petani dan masyarakat pedesaan, yang bertujuan untuk mengurangi kemiskinan dan pengangguran serta meningkatkan pertumbuhan pertanian rata-rata sebesar 3,5% per tahun. Ini merupakan satu langkah terobosan untuk memperhatikan sektor yang selama ini dipandang sebelah mata. Padahal sektor-sektor tersebut merupakan penopang kehidupan rakyat banyak dan menjadi mata pencaharian mayoritas penduduk. Namun hingga sekarang tidak ada kebijakan menyeluruh untuk meningkatkan kesejahteraan para pelaku didalamnya. Petani, dan nelayan tidak pernah hampir tersentuh program pemerintah. Kalaupun tersentuh itu hanya menguntungkan di level tengah yang banyak dikuasai oleh broker/ perantara, sedangkan petani dan nelayannya sendiri jauh dari hidup sejahtera.
Diperlukan dukungan dari seluruh pihak sehingga program pemerintah ini bukan sekedar lip service. Gagasan yang cukup brilian adalah mengalokasikan 15 juta lahan pertanian abadi. Bilamana hal ini terealisasi maka kita sudah tidak perlu mengimpor beras lagi. Dan dalam jangka panjang, kedaulatan pangan (food sovereignity) kita juga terjamin karena tidak ada ketergantungan dengan bangsa lain seperti selama ini terjadi. Apalagi didukung oleh program pertanian organik yang gagas oleh Departemen Pertanian, akan makin mengokohkan posisi Indonesia untuk mengatasi persoalan pangan. Demikian juga dengan sektor perikanan. Permintaan yang besar terhadap produk perikanan harus dimanfaatkan secara optimal terutama untuk memenuhi pasar domestik. Selain itu menjadi pekerjaan rumah pemerintah untuk meningkatkan nilai tambah (value added) dari sektor ini. Di sektor kehutanan, walaupun disertai dengan pesimisme, patut diuji kebijakan pemerintah untuk menjamin adanya kepemilikan hutan rakyat yang dikelola secara adat. Pembalakan hutan yang merajalela sekarang ini telah mengikis tanah adat dan kerusakan lingkungan yang parah dapat direduksi bertahap secara siginifikan.
Jumat, 23 April 2010
Los Lambuang Dalam Pilkada
Los Lambuang Dalam Pilkada
Los lambuang adalah central warkop yang cukup besar, terletak dipasar kurai taji pariaman. Dalam suasana pilkada sangat ramai
Los lambuang adalah central warkop yang cukup besar, terletak dipasar kurai taji pariaman. Dalam suasana pilkada sangat ramai
Kamis, 22 April 2010
Pilkada Hemat, Dekatilah Komunitas Sejati
Pilkada Hemat, Dekatilah Komunitas Sejati
Komunitas sejati adalah organisasi/perkumpulan yang mempunyai aktifitas berdasarkan hobby atau aktifitas peningkatan penghasilan. Seperti : komunitas olahraga (persatuan sepak bola, persatuan bulu tangkis, persatuan basket, takraw dll), komunitas hobby ( perkumpulan vespa/skuter, sepeda motor, anak band, pemancing ikan, olahraga buru babi dll) komunitas aktifitas (petani, nelayan, pedagang kecil dll).
mendekati Komunitas ini Sangatlah mudah, dan ongkos politiknya pun bisa dikatakan kecil. Tingkat kejujurannya pun bisa diharapkan, karena komunitas ini lebih kompak dan mereka tidaklah begitu mengharapkan amplop-amplop, karena yang penting oleh mereka perencanaan program yang ditawarkan betul-betul masuk akal, menyentuh, tepat sasaran dan dapat mengembangkan hobby/bakat serta penghasilan.
Misalnya saja komunitas olahraga, calon kepala daerah mungkin dapat menawarkan/membuat program turnamen yang sifatnya berkelanjutan di tiap tahun dan kejuaraan serta pelatihan untuk peningkatan kualitas atlit olah raga.
Begitu juga komunitas hobby, mereka yang tergabung dalam komunitas ini hanyalah karena hobby semata. bergabung dikomunitas ini tidaklah susah, kita bisa ikut serta dalam berbagai kegiatan yang diadakan oleh komunitas ini. karena acara komunitas ini telah teragenda dengan sendirinya. contoh : agenda pemancingan ikan larangan, olah raga buru babi, festival anak Band, touring klub vespa/sepeda motor. semuanya ini telah ada jadwal rutinnya pada masing-masing kegiatan hobby.
lihat juga komunitas aktifitas, komunitas ini sebenarnya dapat dijangkau dengan mudah. sebab kita dapat menemuinya dimana saja. program yang ditawarkan hendaknya betul-betul akan memperjuangkan nasib mereka, seperti : program peningkatan hasil, program pemasaran hasil, program lanjutan dll.
Dengan Face to Face mungkin akan lebih menyentuh pemilih, karena itu adalah salah satu cara menunjukkan kepedulian kepada para calon pemilih.
Semoga bisa bermanfaat menekan anggaran belanja biaya kampanye yang sudah hampir dekat, dan anggaran-anggaran siluman yang ditawarkan para broker yang tak kunjung manfaatnya.(fredi f.jambak)
Komunitas sejati adalah organisasi/perkumpulan yang mempunyai aktifitas berdasarkan hobby atau aktifitas peningkatan penghasilan. Seperti : komunitas olahraga (persatuan sepak bola, persatuan bulu tangkis, persatuan basket, takraw dll), komunitas hobby ( perkumpulan vespa/skuter, sepeda motor, anak band, pemancing ikan, olahraga buru babi dll) komunitas aktifitas (petani, nelayan, pedagang kecil dll).
mendekati Komunitas ini Sangatlah mudah, dan ongkos politiknya pun bisa dikatakan kecil. Tingkat kejujurannya pun bisa diharapkan, karena komunitas ini lebih kompak dan mereka tidaklah begitu mengharapkan amplop-amplop, karena yang penting oleh mereka perencanaan program yang ditawarkan betul-betul masuk akal, menyentuh, tepat sasaran dan dapat mengembangkan hobby/bakat serta penghasilan.
Misalnya saja komunitas olahraga, calon kepala daerah mungkin dapat menawarkan/membuat program turnamen yang sifatnya berkelanjutan di tiap tahun dan kejuaraan serta pelatihan untuk peningkatan kualitas atlit olah raga.
Begitu juga komunitas hobby, mereka yang tergabung dalam komunitas ini hanyalah karena hobby semata. bergabung dikomunitas ini tidaklah susah, kita bisa ikut serta dalam berbagai kegiatan yang diadakan oleh komunitas ini. karena acara komunitas ini telah teragenda dengan sendirinya. contoh : agenda pemancingan ikan larangan, olah raga buru babi, festival anak Band, touring klub vespa/sepeda motor. semuanya ini telah ada jadwal rutinnya pada masing-masing kegiatan hobby.
lihat juga komunitas aktifitas, komunitas ini sebenarnya dapat dijangkau dengan mudah. sebab kita dapat menemuinya dimana saja. program yang ditawarkan hendaknya betul-betul akan memperjuangkan nasib mereka, seperti : program peningkatan hasil, program pemasaran hasil, program lanjutan dll.
Dengan Face to Face mungkin akan lebih menyentuh pemilih, karena itu adalah salah satu cara menunjukkan kepedulian kepada para calon pemilih.
Semoga bisa bermanfaat menekan anggaran belanja biaya kampanye yang sudah hampir dekat, dan anggaran-anggaran siluman yang ditawarkan para broker yang tak kunjung manfaatnya.(fredi f.jambak)
Langganan:
Postingan (Atom)